“Pada bulan Agustus (2009), Presiden Jacob Zuma menyatakan bahwa para menteri yang baru diambil sumpah jabatannya memikirkan mengenai resesi ekonomi dan tidak lagi membelanjakan uang rakyat dalam jumlah besar untuk membeli mobil-mobil mewah.”
“Akan tetapi, ternyata pemborosan terus saja terjadi di sepanjang bulan Agustus dan September, mengakibatkan partai-partai oposisi mengangkat isu tersebut di parlemen dan serikat dagang,” demikian dituliskan dalam kawat tersebut.
Telegram yang dirilis WikiLeaks tersebut dibuat pada September 2009, namun baru dirilis pada hari Rabu, 8 Desember 2010.
Disebutkan bahwa krisis ekonomi global membuat pengeluaran negara dinilai kembali, dan pemerintahan Zuma seharusnya langsung melakukan hal itu di Afrika Selatan.
Kawat WikiLeaks tersebut menyatakan bahwa pemerintahan Zuma gagal memangkas pengeluaran dan dihadapkan pada “masalah kredibilitas.”
“Di satu sisi, pemerintahan tersebut mendorong pemenuhan kebutuhan rakyat miskin dan menganjurkan segenap rakyat Afrika Selatan mengencangkan ikat pinggang saat krisis ekonomi mendera, tapi di sisi lain, pemerintahan Zuma membiarkan adanya pembelanjaan uang negara secara berlebihan untuk membeli barang-barang mewah untuk pribadi,” tulis telegram tersebut.
Mantan menteri komunikasi Afrika Selatan, Siphiwe Nyanda, serta Blade Nzimande, menteri pendidikan tinggi yang juga merupakan pemimpin partai komunis Afrika Selatan disoroti oleh pihak konsulat sebagai dua pejabat pemerintahan yang memiliki kebiasaan belanja yang paling boros.
Nyanda, yang menghabiskan uang berpuluh-puluh ribu dolar untuk membeli kendaraan, menghabiskan uang paling banyak dari anggota kabinet lainnya, demikian diungkapkan dalam dokumen yang dibocorkan WikiLeaks.
Akan tetapi, pembelian kendaraan oleh Nzimande yang memicu kritikan paling banyak karena tindakan tersebut mengungkapkan adanya standar ganda yang dimainkan pemerintahan.
Telegram WikiLeaks tersebut menambahkan, secara politik, skandal “cargate” tersebut dapat memperlemah pemerintahan Zuma dan memicu semakin banyak protes, karena hilangnya kredibilitas berpotensi meningkatkan ketidakstabilan, kerusuhan, dan pelanggaran hukum secara umum.
Akan tetapi, dalam kawat WikiLeaks lain yang juga dirilis pada hari Rabu, Kedutaan Besar AS di Pretoria menyatakan bahwa terdapat “sejulah badai” dalam pemerintahan Zuma dalam beberapa tahun terakhir, dan ia menggunakan sejumlah taktik politik untuk menyelamatkan diri dan memberikan petunjuk pada gaya kepemimpinan dan kepribadiannya.
“Pada masa-masa paling sulit dalam beberapa tahun terakhir, Zuma enggan untuk bertindak dan hanya menunjukkan gelagat lemah untuk memerangi para penyerangnya. Hal ini konsisten dengan seorang pemimpin yang tahu benar kekuatannya, kekuatan yang cerdas.”
Telegram-telegram yang dirilis WikiLeaks baru-baru ini juga berfokus pada presiden Liga Pemuda ANC, Julius Malema, dan Thabo Mbeki, mantan presiden Afrika Selatan.
Sebuah telegram WikiLeaks yang berfokus pada Malema menyebutkan bahwa sudah semakin jelas Zuma menghormati Malema dan posisinya di ANC terlepas dari komentar-komentarnya.
Disebutkan bahwa Malema adalah salah satu tokoh paling bermulut besar dalam partai penguasa dan mendapat publisitas lebih banyak dari media dalam beberapa bulan terakhir dibandingkan dengan siapa pun.
Akan tetapi, tidak pernah diungkapkan apakah Malema berbicara atas namanya sendiri atau mendapat dukungan para pemimpin senior partai. (dn/il) www.suaramedia.com













