Pada hari Rabu (21/10) lalu, pemerintah Israel mengumumkan bahwa pihaknya telah menerima kepastian dari duta besar AS untuk PBB, Susan Rice, yang datang berkunjung ke Israel. Rice mengatakan bahwa AS akan terus berjuang melawan laporan Goldstone.
Goldstone, yang memimpin misi penemuan fakta yang dimandatkan oleh PBB guna menyelidiki pembantaian habis-habisan yang dilancarkan pasukan Zionis Israel di Gaza pada awal tahun ini, mengatakan kepada stasiun televisi Al Jazeera bahwa Presiden AS Barack Obama tampaknya masih belum memberikan keputusan mengenai laporan setebal 575 halaman tersebut. Dalam laporan tersebut, dibeberkan mengenai serangan Israel yang merenggut nyawa lebih dari 1.400 orang warga Palestina.
Goldstone berujar bahwa dirinya menunggu pemerintah Obama untuk menyampaikan apa saja yang dianggap "cacat" oleh AS dalam laporan penyelidikan tersebut. "Dengan senang hati saya akan menjelaskannya, jika saja saya tahu apa yang dipermasalahkan (oleh AS)."
"Pemerintahan Obama bergabung dalam rekomendasi kami dan menyerukan adanya investigasi secara menyeluruh dan jujur, baik di Israel maupun Gaza (Hamas), tapi anehnya AS mengatakan bahwa laporan ini cacat," tambah Goldstone.
Goldstone melanjutkan bahwa menurutnya, sebagian besar pihak yang melontarkan kritikan sama sekali belum membaca laporannya.
"Saya tidak meragukan hal itu, sebagian besar pengkritik belum membaca isi laporan," katanya. "Dan, saya rasa, yang membuktikan hal itu adalah tingkat kritikan mereka. Tingkat kritikan yang dilontarkan tidak sesuai dengan isi laporan."
Ahli hukum tersebut menekankan bahwa komisi yang dipimpinnya tidak mempertanyakan "hak Israel" untuk "mempertahankan diri" dalam melakukan operasi militer, namun lebih banyak berfokus pada penyelidikan cara tentara Israel (IDF) mempergunakan kekuatan mereka.
Dalam laporan Goldstone, yang pada pekan lalu mendapatkan dukungan dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC), sikap lebih kritis diambil terhadap Israel yang telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan di Gaza.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan Israel untuk diseret ke pengadilan internasional, jika tidak mampu melaksanakan investigasi domestik, Goldstone berkata, "menurut saya, memang seperti itu yang akan terjadi. Jika mereka (Israel) tidak melakukan investigasi yang benar, maka kasus ini tidak akan berhenti dan gugur, namun akan terus berlanjut."
Ketika ditanya mengenai inisiatif yang dilakukan oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mengubah hukum internasional mengenai tata cara penanganan "terorisme", Goldstone mengatakan bahwa Israel hanya melakukan upaya yang sia-sia.
"Saya rasa (tindakan Netanyahu) itu menyedihkan. Israel hanya melakukan tindakan sia-sia. Hukum internasional tidak bisa begitu saja dirubah hanya karena ada pihak tertentu yang tidak senang dengan peraturan peperangan," kata Goldstone.
"Menurut saya, tindakan itu salah, tidak patut dan amat disayangkan," kata Goldstone mengenai respon yang diberikan Israel terhadap laporan yang disusun oleh komisi pencari fakta PBB yang dipimpinnya. (dn/pv/jp) www.suaramedia.com Click Video














