Lebih sering lagi, kesepakatan (atau prinsip-prinsip utama mereka) dilaksanakan benar-benar dalam kerahasian oleh utusan-utusan terpercaya di tempat-tempat yang tidak jelas. Mengambil proses yang menuntun pada perjanjian perdamaian tahun 1979 antara Israel dan Mesir, contohnya. Perjanjian tersebut dimulai dengan pertemuan rahasia antara Perdana Menteri Israel Moshe Dayan dan Deputi Perdana Menteri Mesir Hassan Tuhami di Maroko, di mana pihak Mesir berujar untuk pertama kalinya bahwa Israel siap untuk menyerahkan Bukit Sinai.
Kerangka kerja perjanjian antara Israel dan Otoritas Palestina pada tahun 1993 yang diikuti berbulan-bulan pembicaraan rahasia oleh para akademisi – dan kemudian, para deputi – di Oslo. Bahkan perjanjian perdamaian Israel-Yordania satu tahun kemudian dilaksanakan sebagian besar dalam pertemuan rahasia natara Ephraim Halevy dari Mossad dan Raja Hussein.
Kerahasiaan tersebut memperbolehkan para politisi rentan (dan politisi-politisi Israel dan Arab hampir selalu rentan) untuk mengeksplorasi topik-topik yang sensitif tanpa mengkhawatirkan bahwa proses negosiasi itu sendiri akan membahayakan pendirian politik mereka.
Contoh, seandainya bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu siap untuk membongkar sebagian besar perjanjian di Tepi Barat – sebuah kebutuhan jika ia serius tentang mendapatkan sebuah perjanjian dengan Presiden Mahmoud Abbas. Sebuah kebocoran dari pembicaraan tersebut mengindikasikan sebanyak yang mungkin menyebabkan sebuah perlawanan di dalam pemerintahan sayap kanan Netanyahu. Hal yang sama juga berlaku untuk Abbas, yang cepat atau lambat dalam pembicaraan dengan Israel, akan harus mengakui tuntutan warga Palestina untuk pemulangan para pengungsi. Jika ia melakukannya, Abbas akan menghadapi sebuah perlwanan yang tajam dari Hamas dan dari dalam partainya sendiri, Fatah.
Mengenali keuntungan-keuntungan dari pembicaraan rahasia, Netanyahu telah mencoba beberapa kali selama satu tahun yang lalu untuk menarik pihak Palestina dalam sebuah saluran belakang, menurut seorang pejabat Israel yang telah bekerja berdampingan dengan Netanyahu selama sebagian besar masa jabatnnya.
Dalam rahasia, strategi untuk Netanyahu untuk menawarkan konsesi dan menaksir keinginan Palestina untuk berlutut – tanpa resiko kehilangan koalisinya. Jika sebuah perjanjian nampaknya memang memungkinkan, ia dapat go public dengan skema tersebut dan menempatkannya pada sebuah referendum atau bahkan meminta sebuah pemilihan cepat.
Pejabat Israel mengatakan bahwa ia mengira Netanyahu kemungkinan berkeinginan untuk membahayakan koalisinya untuk prospek namanya yang dicantumkan pada sebuah perjanjian perdamaian bersejarah. Namun ia tidak akan berkeinginan untuk membahayakannya hanya untuk melibatkan pihak lain.
Palestina secara berulang-ulang menolak tawaran tersebut, sumber Israel mengatakan. Seorang pejabat Palestina mengkonfirmasi akun tersebut, menjelaskan bahwa Abbas secara mendalam tidak mempercayai Netanyahu.
Dalam pembicaraan rahasia, di mana tidak ada pihak ketiga memegang kata-kata dari kedua pihak dan tidak ada catatan publik yang memaksa sebuah tindakan akuntabilitas, kepercayaan adalah yang terpenting.
Abbas percaya bahwa tujuan Netanyahu dalam menekan negosiasi – apakah terbuka atau rahasia – adalah untuk mengelakkan tekanan dari Washington. Dan ketika pemimpin Palestina setuju untuk pembicaraan langsung, menurut orang-orang disekelilingnya, ia begitu mempercayai bahwa permbicaraan tersbeut akan menelanjangi Netanyahu sebagai seorang penipu. Tujuan tersebut dapat dicapai lebih secara efektif dalam negosiasi terbuka, di mana pihak Amerika mengawasi pembicaraan dan dua pihak tersebut secara periodik melaporkan perkembangan mereka. Selama Abbas meragukan ketulusan Netanyahu, ia tidak memiliki kegunaan untuk sebuah saluran rahasia dengan Israel.
Kemudian, hasilnya adalah Israel dan Palestina akan harus mengatasi perbedaan mereka yang cukup besar dalam menegosiasikan lingkungan yang yang kurang dari ideal. Satu hal yang Amerika dapat lakukan untuk meningkatkan iklimnya adalah memaksa kedua pihak tersebut untuk menjaga kebocoran seminimal mungkin dan menghindari sikap sok. Namun jika Anda tidak dapat bersikap sok, banyak masyarakat Israel dan Palestina akan bertanya pada diri sendiri, apa pentingnya membuka kedok? (ppt/nw) www.suaramedia.com














