Selasa, 22 Mei 2012

Headlines:

Poros China - AS, Hikayat Kasih Tak Sampai

E-mail Cetak PDF
MOSKOW (Berita SuaraMedia) – Mencermati hubungan yang terjadi antara AS dan China, yang merupakan dua negara besar di dunia, seorang pakar sains dan hubungan internasional dari akademi diplomatik kementerian luar negeri Rusia yang berada di Moskow, Yevgeny Bazhanov, mengemukakan pendapatnya dan dimuat oleh Moscowtimes.

Belakangan ini, AS telah mengungkapkan keinginannya untuk dapat menjadi rekanan China agar dapat menguasai dunia bersama-sama. Washington terdorong untuk melakukan hal tersebut karena rencana besarnya untuk membangun kekaisaran global,

sebagai negara superpower yang tersisa, telah menemui kegagalan yang menyakitkan.

Pemerintah China yang berpusat di Beijing dapat menjadi sebuah rekanan yang lebih baik di mata AS. Hal tersebut dikarenakan AS selalu menolak untuk berbagi kekuasaan dengan "pemain junior" seperti Rusia, di sebuah dunia yang multi-kutub, namun AS tampaknya siap untuk berbagi hegemoni dunia dengan China.

Akan tetapi, setelah dianalisa lebih dekat, sebuah hegemoni bersama antara AS dan China tampaknya justru memiliki peluang yang lebih kecil.

Tentu saja, Washington membanjiri China dengan hujan pujian mengenai kehebatan Kerajaan Langit. Namun pemerintah China mengambil langkah yang cukup bijaksana dengan menghindar agar tidak terlalu terlibat dalam sejumlah petualangan tanpa arah. Namun, bahkan jika Beijing melakukan hal tersebut karena tidak tahan dengan godaan, tetap saja tidak ada yang akan dihasilkan dari proyek bersama dengan AS tersebut.

Sejak semula, AS dan China lebih merupakan negara saingan dibandingkan dengan rekanan. Dua negara tersebut selalu mengambil posisi yang berlawanan dalam hampir setiap isu dunia, termasuk diantaranya, isu Kosovo, perluasan anggota NATO, pertahanan terhadap peluru kendali, konflik Timur Tengah, Iran, Asia Tengah, dan sejumlah isu dunia lainnya. Amat jarang ditemui kesamaan pendapat antara AS dan China dalam tubuh Dewan Keamanan PBB.

Namun, persaingan yang paling tajam antara Washington dan Beijing terjadi di wilayah Asia-Pasifik, dan kecenderungannya lebih mengarah kepada China. China mendesak dilakukannya peningkatan pengaruh politik dan ekonomi di negara-negara tetangga.

Dua negara sekutu terpenting Washington di Timur Jauh, Jepang dan Korea Selatan, telah memiliki volume perdagangan yang lebih besar dengan China jika dibandingkan kerjasama dagang mereka dengan AS.

Bahkan, seorang diplomat Thailand pernah mengatakan, "perdana menteri kami dulunya biasa mengawali harinya dengan membaca The New York Times. Kini, beliau lebih dulu melihat isi dari koran Zhenmin Zhibao terbitan China."

Beijing menerapkan politik "satu China", mengabaikan Taiwan dan menentang keras penggalangan kekuatan yang dilakukan oleh militer Jepang. Sementara itu, China justru melakukan modernisasi terhadap kekuatan militernya sendiri, membeli perlengkapan militer canggih dari Rusia dan menjual senjata kepada negara-negara yang berseberangan dengan AS.

AS memandang langkah-langkah yang diambil China tersebut sebagai sebuah tantangan besar bagi hegemoni militer, politik dan ekonominya di kawasan Asia-Pasifik. Sebagai akibatnya, Gedung Putih telah mengadopsi kebijakan penolakan dan pemaksaan. Hal ini yang melatarbelakangi kebijakan AS di kawasan tersebut – seperti membatasi dan menjual senjata kepada Taiwan, membatasi impor produk-produk China untuk pasar AS dan menentang penjualan senjata yang dilakukan oleh China kepada negara-negara lain – telah menciptakan begitu banyak rintangan untuk membangun aliansi AS-China.

Otoritas China secara khusus menentang upaya AS untuk campur tangan dalam urusan dalam negeri China. Pemerintah China meyakini bahwa Tibet dan Xinjiang mendapatkan dukungan luas, bukan hanya dari kalangan aktor Hollywood, namun juga dari CIA, Gedung Putih dan departemen luar negeri AS. Para diplomat dan pengamat politik China menyebutkan bahwa hal tersebut merupakan sebuah bukti bahwa tindakan yang dilakukan AS di China ditujukan untuk meruntuhkan sistem politik China. Mereka berpendapat bahwa Washington turut terlibat dalam proses keruntuhan Uni Soviet, sehingga kini AS membidik satu-satunya rival yang tersisa, yakni China.

Masalah yang sudah sejak lama mengganjal terbentuknya poros Washington-Beijing disebabkan karena China tidak siap memikul beban berat jika harus mendampingi AS untuk menguasai dunia. China tengah menghadapi permasalahan dalam negeri yang termasuk angka pendapatan per kapita yang sangat rendah, jurang yang lebar antara kaum miskin dan konglomerat, tingginya angka pengangguran, korupsi, kekurangan sumber daya alam, dan konflik etnis di daerah. Beijing sudah menanggung beban dari masalah-masalah tersebut, sehingga tidak sanggup untuk menanggung beban hegemoni global.

Lebih lanjut lagi, China tidak dapat menawarkan sebuah ideologi yang mampu memikat hati dan pikiran dari masyarakat dunia. Sangat mustahil bagi Jerman, Argentina, Nigeria, atau India untuk mengadopsi gaya sosialisme atau Konfusianisme ala China. Sebagai tambahan, China tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk melanggengkan hegemoni militer. China juga bukan negara terdepan dalam hal komunikasi massal, budaya populer, pendidikan dan ilmu pengetahuan. Tidak ada merek-merek asal China yang mampu bersaing dengan Toyota, Olivetti, Omega, Christian Dior, Microsoft atau Mercedes-Benz.

Namun, sejatinya tidak ada gunanya untuk membicarakan istilah-istilah kutub tunggal atau ganda. Lebih cepat Washington menyadari bahwa dunia ini ditakdirkan untuk memiliki multi-kutub, maka keadaan akan menjadi lebih baik. Dan hal ini akan memiliki dampak yang positif terhadap peningkatan hubungan antara AS dan Rusia.

Dunia ini bukanlah dunia yang mudah untuk ditinggali, dunia ini sulit untuk diorganisir dan hampir mustahil untuk dikuasai. Namun seperti itulah dunia yang dihuni oleh manusia, dan tidak ada pilihan lain kecuali beradaptasi pada kenyataan. Jika hal tersebut tidak dilakukan, maka Washington harus bersiap-siap untuk kembali menghadapi kekalahan. (dn/mt) Dikutip oleh www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon