Latihan berskala basar tersebut, yang diluncurkan pada hari Minggu (22/11), utamanya ditujukan untuk mengembangkan kemampuan pertahanan terhadap kemungkinan serangan terhadap pembangkit nuklir Iran.
“Sistem pertahanan udara baru milik Kementerian Pertahanan Iran akan diujicoba dalam latihan Aseman-e-Velayat 2,” kata Menteri Pertahanan Iran, Ahmad Vahidi pada hari Minggu.
Aseman-e-Velayat 2 disebut-sebut sebagai latihan militer terbesar Iran yang pernah dilaksanakan. Menteri Iran tersebut menambahkan bahwa disaat pengiriman sistem peluru kendali darat-udara S-300 buatan Rusia terus saja terhambat, Kementerian Pertahanan Iran memutuskan untuk merancang dan merakit sendiri sistem pertahanan udara untuk dipergunakan.
Rusia dan Iran telah mencapai kesepakatan perihal penjualan sistem pertahanan S-300 pada bulan Desember 2007. Sejumlah laporan mengklaim bahwa kontrak Rusia dan Iran dalam penjualan sistem pertahanan S-300 bernilai $800 juta.
Akan tetapi, Rusia berulangkali menunda pengiriman sistem pertahanan peluru kendali canggih, yang dirancang untuk menembak jatuh pesawat musuh dan juga menghancurkan peluru kendali lawan, tersebut.
Sebelumnya, pada bulan November lalu, Vahidi mengkritik Rusia atas penundaan terus menerus tersebut, ia mengatakan bahwa Moskow memiliki kewajiban kontrak untuk mengirimkan sistem tersebut kepada Iran.
Rusia juga molor dari jadwal dalam peluncuran pembangkit nuklir Bushehr, yang berlokasi di sebelah tenggara Iran.
Pembangkit tersebut sejatinya dijadwalkan untuk selesai pada tahun 1999, namun penyelesaian proyek tersebut terus saja ditunda, dan bahkan setelah sepuluh tahun, Moskow masih juga menunda peluncuran fasilitas tersebut.
Rusia selalu berdalih bahwa alasan penundaan berkepanjangan tersebut adalah “masalah teknis”, Rusia menampik tudingan bahwa penundaan tersebut mengandung motif politik.
Sementara itu, seorang komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada hari Minggu melontarkan peringatan bahwa Iran akan menghancurkan setiap upaya untuk menyerang negara tersebut. Ia menambahkan bahwa Iran memiliki kemampuan pertahanan yang mumpuni untuk menembak jatuh pesawat-pesawat canggih Israel.
“Kami pastikan, jika sampai terjadi serangan, maka pesawat-pesawat F-15 dan F-16 Zionis akan terperangkap oleh sistem pertahanan udara kami untuk kemudian dihancurkan,” kata komandan pasukan udara IRGC, Brigadir Jenderal Amir Ali Hajizadeh.
“Dan jika ada satu saja pesawat Zionis yang mampu lolos dari sistem pertahanan udara Iran, maka sebelum pesawat itu sempat mendarat di pangkalan udaranya, pesawat tersebut akan dihancurkan oleh peluru kendali darat kami,” kata sang komandan di tengah meningkatnya retorika perang Israel yang menentang program nuklir damai Iran.
“Zionis boleh saja memulai perang, tapi tidak diragukan lagi bahwa akhir perang tersebut akan bergantung pada keinginan kami,” kata Hajizadeh.
Komentar tersebut dilontarkan kala militer Iran pada hari Minggu kemarin memulai serangkaian latihan perang untuk meningkatkan kesiapan unit-unit pertahanan udara yang ditempatkan di situs-situs nuklir untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh.
Komandan pangkalan udara militer Khatam ol-Anbia, Brigadir Jenderal Ahmad Miqqani, mengatakan bahwa latihan tempur Modafean-e Aseman-e-Velayat 2 tersebut dilaksanakan ddalam tiga tahapan dalam waktu lima hari.
Spekulasi bahwa Israel dapat mengebom Iran mengemuka sejak Israel melakukan latihan udara berskala besar tahun lalu. Pada pekan pertama bulan Juni 2008. 100 unit pesawat F-15 dan F-16 Israel dilaporkan turut ambil bagian dalam latihan melintasi kawasan Mediterania dan Yunani, yang banyak diinterpretasikan sebagai sebuah latihan untuk menyerang fasilitas nuklir Iran. (dn/pv/fn) www.suaramedia.com
Click Video- Rabbi Zionis Serukan “Pemberontakan” Tentara Israel
- Israel Lantik Putra Germo Sebagai Dubes Baru Di Mesir
- Hari Kedua Latihan, Iran Ancam Kebodohan Israel
- Al-Aqsa Akan Dimenangkan Jika Arab Sesemangat Sepak Bolanya
- Komunikasi Alien, Sumber Keretakan Militer AS - Inggris












