Sabtu, 18 Mei 2013

Headlines:

Kirim Turis ke Tunisia, British Airways Resahkan Inggris

E-mail Cetak PDF

TUNIS (Berita SuaraMedia) – 1.500 orang turis asal Inggris diselimuti ketakutan kemarin malam saat mereka terjebak di tengah kerusuhan yang berkecamuk di Tunisia.

Melihat baku tembak, jam malam militer dan orang-orang bersenjata tajam yang memenuhi jalanan di negara tersebut, para turis memohon agar ada lebih banyak penerbangan untuk membawa mereka pulang.

Di antaranya, ada sejumlah turis yang berlibur dan diterbangkan ke negara di Afrika Utara tersebut oleh maskapai British Airways pada hari Jumat, saat kekerasan tengah berada di puncaknya dan Kantor Luar Negeri dan Persemakmuran Inggris memerintahkan warga negaranya untuk pergi.

Dua kelompok turis yang masing-masing beranggotakan empat orang menjadi turis satu-satunya yang tinggal di hotel mereka sementara peluru berterbangan di luar hotel.

Seorang turis wanita yang terjebak di Hammamet menceritakan pengalamannya, "Sebelum kami pergi, kami menelepon British Airways dan bertanya apakah keadaan aman di Tunisia karena kami baru melihat ada kerusuhan di sana, dan mereka menjawab tidak masalah dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

Meski sejumlah penyelenggara paket tur seperti Thomas Cook dan Tui, pemilik First Choice and Thomson, melakukan penerbangan darurat untuk memulangkan seluruh penumpang segera setelah kekerasan pecah, BA mengatakan bahwa mereka tidak bisa mengubah jadwal mereka, dan tidak akan ada penerbangan pulang hingga Rabu besok.

Sementara itu, warga negara Inggris menghadapi kemungkinan dirampok dalam pemblokiran jalan yang didirikan para prajurit pemberontak dan warga sipil. Orang-orang yang mampu memasuki bandara langsung berteriak-teriak dan menggedor pintu-pintu dengan tongkat pemukul.

Jumlah kematian tidak resmi di Tunisia mendekati angka 100. Para penembak jitu yang setia pada pemerintahan presiden yang diberhentikan, Zine Ben Ali, ditembaki.

Seorang keponakan Ben Ali tewas ditikam, sementara toko-toko dan rumah-rumah miliknya dijarah seiring meningkatnya kekerasan geng.

Kabarnya, ada tiga orang polisi yang dibunuh.

Karena putus asa, para pemimpin politik menggelar dialog untuk membentuk pemerintahan baru yang semestinya diumumkan hari ini. Kerusuhan menyebar di seluruh kawasan dan dilaporkan ada sejumlah unjuk rasa di negaranya Gaddafi, Libya.

Dalam dua hari terakhir, ada lebih dari 3.000 turis dan ekspatriat Inggris yang dievakuasi. Tiga penyelenggara paket tur utama mengaku telah memulangkan sebagian besar klien.

Namun, masih ada sekitar 1.000 hingga 1.500 orang ekspatriat, turis pribadi, dan sekelompok kecil turis liburan yang masih ada di negara itu, kata Kantor Luar Negeri dan Persemakmuran. Para turis itu marah karena merasa diabaikan.

Kantor Luar Negeri dan Persemakmuran engatakan bahwa para penyelenggara tur yang penumpangnya masih ada di Tunisia adalah Cosmos, Trailfinders, Expedia, RCI, dan Saga, meski ada 116 penumpang Saga yang dipulangkan kemarin sore.

Alison Wallace dari Thomas Cook mengatakan, "Kami mengorganisasi enam penerbangan khusus pada hari Jumat untuk memulangkan 1.500 orang dari 1.800 pelanggan kami di Tunisia dan ada penerbangan-penerbangan tambahan di hari Sabtu dan Minggu untuk memastikan keamanan para pelanggan tidak berada dalam bahaya.

Seorang juru bicara Tui mengatakan, "Semua turis peserta paket liburan kami telah dipulangkan."

Namun, seorang juru bicara British Airways mengatakan, "Kami memiliki enam penerbangan seminggu ke Tunis, dan jika penerbangan-penerbangan itu penuh dipesan, kami tidak bisa memberikan tambahan untuk mengeluarkan orang-orang (dari Tunisia)."

Di Bandara Gatwick kemarin, para turis yang mampu meloloskan diri menangis saat menceritakan pengalaman mereka.

Laura Gibson, ibu dua anak, mengaku melihat mayat-mayat bergelimpangan di jalan dan barang bawaannya digeledah paksa oleh polisi bersenjata yang mencurigai ia membawa senjata.

Wanita 27 tahun asal Dunfermline itu mengunjungi suaminya yang warga Tunisia, Mouez Jraidi, 21, di Kasserine. Pasangan itu menikah September lalu. "Salah satu tetangga suami saya ditembak kepalanya di jalanan dan mayatnya ditinggal begitu saja saat kerusuhan berlanjut," katanya.

"Keadaannya mengerikan. Kami mengunci diri di rumah, namun bisa mendengar teriakan dari luar rumah. Mayatnya terlihat saat kami melongok ke luar jendela. Saya putus asa berusaha memulangkan anak-anak saya. Suami saya, saudara laki-laki, serta ayahnya mengantar kami ke bandara, namun kami dihentikan polisi bersenjata di tengah jalan. Mereka memaksa kami keluar dari mobil dan mengangkat tangan. Kemudian mereka membongkar koper saya untuk memeriksa apakah ada senjata," tambahnya.

"Pada akhirnya mereka membiarkan kami pergi, namun kami berulang kali dihentikan geng para pemuda yang mengaku melindungi wilayah mereka dari penjarah," kata wanita itu.

"Mereka membawa tongkat pemukul dan pisau lalu memeriksa mobil untuk mencari senjata. Tiap 45 meter, kami dihentikan oleh geng-geng bersenjata pemukul baseball dan pisau yang memblokir jalanan," tambahnya.

Mantan pengusaha, John Wells, 74, dan istrinya Jeanette, 73, asal Rugby, mengatakan bahwa mereka berusaha keluar dari negara itu selama tiga hari berturut-turut. (dn/dm) www.suaramedia.com

Sejarah Islam

Husen Bin Salam, Pendeta Yahudi Dengan Panggilan Islam Dihatinya
Ketika pertama kali mendengar kedatangan Nabi, H...More »

Berita Gadget Terkini

Apple Ingin Lepas Ketergantungan Terhadap Samsung
Dilansir BGR, analis teknologi dari firma RBC Ca...More »

Keajaiban Dunia

Sejarah Seribu Satu Malam Terancam Serangan Turis
Benteng tersebut membuka sejarah Irak ribuan tah...More »

Otomotif Terbaru

Zoe, Mobil Cantik Besutan Perusahaan Kosmetik
Sistem sirkulasi udara pada mobil tersebut, memb...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon