Kota pertambangan Arlit – di mana Al-Qaeda dalam Maghreb Islami (Al-Qaeda in the Islamic Maghreb – AQIM) pada 16 September menculik lima orang berkebangsaan Perancis, seorang Madagaskar, dan seorang Togo – sekarang di bawah pengawasan ketat militer, para penduduk mengatakan.
Arlit di padang pasar 800 kolimeter timur laut Niamey dan telah menjadi sebuah pangkalan rumah untuk staff dari raksasa nuklir Perancis Areva, yang menambang uranium di sana. Korban penculikan tersebut termasuk seorang staf Areva dan istrinya dan lima pekerja untuk Satom, sebuah raksasa Vinci konstruksi bersubsidi.
"Para tentara mengendarai kendaraan 4x4 yang distasiunkan di titik-titik strategis yang berbeda: rumah sakit, toko-toko dan tempat-tempat hiburan," kata seorang pegawai sipil yang menambahkan bahwa para pasukan juga "berpatroli di kota dan para penduduk di mana para ekspatriat dan para pekerja lokal untuk Avera tinggal."
Pemerintah, yang telah mencapai sebuah kesepakatan dengan perusahaan Perancis setelah menghilangkan perbedaan-perbedaan, bersemangat untuk menunjukkan pertambangan uranium tersebut, yang adalah sumber penghasilan terbesar negara Afrika Barat, dapat berlanjut.
Areva, yang dengan cepat mengevakuasi personil ekspatriatnya setelah penculikan tersebut, sekarang berencana untuk mengembalikan beberapa staf asing "dalam pekan-pekan mendatang", menurut laporan-laporan pers.
Namun negara tersebut masih tetap berhadapan dengan ancaman kelompok-kelompok bersenjata, kata jurnalis Nigeria Moussa Aksar, yang mempercayai "mereka berusaha untuk mengubah Nigeria menjadi sebuah pangkalan untuk Al-Qaeda di Sahel." AQIM mengklaim bertanggung jawab untuk serangan pertamanya di Nigeria pada akhir tahun 2008 ketika pihaknya menculik dua diplomat Kanada, yang dibebaskan pada April 2009.
Satu tahun kemudian, pria Perancis Michel Germaneau diculik, sebelum dieksekusi pada Juli kemarin setelah pasukan Perancis gagal menyelamatkannya selama sebuah serangan melawan AQIM di negara tetangga Mali.
Angkatan darat Nigeria terdiri dari sekitar 5.300 pria, dengan perhitungan kasar sama dengan jumlah anggota parlementer. AQIM membunuh satu lusin tentara dalam serangan akhir 2009 dan awal tahun ini. Lagi pula, untuk sebuah pasukan pertahanan kecil, negara tersebut juga memiliki perbatasan gurun pasir yang panjang dan berpori dan secara politik telah tidak stabil.
"Dengan kurangnya alat-alat logistik dan sumber-sumber intelijen, Nigeria kelemahan Sahel yang tidak terlindungi," kata seorang pejabat Tuareg yang berpengetahuan luas tentang masalah keamanan.
Nigeria utara adalah sebuah gurun pasir yang meliputi sekitar dua per tiga dari 1,2 juta kilometer persegi luas negara tersebut.
Selama bertahun-tahun negara tersebut telah sering dikunjungi oleh apa yang pemerintah sebut dengan "bandit-bandit bersenjata", sering mantan kelompok perlawanan Tuareg yang gagal untuk didemobilisasikan pada akhir tahun 2009 sejalan dengan sebuah pakta perdamaian yang ditandatangani antara Niamey dan orang-orang tradisional nomaden.
Tuareg bersenjata kemungkinan bekerjasama denagn AQIM, menurut sumber-sumber keamanan.
Gurun pasir utara "terbungkus penuh dengan gua-gua, lembah, pegununangan, labirin dan sampai persembunyian yang tak tertandingi untuk para pelaku kejahatan," kata Mohamed Agali, seorang pemandu wisata di Agadez, sebuah pangkalan bagian utara untuk para pelancong gurun pasir.
"Bahkan jika Anda memberitahukan seorang tentara setiap satu kilometer, ini memungkinkan untuk melihat di atas daerah tersebut," kata Mamane Salifou, seorang polisi kemiliteran kembali dari sebuah posting di utara.
Sementara mengingat kembali para tentara Nigeria telah terlatih untuk memburu AQIM oleh para pasukan Amerika, seorang petugas angkatan darat mengatakan bahwa "perang ini (tidak dapat) dimenangkan hanya dengan gudang persenjataan konvensional. Yang harus disatukan dengan intelijen yang dapat diandalkan." Para akhir ini Paris dan Niamey harus bekerjasama satu sama lain.
Perancis menyebar 80 pasukan di Nigeria untuk berusaha menemukan tempat di mana para sandera ditawan, namun AQIM dipercaya telah memindahkan para tawanannya ke sebuah bagian terpencil bagian utara Mali, dekat dengan perbatasan Algeria.
Mantan duta besar Nigeria untuk Libya, Issoufou Bachar, berpendapat bahwa tindakan tersebut darurat: "Al-Qaeda memiliki banyak simpatisan di Nigeria, yang mampu kapanpun menempatkan diri mereka sendiri pada penyelesaiannya bukan untuk apa-apa." (ppt/dn) www.suaramedia.com
- Maroko: Al Qaeda "Berikan Tangan" Untuk Rantai Narkoba
- LRA Harus Diperangi Seperti Memerangi Al Qaeda
- Sudan Selatan Bantah Peringatan Perpecahan Oleh Gaddafi
- Gaddafi Peringatkan Menyebarnya "Penyakit Menular" Sudan
- "Pembelaan" Untuk Presiden Zimbabwe Dianggap Aksi Putus Asa














