Sejak Israel memulai serangan udara ke Gaza Sabtu pekan lalu hingga sekarang, lebih dari 400 orang Palestina tewas dan sekitar 2.100 terluka, sebagian besar luka parah. Raja Abdullah mengatakan bahwa kampanye bantuan nasional ini akan langsung dipimpin Menteri Dalam Negeri Naif bin Abdul-Aziz.
Arab Saudi telah menerbangkan pesawat-pesawat bermuatan obat-obatan ke Gaza serta pesawat-pesawat dengan misi khusus mengangkut warga Palestina yang terluka di Gaza ke rumah sakit-rumah sakit Saudi guna mendapat perawatan.
Arab Saudi dan sejumlah negara Arab yang menjadi sekutu Amerika Serikat seperti Mesir dan Yordania dikritik habis-habisan oleh dunia Arab karena tidak banyak membantu Gaza.
Negara-negara Arab ini kebanyakan tidak nyaman dengan posisi kelompok militan Hamas yang telah mengambilalih Gaza setelah memerangi rivalnya, Kelompok Fatah, pada 2007.
Jerman Minta Israel Pertimbangkan Usul Liga Arab
Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier, Kamis, meminta Israel untuk menjawab secara konstruktif inisiatif Liga Arab untuk menghindarkan peperangan di Jalur Gaza.
Menlu Jerman ini telah menelepon Perdana Menteri Israel Tzipi Livni untuk menyuarakan keprihatiannya yang mendalam mengenai berlanjutnya pertempuran di Gaza, demikian pernyataan resmi Departemen Luar Negeri Jerman di Berlin.
Steinmeier berbagi saran dengan Livni bahwa perang hanya akan membahayakan kemajuan yang selama ini dicapai dalam proses perdamaian Timur Tengah, sebaliknya akan kian memperkeras sikap kelompok-kelompok Arab yang memang menginginkan perang dengan Israel.
Namun Menlu Jerman ini setuju dengan perlunya prakondisi bagi terciptanya gencatan senjata untuk menjamin tidak akan ada lagi seranagan roket terhadap Israel dari otoritas Hamas di Jalur Gaza.
Para pembantu Menlu Jerman mengungkapkan, Steinmeier juga telah berbicara via telepon dengan Sekretaris Jenderal Liga Arab Amir Mussa dan Menlu Mesir Ahmed Abul Gheit sehingga dia memperoleh gambaran mengenai hasil pertemuan Liga Arab, Kamis.
Sementara itu seorang juru bicara Kanselir Jerman Angela Merkel menolak kritik terhadap dukungan penuh Merkel pada Israel selama konflik dengan Hamas dengan mengatakan sikap itu sudah sejalan dengan hasil pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa.
"Dia harus menegaskan sikapnya bahwa dia sangat ingin ada gencatan senjata secepat mungkin. Meski begitu syarat-syaratnya mesti dipenuhi dulu dan terpenting dalam pandangan Kanselir adalah keamanan Israel harus dijamin," kata sang juru bicara.
Merkel dan Steinmeier adalah dua politisi yang berseturu dan akan saling berhadapan dalam pemilu mendatang setelah Steinmeier dicalonkan menjadi kanselir Jerman oleh partainya, Partai Sosial Demokrat (SPD).
Pada pidato Tahun Barunya, Merkel menuduh Hamas mempraktikan terorisme yang sehari kemudian diperlembut oleh juru bicaranya, Thomas Steg, dengan menyatakan bahwa "akar masalah dan dampak" peperangan mestinya tidak bisa diabaikan siapapun, baik Hamas maupun Israel.
Liga Internasional untuk Hak Asasi Manusia, sebuah organisasi pecinta damai di Jerman, menuduh Merkel telah membesarkan hati Israel untuk melanjutkan kejahatan perangnya di Jalur Gaza dan menuntut Kanselir menekan Israel untuk mengadakan gencatan senjata.
"Jika Merkel tidak mau menekan Israel, dia bersalah atas meningkatkanya spiral kekerasan di Gaza," demikian organisasi HAM itu.
Rolf Muetzenich, seorang deputi SPD, juga mengkritik Merkel dengan mengatakan, "Saat ini bukanlah hal yang tepat untuk membicarakan siapa yang mesti dipersalahkan."
Rolf menegaskan, prioritas sekarang adalah sebuah gencatan senjata, namun dia bersetuju dengan pandangan bahwa Israel berhak mempertahankan diri dari setiap serangan Hamas. (ant) http://www.suaramedia.com Visit here Zionis Israel Bersumpah Terus Menerus Gempur Jalur Gaza















