Jika satu kualitas mengkarakterisasikan perang kita saat ini, itu adalah ketahanan mereka. Mereka tampaknya tidak pernah berakhir. Walaupun perang itu sendiri mungkin sifat yang tidak dapat dihindari dari Amerika, akhir-akhir ini banyak faktor yang bergabung untuk membuat selalu berperang secara konstan.
Ambil contoh metaforis, bangsa kita mengejar keran perang begitu banyak mata air perilaku kita yang memadukan usaha untuk menghentikannya akan mengerdilkan usaha BP di Teluk Meksiko.
Pemimpin politik kita, media dan pihak militer mengartikan ketahanan perang sebagai ukuran kekuatan nasional kita, kekuatan global kita, ketabahan kita dalam menghadapi bahaya eksternal, dan keseriusan kita. Hasrat untuk melemahkan dan menarik diri, di sisi lain, selalu terlihat sebagai penentraman potong-dan-lari dan diabaikan sebagai kelemahan.
Opsi menarik diri adalah, dalam frase kesayangan elit Washington, tanpa terkecuali "di luar meja" ketika kebijakan global jadi taruhannya, seperti ketika benar selama rekonsiderasi skala penuh pemerintahan Obama atas perang Afgan pada musim gugur tahun 2009. dipandang dalam hal ini, keputusan akhir presiden untuk berkobar di Afghanistan bukan hanya dapat diprediksi, tapi satu-satunya cara yang dipandang sesuai bagi pemimpin perang Amerika. Daripada pilihan yang sulit, ini adalah jalan yang paling sedikit perlawanannya.
Pertimbangkan tujuh hal ini:
- Kita mendanai perang karena kita pikir kita ahli dalam hal ini -- dan karena, pada tingkat vital, kita percaya bahwa perang Amerika dapat memberikan hal baik bagi yang lain (oleh karena itu nama kita yang-terasa-baik bagi mereka, seperti Operasi Menanggung Kebebasan dan Kebebasan Irak).
- Kita mendanai perang karena kita sudah mencurahkan banyak sumber daya kita terhadapnya. Ini adalah apa yang kita paling siap menghadapi. Lebih dari separuh kebijakan negara dihabiskan untuk mendanai militer kita dan persiapan membuat perang.
- Kita sudah mengatur untuk memisahkan biaya fisik dan emosional perang, membiarkannya dalam tanggungan minoritas kecil Amerika. Dengan menghilangkan rancangannya dan bergantung lebih banyak pada kontraktor militer swasta untuk profit, kita membuat perang sebagai pemisahan jauh bagi banyak warga Amerika, yang dapat memilih untuk mengkonsumsi ini sebagai tontonan atau hanya sebagai kebisingan suara latar.
- Sementara perang dan biayanya, sampai sekarang, disimpan dalam jangkauan militer, masyarakat Amerika memiliterisasi dengan cepat. Sumber media kita, agen intelijen, politikus, penetapan kebijakan asing, dan birokrasi "keamanan tanah air" saling jalin-menjalin dengan prioritas dan agenda militer sehingga tidak terpisahkan darinya.
- Pendekatan teknologi tingkat tinggi kita yang boros terhadap perang, temasuk gemuruh Predator dan Reaper yang dipersenjatai dengan missil Hellfire, digunakan untuk membatasi jumlah korban jiwa dari pihak Amerika -- dan juga mengurangi kemarahan yang terjadi, dan dengan tajam mempertanyakan, perang kita yang mungkin berjalan dengannya. Sementara Amerika Serikat memiliki lebih dari 1.000 tentra yang terbunuh di Afghanistan, dalam periode serupa di Vietnam kita kehilangan lebih dari 58.000 tentara.
- Karena kita tak henti-hentinya mengembangkan senjata yang menggandakan kekuatan untuk memberikan kita "tepi" (walaupun tidak pernah ada tepi yang mengarahkan pada kemenangan), sangat mengejutkan bahwa Amerika Serikat mendominasi, kalau tidak cukup memonopoli, perdagangan senjata global.
- Dan jangan lupa kekuatan menggiurkan yang-melebihi-kasus-terburuk, skenario kiamat, atau ramalan orang pintar dan yang dianggap ahli, yang secara teratur memberi tahu kita bahwa, seburuk apapun perang kita nanti, melakukan apapun untuk menghentikannya akan jadi lebih buruk lagi. Skenario khas akan berjalan seperti ini: Jika kita menarik diri dari Afghanistan, pemerintah Hamid Karzai akan jatuh, Taliban akan bergelora untuk menang, al-Qaeda bertebaran di tempat berlindung aman di Afghanistan, dan Pakistan akan lebih tidak stabil, bom atomik mereka berjatuhan ke tangan teroris untuk menghancurkan Peoria dan Orlando.
Mimpi buruk yang menggelisahkan semacam itu, sukar untuk dibantah, dapat menyihir kapanpun untuk membungkam kritikus. Mereka adalah hantu yang cocok, meninggalkan kita meringkuk ketakutan saat kita mengirim manusia militer super kita untuk menyelamatkan kita (dan dunia juga tentu), sementara melestarikan hak kita untuk mengunjungi pusat perbelanjaan dan bepergian ke Disney World tanpa ditodong senjata nuklir.
Kebenarannya adalah tidak ada seorangpun yang benar-benar tahu apa yang akan terjadi jika Amerika Serikat menarik diri dari Afghanistan. Tapi kita memang tahu apa yang terjadi saat ini, ketka kita sangat terlibat: Kita mengejar kemenangan perang yang menghabiskan biaya kita sekitar 7 milyar dolar Amerika sebulan dan kita tidak menang (dan itu dapat diperdebatkan tidak dapat dimenangkan), sebuah perang yang mungkin meningkatkan kemungkinan peristiwa 9/11 lainnya, dan bukannya menguranginya.
Tiap-tiap sumber perang yang memberi makan penderitaan perang kita harus dihentkan. Jadi ini adalah tujuh saran untuk "penghentian" semacam itu -- yang harapannya akan lebih efektif dibanding improvisasi pukul-memukul BP -- kita harus memasang:
- Mari kita tolak ide bahwa perang itu terpuji ataupun baik -- dan dalam prosesnya, ingatkan diri kita bahwa orang lain seringkali melihat kita sebagai "pejuang asing" dan konsumen perang yang boros yang membunuh orang tidak bersalah (terlepas dari usaha kita untuk meletakkan pasukan mematikan dalam cara yang tepat secara pembedahan yang merefleksikan "pertahanan yang pemberani").
- Mari kita potong pengeluaran pertahanan sekarang, dan mengurangi "misi" global yang sejalan dengannya. Atur tujuan yang masuk akal -- pengurangan sebesar 6-8% per tahun untuk 10 tahun mendatang, hingga tingkat pengeluaran pertahanan kita setidaknya kembali ke level semula seperti sebelum peristiwa 9/11 -- dan bertahan di tingkat itu.
- Mari berhenti memprivatisasi perang. Menciptakan insentif yang lebih menguntungkan untuk perang selalu jadi ide yang menggelikan. Sekarang waktunya membuat perang sebagai aktivitas non-profit, resor-terakhir.
- Mari kita balik militarisasi atas banyak dimensi dalam masyarakat kita. Untuk mengutip satu contoh, sekarang saatnya memberdayakan jurnalis yang benar-benar mandiri (tidak terikat) untuk meliput perang kita, dan berhenti bergantung pada para jenderal dan laksamana yang sudah pensiun, yang memimpir perang kita yang sebelumnya agar menjadi panduan media kita.
- Mari kita akui sistem senjata canggih yang mahal itu bukan sarana pemenangan perang. Mereka membuat kita terus ada dalam perang tanpa memberikan hasil yang pasti -- kecuali Anda mengukur "hasilnya" dalam istilah pengeluaran yang melampaui batas dan defisit anggaran negara yang berkembang.
- Mari kita lengkapi kembali ekonomi kita dan menginvestasikan lagi uang kita, memindahkannya dari kompleks militer-industri menuju penguatan sistem pengangkutan massa yang pucat, dan teknologi energi alternatif. Kita membutuhkan rel berkecepatan tinggi, jalan dan jembatan yang lebih aman, dan lebih banyak turbin angin, bukan jet tempur yang terlampau mahal.
- Akhirnya, mari kita buang skenario mimpi buruk itu dari pikiran kita. Dunia ini sudah cukup ketakutan tanpa selamanya membayangkan senjata berasap berubah menjadi awan berbentuk jamur.
Inilah tujuh "penghentian" saya untuk mengisi pancaran dukungan kita atas perang permanen. Tak seorang pun mengatakan hal ini akan mudah. Tanya saja pada BP bagaimana mudahnya menghentikan satu semburan minyak tak-terkendali.
Meskipun begitu, jika kita sebagai sebuah masyarakat tidak mau bekerja keras untuk perubahan yang sebenarnya -- tentu saja, untuk memintanya -- kita akan ada dalam kurva ekskalator militer sampai kita meledak. Dan begitulah kegilaan terjadi.
Opini ini ditulis oleh William J. Astore, seorang mantan Letnan Kolonel USAF dan secara rutin berkontribusi untuk TomDispatch.com. (raz/meo) www.suaramedia.com














