Para pejabat militer Inggris dan AS, serta para diplomat kedua negara secara pribadi saling menyalahkan, karena gagal untuk melanjutkan misi di Libya, di tengah jalan buntu NATO dalam melindungi warga sipil Libya.
Sebagaimana dilaporkan Press TV, Ahad (22/5), pemerintah London, yang tengah terjebak dalam rawa lain yang diciptakan oleh AS, menyerukan Washington untuk terlibat lebih tegas sebagai kekuatan utama dalam perang Libya.
Komandan militer Inggris percaya bahwa efektivitas kampanye pengeboman atas Libya terancam, karena tidak adanya kemampuan rudal dan kepemimpinan AS.
Di sisi lain, pejabat AS dan komandan militer negara itu mengkritik Inggris sebagai sekutu "gugup" dan tak terduga yang sering mengeluarkan "kartu merah." Hal ini melahirkan kebingungan dan sangat menghambat perencanaan yang tepat.
Perbedaan antara kedua sekutu tampak jelas pada hari Jumat, ketika Presiden Obama menulis surat kepada anggota parlemen AS, menggambarkan tindakan terhadap Libya sebagai misi "terbatas".
Perdana Menteri David Cameron juga kebingungan atas kurangnya kepemimpinan AS di Libya. Dia diperkirakan akan membahas masalah tersebut dalam pembicaraan dengan Obama di Downing Street pada hari Rabu.
"Tanpa keterlibatan AS, NATO tidak memiliki kepemimpinan yang kuat di Libya. Target serangan terus-menerus diubah atau dibatalkan karena sejumlah anggota tidak dapat menyetujui apa prioritas. Ini tidak terjadi ketika AS memimpin," kata sumber militer Inggris. (irib/pretv) suaramedia.com














