Agen intelijen Pakistan dan Amerika menangkap komandan senior militer Taliban di tempat persembunyiannya di Pakistan. Seorang pejabat senior Hamas terbunuh di Dubai. Di Inggris, agen rahasia MI5 terjebak dalam perlawanan terhadap militansi dalam negeri yang telah menimbulkan berbagai pertanyaan meluas: Di mana batasan bagi sebuah negara antara hak sah mereka mempertahankan diri dan aksi-aksi yang melanggar nilai-nilai yang sama yang berusaha mereka lindungi?
Katalog rahasia itu tampak buram sejak polisi Dubai yang menyelidiki pembunuhan pejabat Hamas, Mahmoud al Mabhouh, mengungkapkan perbuatan sebuah tim pembunuh yang menggunakan paspor palsu Eropa, yang beberapa di antaranya merupakan milik warga negara Inggris yang tinggal di Israel.
Beberapa dari pembunuh itu tampak mengenakan pakaian tenis, dengan celana pendek dan topi bisbol, tertangkap kamera CCTV saat menguntit targetnya sambil membawa raket. Sementara agen rahasia Israel, Mossad, tidak mengakui perannya dalam pembunuhan di Dubai itu.
"Apa yang tampak sebagai sukses besar bagi para pelaku kini dibayangi oleh tanda tanya besar," ujar Amir Oren, seorang kolumis di koran Haaretz.
Sepanjang sejarah, tentu mata-mata telah berkeliaran di sekeliling dunia, dan agen-agen kontraintelijen telah berusaha untuk mendeteksi dan menangkap mereka, atau menyerahkan mereka sebagai pengkhianat terhadap pihak mereka sendiri.
Dalam Perang Dingin, agen-agen intelijen terlibat dalam serangkaian peristiwa yang menghantui beberapa generasi berikutnya.
Didukung oleh intelijen Inggris dan Amerika, kudeta di Teheran yang menggulingkan Perdana Menteri Mohammed Mossadegh di tahun 1953 masih menggema dalam perselisihan antara Iran dan Barat.
Dukungan Barat terhadap naiknya Mobutu Sese Seko ke tampuk kekuasaan Zaire mendukung kediktatoran selama puluhan tahun yang menyebabkan penurunan Afrika.
Selama puluhan tahun pula Israel dan Palestina bertempur dalam perang pembunuh mereka sendiri. Shlomo Argov, duta besar Israel untuk London terluka parah di tahun 1982, dan seorang diplomat Israel, Yaacov Barsimantov, dibunuh di Paris pada tahun yang sama.
Aharon Yariv, mantan kepala intelijen militer Israel, kemudian mengakui secara terbuka telah membunuh 10 hingga 15 pemimpin Palestina di Eropa dan Libanon, berusaha membuat kelompok-kelompok Palestina menghentikan aktivitas mereka melawan Israel dan Yahudi dari luar negeri.
Kemudian, di tahun 1997, Mossad terlibat dalam upaya kacau di Jordan untuk membunuh Khaled Meshal, dari kelompok Hamas.
Peristiwa-peristiwa itu menjadi catatan sejarah dalam permusuhan antara Israel dan Palestina.
Namun, sejak 11 September 2001, persepsi perang rahasia telah bergeser, menimbulkan teka-teki baru mengenai apakah mereka yang diduga merencanakan serangan mendapatkan perlakuan yang lebih lembut dari masyarakat yang akan mereka serang. Itu telah cukup terbukti dalam hubungan antara agen intelijen AS dan Inggris.
Kerahasiaan adalah sebuah komoditas yang diklaim oleh mata-mata dan agen tidak hanya sebagai hak yang melekat namun sebagai inti dari pekerjaan mereka: Bagaimana seorang agen dapat menjalankan misinya jika rencananya diketahui oleh umum? dan, tentu, beberapa berargumen, dalam mempertahankan keselamatan negaranya, aksi tersembunyi dan taktik rumit dibenarkan oleh tujuan yang ingin mereka capai.
Namun apa yang terjadi ketika metode semacam itu menyusup ke dalam penyelidikan publik?
Pikirkan, contohnya, kasus Binyam Mohamed, orang Etiopia berusia 31 tahun, yang telah menjadi penduduk Inggris sebelum pergi ke Pakistan di tahun 2000 dan ditangkap di sana pada tahun 2002, membawa paspor palsu dan dicurigai terlibat dalam terorisme.
Diserahkan ke pemerintah Amerika sebagai ganti hadiah 5.000 dolar AS, ia ditanyai di Maroko dan Afghanistan sebelum dikirim ke Guantanamo di tahun 2004, dicurigai terlibat dalam sebuah rencana untuk melakukan serangan bom di AS. Militer AS akhirnya membatalkan tuntutan itu dan ia diterbangkan kembali ke Inggris pada tahun 2009.
Namun, itu hanyalah awal dari serangkaian peristiwa yang akan membahayakan sejarah panjang kerjasama antara agen Inggris dan institusi Amerika.
Selama berbulan, menteri luar negeri Inggris, David Miliband, berusaha mencegah publikasi informasi rahasia AS yang diberikan pada MI5 tentang perlakuan terhadap Mohamed di dalam tahanan, berargumen bahwa jika dokumen itu dirilis, Washington akan berhenti menyalurkan informasi intelijen ke Inggris.
Bulan ini, Miliband kalah dalam kasusnya. Sebuah ringkasan sepanjang tujuh paragraf dari informasi tersebut dipublikasikan, termasuk penilaian oleh otoritas publik bahwa perlakuan terhadap Mohamed dapat digolongkan sebagai perlakuan paling kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan oleh otoritas AS.
Memperkuat perdebatan publik mengenai apakah agen Inggris terlibat dalam penyiksaan, keputusan hakim mengatakan bahwa MI5 tidak mengoperasikan sebuah kebudayaan yang menghormati hak asasi manusia atau mengharamkan partisipasi dalam teknik interogasi dengan kekerasan.
Sementara kepala MI5, Jonathan Evans, bersikukuh dalam sebuah artikel koran bahwa "kami tidak mempraktikkan penganiayaan atau penyiksaan" pasca 11 September 2001. Namun ia mengakui bahwa agen Inggris lambat mendeteksi penganiayaan yang dilakukan AS terhadap para tahanan setelah peristiwa serangan itu.
Clive Stafford-Smith, pengacara Mohamed, mengatakan dalam situs The Guardian: "Menekan bukti kriminalitas pemerintah atas dasar keamanan nasional adalah sebuah preseden yang sangat berbahaya." (rin/nyt) www.suaramedia.com













