Hizbul Islam, yang telah melakukan perlawanan selama tiga tahun melawan pemerintah interim bersama kelompok Al Shabaab, mendesak Muslim Somalia untuk bersatu dan bergabung dengan perjuangan mereka.
"Presiden Sheikh Sharif Ahmed harus berhenti. Dia tidak memiliki apa-apa untuk rakyat kecuali sebuah seruan untuk lebih banyak pasukan asing yang membantai warga Somalia," ujar Sheikh Hassan Dahir Aweys, pemimpin Hizbul Islam.
kelompok garis keras mengontrol wilayah luas Somalia bagian selatan dan tengah dan sebagian besar ibukota Mogadishu, menyisakan pemerintah hanya beberapa blok yang diawaki oleh penjaga perdamaian Uni Afrika.
Dalam beberapa hari terakhir ini, kaum militan telah meningkatkan serangan mereka terhadap target-target pemerintah dan membunuh empat penjaga perdamaian Uganda yang ditugaskan di dekat istana kepresidenan.
Mencoba menerapkan sistem mereka, militan secara rutin melaksanakan hukum rajam dan amputasi, melarang sepakbola, musik dan bel sekolah di wilayah yang mereka kuasai. Mereka mengklaim telah mengembalikan tata tertib.
"Saya mendesak umat Islam untuk bersatu. Wilayah di bawah kendali kami. Mereka adalah Muslim yang baik yang bisa mengatur negara," ujar Aweys.
Analis politik saling bertentangan mengenai cara terbaik untuk mengatasi perlawanan.
Seorang petinggi militer AS mengatakan bahwa militan asing tidak diterima secara universal oleh Al Shabaab, tapi kekuatan luar akan sulit menggunakan kehadiran mereka untuk memecah belah dan melemahkan perlawanan.
Lebih dari 150 orang tewas dalam 10 hari terakhir dalam eskalasi kekerasan terbaru di Mogadishu. Pada hari Selasa (31/8), sebuah ledakan di tepi jalan dan tembakan artileri berat antara pemberontak dan pasukan pemerintah dukungan Uni Afrika menewaskan setidaknya 18 orang.
Uni Afrika pada hari Rabu (1/9) mengecam serangan pada hari Senin di mana empat penjaga perdamaian Uganda tewas ketika para peasukan perlawanan melemparkan mortir ke istana kepresidenan.
"Ketua Komite Uni Afrika menegaskan ulang komitmen dan tekad UA untuk membela dan mendukung rakyat Somalia dalam melawan dan mengalahkan unsur-unsur anti-perdamaian," ujar UA dalam sebuah pernyataan.
Ali Muse, koordinator layanan ambulan, mengatakan banyak korban hari Selasa adalah warga sipil yang terkena peluru di dalam dan di sekitar pasar Bakara, pasar terbesar di Mogadishu dan dikenal sebagai kubu perlawanan.
Sembilan orang terbunuh ketika sebuah bom pinggir jalan mengenai dua minibus, ujar para dokter di rumah sakit Medina.
"Bom itu meledakkan bus yang ada di depan bus saya. Darah dan potongan tubuh manusia berceceran di jalan," ujar saksi mata, Ismail Musamil, pada kantor berita Reuters. (rin/aby) www.suaramedia.com














