Pasukan koalisi yang dipimpin NATO meminta bantuan setelah mengakui bahwa mereka telah meremehkan kemampuan tempur dari pasukan Gaddafi.
NATO meminta Tunisia, Aljazair, Mesir, Nigeria, dan Chad menutup perbatasan masing-masing agar para pejabat tinggi dan perwakilan rezim Gaddafi lainnya tidak dapat lewat. Demikian juga dengan impor perangkat militer dan berbagai produk untuk tujuan ganda, termasuk kendaraan empat roda, demikian dilaporkan surat kabar Elkhabar.
Surat kabar itu juga menyebutkan bahwa Amerika Serikat meminta izin dari pemerintah Aljazair menggunakan wilayah udara negara tersebut untuk perlintasan pesawat angkut dan pesawat militer NATO untuk mengantisipasi kemungkinan pengerahan pasukan darat.
Tapi, karena negara tersebut sudah menolak permintaan serupa dari Perancis, kelihatannya permohonan itu juga akan bernasib serupa.
Dewan Keamanan PBB menyepakati resolusi penerapan zona larangan terbang di Libya pada 17 Maret lalu, meretas jalan untuk operasi militer melawan Gaddafi yang dimulai dua hari sesudahnya. Amerika Serikat menyerahkan komando kepada NATO pada akhir Maret lalu.
Meski pesawat-pesawat NATO telah melancarkan berulang kali serbuan terhadap pasukan Gaddafi, pasukan pemerintah Libya tetap mampu mempertahankan kemampuan tempur mereka dan terus menghajar pemberontak dengan tembakan artileri berat dan roket.
Ali al-Assaoui, kepala departemen hubungan luar negeri gerakan pemberontak yang menamakan diri Dewan Transisi Nasional Libya, mengatakan bahwa pemberontak membutuhkan bantuan militer dan persenjataan, serta tidak mengesampingkan bahwa "kekuatan Arab, Muslim, dan sahabat di tanah Libya" mungkin dibutuhkan untuk menggulingkan Gaddafi.
Sebelumnya, Inggris mengirimkan hingga 20 orang penasihat militer untuk membantu pemberontak Libya memecahkan kebuntuan dalam perang melawan pasukan Gaddafi. Pengiriman tersebut tetap dilakukan bahkan saat NATO mengakui bahwa serangan udara saja tidak mampu menghentikan pengeboman terhadap Kota Misrata setiap harinya.
Pasukan Gaddafi terus mendesak mundur pemberontak Misrata dengan tembakan mortir dan roket.
Para pemimpin Amerika Serikat, Inggris, dan Perancis mengatakan bahwa Gaddafi harus pergi, tapi agaknya mereka enggan melakukan upaya militer yang lebih keras. Mandat yang diberikan pada NATO hanya terbatas pada perlindungan warga sipil.
Laksamana Giampaolo Di Paola, ketua komisi militer NATO, mengatakan bahwa meski operasi militer yang dilakukan aliansi tersebut telah menimbulkan "kerusakan yang cukup signifikan" terhadap persenjataan berat rezim Libya, persenjataan yang dimiliki Gaddafi masih kuat.
Saat ditanya apakah dibutuhkan lebih banyak serangan udara, Di Paola mengatakan bahwa "tambahan signifikan" dalam bentuk apa pun akan disambut. (dn/nk/ao) www.suaramedia.com













