Selasa, 22 Mei 2012

Headlines:

Hanya Umat Muslim Yang Mampu Hentikan Terorisme

E-mail Cetak PDF

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) - Jika Amerika ingin memenangkan perang melawan radikal yang mengatasnamakan Islam, Muslim lah yang harus memimpin tugas tersebut - dan menjelaskan pada kami semua bagaimana kami bisa membantu.

Presiden Obawa memperingatkan terhadap "ekstrimisme". Mantan Wakil Presiden Dick Cheney mengecam  "teroris". Tapi mereka bahkan sulit meneriakkan kata penting itu, tapi kata sifat yang hampir selalu tidak ada: Muslim. Hampir semua teroris dan kekerasan ekstrimis di dunia disangkutpautkan dengan Muslim - dan dalam banyak contoh, korbannya adalah Muslim itu sendiri. Yang akan datang setelah ini adalah ekstrimisme - terlepas dari fakta bahwa sebagian besar mayoritas Muslim tidaklah radikal dan mengutuk terorisme.

Presiden Obama menjadi lebih spesifik dalam kemunculan pada pers terkait dengan usaha pengeboman saat Natal. Ia mengatakan bahwa Amerika Serikat "sedang dalam perang melawan al Qaeda." Tentu saja, kami dan al Qaeda adalah organisasi teroris utama yang kita lawan. Tapi ini bukan satu-satunya. Kebanyakan kelompok teroris di seluruh dunia adalah bos mereka sendiri, khususnya di Asia dan juga di Timur Tengah. Walaupun demikian, ia masih menghindari masalah dasar Muslim.

Mayoritas besar Muslim yang bijak dan terbuka harus mengambil tindakan operasional dan aktual terhadap teroris. Tidak bisa hanya berupa retorika, yang merupakan satu-satunya senjata kelompok Muslim saat ini.

Penghilangan kata "Muslim" biasanya berakar dari pembetulan politis, keinginan untuk tidak menyerang. Dalam banyak kesempatan, komentar ini tidak terlalu mengancam dan dapat diabaikan. Tapi kegagalan untuk menangkap permasalahannya secara tepat dengan nama menyebabkan kesulitan parah: Ini menghalangi proses penemuan solusi realistis. Khususnya, hal ini mengarahkan Washington untuk berpikir bahwa solusi Amerika terhadap terorisme lebih daripada solusi Muslim.

Hal ini memberikan tanggung jawab terberat pada sumber daya dan tindakan Amerika, pada nilai-nilai kita dan falsafah kita ketimbang pada kebanyakan Muslim, nilai-nilai mereka, agama, budaya, tindakan nyata, dan keterlibatan mereka dalam level paling mendasar. Jika perang melawan terorisme akan dimenangkan, umat Muslim harus melakukan pengangkatan berat, dan menjelaskan pada kami bagaimana kami bisa membantu mereka.

Jika masyarakat Amerika dan Barat terus memimpin, maka ini akan terus saja menjadi perang "kami versus mereka." Jika Muslim yang memimpin, ini akan menjadi "mereka versus mereka," agamawan lawan agamawan, bukan orang luar yang "kafir dan penindas" melawan Muslim "yang dikorbankan". Pasukan militer yang efektif, tentu saja akan dibutuhkan untuk melemahkan para pihak fanatis dan memberikan keamanan. Tapi dukungan dari mayoritas Muslim merupakan bahan yang lebih penting untuk keberhasilan, satu hal yang bisa dikumpulkan hanya oleh pengikutnya baik di Amerika Serikat maupun di luar negeri.

Belum ada seminggu berlalu, tampaknya, tanpa kehadiran oknum yang mengompori Muslim, dan seringkali diri mereka sendiri dalam proses tersebut, mendominasi rekan seagama mereka tampak menjadi prioritas utama para fanatik. Ketika kesempatan menampilkan dirinya sendiri, mereka juga akan membunuh orang kafir di Amerika, London, Madrid, Indonesia dan dimanapun yang mereka bisa.

Pada pembunuhan yang dilakukan teroris dan pemuntungan yang telah mengambil alih dalam tiga tahun terakhir ini, lebih dari 90% merupakan Muslim terhadap Muslim, Syiah pada Sunni, Sunni pada Suni, atau Syiah pada Syiah, dengan pengecualian yang jarang. Kebanyakan dari perang ini memiliki sebab agama, budaya, dan sejarah. Tapi kapanpun para fanatik mengajukan diri mereka dengan tegas dalam kekuatan, mereka akan berusaha menjalankan praktik totalitarianisme Hitler dan Stalin. Aturan mereka merupakan akhir harapan bagi wanita, akhir dari kemerdekaan untuk semua, kecuali mereka sendiri - dan institusionalisasi korupsi dan kekejaman, yang mereka rasionalisasikan dengan interpretasi mereka terhadap Al-Qur'an.

Mereka berusaha untuk menjatuhkan totalitarianisme di Iran, tapi belum berhasil sejauh ini - karena warga Iran melawan balik. Dan jika Anda mendengarkan retorika para fanatik ini, mereka berencana untuk bergerak ke bagian dunia yang lain dan menerapkan prinsip yang sama. Mereka adalah fanatik.

Teroris adalah ancaman utama atas keamanan internasional dan Amerika. Mereka merupakan yang paling mungkin menjatuhkan totalitarianisme pada komunitas Muslim, dan yang paling mungkin menggunakan senjata pemusnah massal. Pemerintah Muslim tentu memahami pencegahan dan tahu bahwa jika mereka menggunakan senjata pemusnah massal untuk menyerang yang lain.

Jadi, pertanyaan yang mengesampingkan keamanan-nasional adalah: Apa yang harus dilakukan Muslim dan Non-Muslim terhadap ancaman fana ini? Jawaban utamanya adalah bahwa mayoritas besar Muslim yang bijak harus mengambil tindakan operasional dan aktual terhadap terorisme. Tak hanya berupa retorika, dan mengeluarkan fatwa yang mengutuk terorisme.  (Terutama, setelah serangan 11 September, pemimpin dari Ikhwanul Muslimin, Jamaah Islamiyah Pakistan, dan yang lainnya bergabung dalam pernyataan bersama mengutuk "dengan sebutan terkuat, insiden, yang bertentangan dengan segala norma kemanusiaan dan Islam.")

Okelah seperti itu. Tapi dimana pendanaan, program, dan orang-orang untuk mendidik kembali para kawula muda yang dicuci otaknya, dan dimana sekolah pengganti untuk anak-anak ini? Dimanakah program untuk ditunjukkan di Masjid-Masjid dimanapun dan berdebat dengan para mullah yang mengatakan Allah menginginkan mereka membunuh sesama Muslim dan orang kafir dan memperbudak wanita? Kenapa orang-orang Afghanistan yang moderat banyak berdalih saat diminta untuk melawan Taliban? Kenapa mereka terus-menerus meremas tangan mereka tentang apakah Amerika Serikat akan tinggal di sana selamanya dan memperjuangkan perang mereka untuk mereka, padahal mereka sangat paham bahwa dalam beberapa hal, Amerika akan pergi, harus pergi? Kenapa pemimpin moderat Pakistan selamanya berdebat bahwa nasib mereka bergantung pada kemenangan Amerika di Afganistan, tapi masih saja memberikan bantuan pada teroris yang membunuh orang-orang Amerika di Afganistan? Kenapa pemimpin Arab yang bersahabat di Saudi Arabia tak henti-hentinya memunculkan isu Israel - Palestina pada garis depan politik Arab? Tidakkah ini hanya untuk mengalihkan perhatian dari persoalan internal mereka sendiri? Tidakkah kegagalan untuk menyelesaikan persoalan internal ini akhirnya melemahkan posisi sekutu Muslim kita melawan teroris?

Lebih lagi, tidak seorang pun memahami kebenaran ini lebih dari Muslim di sini dan di luar negeri. Merekalah satu-satunya yang selalu memberi tahu kami bahwa kami tidak memahami mereka, dan mereka benar.  Maka hal itu berarti mereka harus menanggung beban utama dalam perang terhadap teroris - dan membantu kami memahami bagaimana cara terbaik bagi kami untukk dapat membantu mereka dengan tenaga militer dan uang, tapi dalam perang pendukung.

Ini hanya merupakan masa depan yang tidak bisa diterima bagi Amerika Serikat untuk berperang dalam perang di Afganistan untuk 10 tahun mendatang, menjaga Pakistan terapung secara ekonomis sementara pemimpin mereka melakukan kesepakatan ganda dengan kami, dan menyerang Iran - sambil menyerang Somalia dan Yaman. Sungguh tak bisa diterima bagi Muslim di sini dan di negara Islam lainnya untuk menerima tirani Muslim. Mereka - para Muslim - harus berada di garis pertama pertahanan, dan Amerika Serikat serta pemimpin dunia lainnya harus mencari cara untuk membiarkan pemimpin Muslim tahu bahwa ini akan menjadi tanggung jawab mereka. Tak ada lain yang berarti, tak ada cara lain yang akan berhasil.

Opini ini ditulis oleh Leslie H. Gelb, mantan kolumnis agensi berita The New York Times dan seorang pejabat senior AS. (raz/tdb) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon