Menteri Informasi Sudan Selatan, Barnaba Marial Benjamin, mengatakan pada kantor berita BBC bahwa Afrika tidak terpecah ketika Eritrea memperoleh kemerdekaannya dari Etiopia tahun 1993.
Dia mengatakan bahwa pilihan rakyat harus dihormati, bagaimanapun mereka memilih.
Ketegangan meningkat di Sudan menjelang referendum yang akan dilaksanakan bulan Januari mendatang.
Pemungutan suara itu adalah bagian dari kesepakatan damai tahun 2005 yang mengakhiri konflik selama dua dekade antara wilayah utara yang didominasi kaum Muslim dan wilayah selatan yang didominasi umat Kristen dan penganut agama tradisional.
Pada hari Minggu (10/10), presiden Sudan Omar Al Bashir mengkritik pemimpin Sudan Selatan Salva Kiir karena mengatakan bahwa dia akan memilih kemerdekaan dan memperingatkan kemungkinan munculnya konflik baru.
Para pendukung kemerdekaan dan kesatuan bentrok di ibukota Khartoum pada hari Sabtu (9/10).
Mereka juga telah memperingatkan bahwa persiapan yang dibutuhkan untuk pemungutan suara telah dilakukan.
Sebuah delegasi dari utusan Dewan Keamanan PBB yang berkunjung minggu lalu mengatakan bahwa jadwal pemungutan suara bulan Januari sangat ketat tapi bisa dilakukan.
Namun Perwakilan Permanen Inggris untuk Dewan Keamanan, Mark Lyall Grant, mengatakan bahwa mereka ingin melihat sebuah dorongan terpadu untuk menyelesaikan banyak isu-isu utama yang beredar sebelum sebuah pemungutan suara bisa diadakan.
Salva Kiir sebelumnya meminta delegasi PBB untuk mengirimkan penjaga perdamaian di sepanjang perbatasan dengan utara menjelang referendum.
Antara delapan sampai 10 area di sepanjang perbatasan, termasuk ladang minyak Abyei, masih berada dalam sengketa dan analis mengatakan sebuah bentrokan di salah satu tempat itu bisa memicu konfrontasi militer. Kedua pihak memiliki pasukan di sana.
Pemimpin Libya Moamar Gaddafi memperingatkan pada hari Minggu (10/10) bahwa pembagian Sudan akan menjadi "penyakit menular" yang bisa menyebar ke negara-negara Afrika lainnya.
"Apa yang terjadi di Sudan bisa menjadi sebuah penyakit menular yang mempengaruhi seluruh Afrika," ujar Gaddafi dalam pembukaan KTT Arab-Afrika di kota Sirte, Libya.
"Kita harus mengakui bahwa peristiwa ini berbahaya," ujarnya, merujuk pada referendum tanggal 9 Januari tentang kemerdekaan Sudan selatan yang membuat negara terbesar di Afrika itu terbelah dua.
"Pembagian Sudan kemungkinan besar akan mengubah peta negara. Tapi negara-negara Afrika lainnya juga akan berubah," ujar pemimpin Libya itu dalam acara yang juga dihadiri oleh Presiden Sudan, Omar al Bashir.
Dalam draft deklarasi konferensi, para pemimpin Arab dan Afrika menekankan perlunya untuk menghormati kedaulatan, integritas wilayah, dan kemerdekaan Sudan. (rin/bbc/sm) www.suaramedia.com
- Peretas Berusaha Gagalkan Upaya Mandela Menjadi Presiden
- Mugabe Bajak Juara Reality Show Untuk Propaganda Politik
- Sok tahu, Barack Obama Disentil Wapres Pejabat Sudan
- Maroko: Al Qaeda "Berikan Tangan" Untuk Rantai Narkoba
- LRA Harus Diperangi Seperti Memerangi Al Qaeda














