Kamis, 20 Juni 2013

Headlines:

Kritik Presiden Malawi, Diplomat Inggris Didepak

E-mail Cetak PDF

BLANTYRE (Berita SuaraMedia) - Malawi telah menyatakan "persona non grata" kepada diplomat tinggi Inggris dari bangsa Afrika selatan tersebut setelah kritiknya terhadap presiden bocor ke pers, para diplomat berkata pada hari Rabu.

"Saya minta maaf untuk menyampaikan berita bahwa Pemerintah Malawi telah resmi menginformasikan kepada Foreign and Commonwealth Office hari ini (Selasa 27/04) bahwa Fergus (Cochrane-Dyet) dinyatakan persona non grata," wakil konsul komisi tinggi Inggris Lindsay McConaghy menulis dalam memo, yang salinannya dilihat oleh AFP.

Sengketa tersebut berkisar pada memo yang bocor di mana Cochrane-Dyet mengatakan Presiden Malawi Bingu wa Mutharika menjadi "semakin otokratis dan tidak toleran terhadap kritik."

Dalam kabel diplomatik, yang diterbitkan oleh Nation mingguan awal bulan ini, komisaris tinggi juga mengatakan bahwa "situasi pemerintahan terus memburuk dalam hal kebebasan media, kebebasan berbicara dan hak-hak minoritas."

McConaghy  yang dikutip dalam memo mengatakan bahwa "akan ada konsekuensi serius untuk Malawi" dari deklarasi yang menurut istilah diplomatik sama dengan pengusiran.

Cochrane-Dyet diberikan 72 jam pada hari Senin untuk meninggalkan negara itu.

Artikel yang mengutip telegram diplomatik bocor yang diterbitkan dalam Nation Weekend itu menjelaskan Presiden Bingu wa Mutharika sebagai diktator.

Utusan itu juga menunjukkan bahwa ada hubungan yang tegang antara pemerintah dan donor.

"Beberapa duta besar telah dipanggil oleh Menteri Luar Negeri untuk penyampaian pesan tersebut. Orang lain (termasuk saya) telah dipanggil oleh saudara Presiden untuk pemberitahuan yang lebih halus dari pesan yang sama: menghentikan dukungan masyarakat sipil untuk menggoyahkan pemerintah."

Telegram diplomatik bocor tersebut ditulis setelah donor Malawi yang beroperasi di bawah Common Approach Support baru-baru ini mengingatkan negara atas catatannya yang memburuk.

Tak lama setelah deklarasi tersebut William Hague kemarin memerintahkan representatif Malawi paling senior keluar dari Inggris sebagai balasan.

Menggambarkan deportasi sebagai "tidak bisa diterima dan tidak beralasan",  Menteri Luar Negeri Hague mengatakan: "Ini merupakan tanda mengkhawatirkan bahwa Pemerintah Malawi mengeluarkan energinya dengan cara ini, daripada berfokus pada tantangan nyata, termasuk kebutuhan untuk memperbaiki tata pemerintahan."

Dia mengatakan dia telah meminta untuk "meninjau kembali dengan cepat hubungan kita yang lebih luas dengan Malawi".

Pejabat Malawi menolak memberikan komentar resmi pada hari Rabu tentang pengusiran Cochrane-Dyet.

Namun seorang pejabat senior di kementerian informasi, yang menolak disebutkan namanya, berkata kepada AFP: "Yang benar adalah bahwa utusan telah diusir, tapi semua orang takut untuk berkomentar karena keputusan untuk mengusir utusan Inggris datang dari State House dan bukan dari Kantor Presiden dan Kabinet."

Dia menambahkan: "Tidak ada yang ingin membakar jarinya atau terlihat bertentangan dengan presiden Setiap orang takut untuk berbicara."

Uni Eropa mengecam keputusan itu sebagai "tidak berdasar dan tidak pantas".

"Uni Eropa (UE) berpendapat bahwa keputusan pemerintah Malawi, yang ternyata berdasarkan laporan media yang belum dikonfirmasi dan dianggap kritik terhadap pemerintah, adalah tidak berdasar dan tidak pantas," katanya dalam pernyataan yang dikirim kepada kantor berita AFP.

Meskipun pemerintahannya telah sebelumnya mengancam akan mengusir Cochrane-Dyet, Mutharika tampaknya  harus mencoba untuk mengakhiri sikap tidak bersahabatnya pekan lalu ketika ia mengucapkan terima kasih pada Inggris karena telah "setia" mendukung bekas jajahannya.

Malawi merdeka dari Inggris pada tahun 1964 dan London tetap menjadi donor bilateral terbesar bagi negara miskin itu, di mana setengah dari 13 juta penduduk hidup di bawah garis kemiskinan dan kurang dari satu dollar sehari.

Tapi Inggris memangkas bantuan dengan £ 3.000.000 (3,4 juta euro, $ 4,9 juta) tahun lalu setelah menyatakan kekhawatiran bahwa pemerintah membeli pesawat jet $ 13.260.000 untuk Mutharika. (iw/afp/mr/sa) www.suaramedia.com

Sejarah Islam

Husen Bin Salam, Pendeta Yahudi Dengan Panggilan Islam Dihatinya
Ketika pertama kali mendengar kedatangan Nabi, H...More »

Berita Gadget Terkini

Apple Ingin Lepas Ketergantungan Terhadap Samsung
Dilansir BGR, analis teknologi dari firma RBC Ca...More »

Keajaiban Dunia

Sejarah Seribu Satu Malam Terancam Serangan Turis
Benteng tersebut membuka sejarah Irak ribuan tah...More »

Otomotif Terbaru

Zoe, Mobil Cantik Besutan Perusahaan Kosmetik
Sistem sirkulasi udara pada mobil tersebut, memb...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon