Al-Qaeda di Maghreb Islam (Al-Qaeda in the Islamic Maghreb – AQIM) menangkap para pekerja ekspatriat, yang termasuk lima warga Negara Perancis, dari sebuah kota pertambangan uranium di Nigeria bulan ini dalam sebuah operasi yang menyatakan bahwa AQIM merupakan sebuah ancaman yang tumbuh di daerah yang kaya akan sumber daya alam.
Para pimpinan staf dari Aljazair, Mali, Mauritania dan Nigeria bertemu di Tamanrasset, bagian selatan Aljazair, di mana awal tahun ini mereka merancang sebuah markas besar gabungan untuk mengkoordinasikan perjuangan melawan Al-Qaeda di Sahara.
Sebuah pernyataan Kementerian Pertahanan Aljazair mengatakan bahwa tujuan dari pertemuan hari Minggu tersebut adalah untuk bertukar informasi dan membentuk sebuah strategi untuk mengatasi kejahatan Al-Qaeda dan kejahatan yang sudah terencana.
Tidak jelas apakah pembicaraan tersebut menyentuh masalah tujuh sandera tersebut, yang juga termasuk satu warga Negara Togo dan satu dari Madagaskar.
Namun seorang juru bicara militer Aljazair mengatakan bahwa pertemuan tersebut datang pada "sebuah saat yang tepat dengan memperhatikan rangkaian kejadian yang telah terjadi di daerah tersebut."
Negara-negara yang mengirim "sebuah pesan yang jelas dari keinginan dan kebulatan tekad mereka, begitu juga dengan kapasitas efektif mereka, untuk menangani masalah keamanan mereka dalam sebuah cara otonom dan kolektif, dengan kebebasan dan kedaulatan yang lengkap", Kantor berita resmi Aljazair, APS mengutip juru bicara tersebut, Kolonel Mabrouk Sebaa ketika ia mengatakan.
Aljazair dengan keras menentang pasukan militer barat mengambil peranan apapun di Sahara, mengatakan bahwa AQIM adalah sebuah masalah, negara-negara dari kawasan tersebut harus mengatasi sendiri masalah tersebut.
Komando Perancis, bersama dengan pasukan Mauritania, melancarkan sebuah serangan pada bulan Juli berusaha untuk membebaskan sandera 78 tahun berkebangsaan Perancis Michel Germaneau, namun tidak menemukannya. Ia dieksekusi segera setelah itu.
Pemimpin AQIM Abdelmalek Droudkel mengeluarkan sebuah rekaman audio yang mengatakan bahwa dengan menyetujui operasi tersebut, Presiden Perancis Nicolas Sarkozy telah "membuka gerbang neraka."
Menteri Pertahanan Perancis Herve Morin mengatakan pada minggu lalu bahwa ia ingin mengadakan kontak dengan para militan yang menawan ketujuh sandera tersebut dan mendengar tuntutan-tuntutan mereka.
Aljazair telah menekan negara tetangganya di Sahara untuk mengambil sebuah pendekatan yang lebih terkoordinasi untuk mengatasi Al-Qaeda dan juga untuk menghentikan praktik membayar uang tebusan dan membebaskan militant yang dipenjara untuk ditukar dengan kebebasan sandera.
Kurangnya pendekatan yang kompak di antara Negara-negara gurun Sahara dan negara-negara Eropa telah "memudahkan bisnis penculikan warga asing untuk uang tebusan", seorang sumber keamanan di Aljazair mengatakan pada kantor berita Reuters.
Seorang juru bicara kepresidenan Perancis mengatakan pada Minggu waktu setempat bahwa ketujuh sandera tersebut telah dipindahkan dari Nigeria menuju Mali.
Ia juga mengatakan bahwa Paris, yang mengatakan setelah pembunuhan Germaneau bahwa pihaknya "sedang berada dalam perang" dengan Al-Qaeda, akan mempertimbangkan bernegosiasi dengan para penculik sandera untuk pembebasan para tahanan. (ppt/aby) www.suaramedia.com
- "Pembelaan" Untuk Presiden Zimbabwe Dianggap Aksi Putus Asa
- Nigeria Hadapi Tantangan Terbesar Atasi Al-Qaeda
- Wapres Sudan Ragukan Referendum Wilayah Sengketa Utara-Selatan
- Universitas Afrika Putus Hubungan Dengan Israel
- Sudan Persenjatai Milisi Sipil Untuk Atasi Pemberontakan














