Selasa, 22 Mei 2012

Headlines:

Apakah Turki Hendak Mendirikan Kekaisaran?

E-mail Cetak PDF

ANKARA (Berita SuaraMedia) – Dalam beberapa bulan belakangan ini, terlihat tren tertentu yang menimbulkan sebuah pertanyaan mengganggu: Apakah Turki ingin menjadi kekaisaran lagi?

Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan, telah lama mendesak Turki Eropa untuk berintegrasi, bukan berasimilasi. Pada kunjungan-kunjungan resmi ke Jerman, Belgia, dan Perancis dia mengulangi seruan itu. Sebenarnya itu tidak terlalu mengejutkan. Negara-negara selalu ingin menjaga komunikasi dengan warganya di luar negeri.

Erdogan bertindak lebih jauh dan menyebut asimilasi sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Terdengar munafik karena berasal dari seorang pria yang  negaranya memiliki kebijakan resmi untuk secara paksa mengasimilasikan etnis Kurdi dan memaksa mereka menjadi orang Turki.

Asimilasi paksa mungkin adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Asimilasi sukarela mungkin menyedihkan, tapi sebenarnya itu adalah hak asasi manusia.

Apa artinya asimilasi? Itu berarti jika Anda memutuskan secara sukarela untuk melepaskan identitas kelompokmu saat ini, identitas yang melekat ketika kau lahir dan dibesarkan, dan bergabung dengan kelompok lain. Itu berarti hak untuk menikahi siapapun yang Anda mau; hak untuk memilih jalan hidupmu sendiri, terlepas dari kebiasaan kedua orangtuamu; hak untuk memilih namamu sendiri; hak untuk hidup di mana pun Anda mau; hak untuk memilih agama sendiri atau untuk tidak memiliki agama; hak untuk memutuskan pakaian yang Anda kenakan; hak untuk memutuskan bagaimana Anda akan membesarkan anak-anakmu; hak untuk memutuskan bahasa apa yang akan Anda gunakan.

Menyebut asimilasi sebagai sebuah kejahatan terhadap kemanusiaan berarti semua hak-hak itu tiba-tiba menjadi kejahatan.

Sebuah pernyataan yang aneh tapi tetap saja masih dapat dipahami bahwa Turki ingin warganya yang ada di luar negeri untuk memelihara komunikasi dengan bekas negara asalnya.

Tapi dalam perjalanannya yang terakhir ke Paris, Erdogan melangkah lebih jauh lagi. Dia mengatakan pada warga Turki Eropa bahwa mereka harus berintegrasi di negara di mana mereka tinggal untuk dapat meningkatkan jumlah orang Turki di Eropa.

Itu tidak terdengar seperti hanya ingin memelihara komunikasi.

Turki baru-baru ini mengundang para pemimpin Turki Eropa untuk sebuah konferensi di Turki. Dan di sana, menurut seorang pemimpin Alevi (salah satu aliran dalam Islam) Jerman, salah satu pembicara mengatakan bahwa "kita perlu menyuntik budaya Eropa dengan budaya Turki."

Kalimat itu terdengarnya seperti seolah-olah Turki menginginkan banyak Mehmet kecil untuk membuat Eropa lebih Turki.

Tidakkah itu terdengar imperialistik?

Sedikit latar belakang sejarah mungkin akan membantu. Berikut petikan tulisan Asli Aydintasbas di surat kabar Daily Beast:

"Terlahir dari abu Kekaisaran Ottoman, Turki modern secara tradisional tampak kebarat-baratan, bahagia untuk menyingkirkan sendiri warisan dari kekaisarannya yang menurun dan masalah di tanah Arab. Pendirinya, Mustafa Kemal Ataturk, mendeklarasikan peradaban kontemporer sebagai takdir utama bangsanya, menciptakan republik sekuler dan menjadi satu-satunya anggota Muslim NATO…

"Kita telah menyingkirkan identitas kekaisaran kita, melarang pakaian tradisional dan memakai topi Barat, mengganti huruf Arab dengan huruf latin, dan bahkan menyingkirkan kaligrafi di awal pendirian republik ini tahun 1923, berharap untuk dapat bergabung dengan sebuah klab yang tidak akan menerima kita dengan mudah…

"Namun gelombangnya bergerak ke arah lain sekarang. Dengan kebangkitan Islam politik di tahun 1990an dan kembalinya ke kekuasaan Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) konservatif di tahun 2003, Turki memiliki ketertarikan baru pada masa lalu Ottoman dan tanah Ottoman. AKP telah mempopulerkan nosi bahwa Turki tidak boleh hanya melihat ke Barat tapi juga memperluas pengaruhnya ke timur, menciptakan aliansi dengan dunia Muslim dan Rusia untuk melengkapi pertemanannya dengan Eropa dan AS."

Tapi ada sesuatu dalam semangat neo-imperial, neo-Ottoman ini yang telah mengambil alih Turki sejak episode  flotilla Senin lalu.

Apakah Turki ingin menjadi sebuah kekaisaran?

Cukup mungkin bahwa Turki tidak  memiliki rencana untuk menaklukkan negara lain. Tapi semangat neo-imperial, neo-Ottoman yang adiktif itu menuntunnya untuk menghadirkan klaim imperialis budaya. Seperti lengkungan emas McDonald’s yang menjadi simbol imperialisme budaya Amerika di seluruhd unia, mungkin Turki sedang menanti untuk memasang lengkungannya sendiri, dan cabang pertamanya akan ada di Eropa. (rin/ie) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon