Merkel dijadwalkan untuk bertemu dan berbincang dengan Presiden Barack Obama sebelum menuju ke gedung Capitol AS untuk menyampaikan pidato.
Dalam lawatan pertamanya ke AS sejak memenangkan masa jabatan kedua pada bulan September lalu, pemimpin Jerman tersebut diharapkan membicarakan mengenai masa depan hubungan transatlantik dan hari-hari runtuhnya komunisme Eropa sebelum Berlin menandai perayaan 20 tahun dengan festival pada tanggal 9 November mendatang.
Merkel menyebut undangan tersebut sebagai sebuah kehormatan besar, dan mengatakan bahwa dirinya akan mempergunakan kesempatan tersebut untuk menyampaikan ucapan terima kasih kepada AS yang telah mendukung unifikasi Jerman pada tahun 1990, 11 bulan setelah runtuhnya tembok pemisah.
Merkel, yang lahir dan tumbuh di Jerman Timur yang berhaluan komunis, menjadi Kanselir Jerman kedua yang pernah berbicara di hadapan jajaran dewan AS, setelah Konrad Adenauer pada tahun 1957 lalu. Merkel akan membahas serangkaian isu penting yang berperan strategis dalam hubungan kedua negara.
Diantara topik-topik yang diharapkan akan dibahas adalah isu Afghanistan, Iran, standar regulasi pasar keuangan dan perubahan iklim, kata juru bicara Merkel, Ulrich Wilhelm.
Undangan untuk Merkel, yang disampaikan oleh juru bicara dewan, Nancy Pelosi, telah mampu membungkam laporan-laporan media yang menyebutkan mengenai hubungan dingin antara Obama dan pemimpin Jerman tersebut, yang memiliki hubungan hangat dengan mantan presiden AS, George W. Bush, dari partai oposisi.
Namun Josef Braml, dari Dewan Hubungan Luar Negeri Jerman di Berlin, mengatakan bahwa Merkel terlalu naif jika berpikir bahwa tidak ada harga yang harus dibayar untuk sebuah penghormatan.
"(Undangan) itu hanya sebuah pertanda dimana mereka mengharapkan sesuatu sebagai imbalannya," katanya.
"Pemerintah Jerman harus melakukan lebih untuk membantu memikul beban komitmen internasional," khususnya di Afghanistan, kala Obama menghitung ulang mengenai penerjunan pasukan.
Dengan memiliki sekitar 4.200 orang prajurit, Jerman saat ini menjadi negara pengirim pasukan terbesar ketiga di negara yang dikoyak perang tersebut, setelah AS dan Inggris.
Menurut Braml, dengan berakhirnya pemilihan umum Jerman, Merkel kemungkinan akan mendapatkan permintaan untuk mengirimkan lebih banyak pasukan dan personil pelatih militer untuk Afghanistan, ditambah dengan lebih banyak uang untuk "menstabilkan" negara tetangga, Pakistan, dan dukungan terhadap sanksi PBB untuk Iran jika bersikeras mengenai program nuklirnya.
Jerman adalah salah satu mitra dagang utama Iran sekaligus salah satu dari enam kekuatan dunia yang berupaya untuk menyelesaikan perseteruan dengan Teheran.
"Tenggat waktu telah berakhir, kini kita harus menyampaikan sesuatu," kata Braml, ia memperingatkan bahwa sebuah penolakan beresiko besar untuk semakin menyusutkan pengaruh Berlin di Washington.
Merkel, yang bertumpu pada Bush untuk membuat keputusan mengenai perubahan iklim, juga berkeinginan untuk mendapatkan kemajuan sebelum digelarnya konferensi PBB di Kopenhagen pada bulan Desember mendatang, dimana 192 negara akan bekerja untuk mencapai kesepakatan dalam mengurangi emisi gas rumah kaca.
"Masih belum jelas apakah (pertemuan) Kopenhagen akan berjalan lancar. Namun negara-negara Uni Eropa, khususnya Jerman, akan mendorong kami untuk mencapai resolusi yang ambisius dan memandang jauh ke depan," kata Merkel.
Dialog antara Obama dan Merkel akan mengawali konferensu AS - Uni Eropa.
Kanselir Jerman tersebut juga tengah mencoba mendapatkan bukti bahwa AS bersikap serius mengenai aturan pasar baru untuk menghadang krisis keuangan global di masa mendatang.
"Krisis ekonomi dan finansial internasional masih belum dapat diatasi dan kami juga masih belum yakin bahwa krisis sedahsyat itu tidak akan terulang kembali," kata Merkel.
Jackson Janes, kepala Institut Amerika yang mempelajari Studi Kontemporer Jerman di Washington, berkata: "Ada banyak kekhawatiran di Berlin bahwa Washington tidak akan berupaya keras dalam melakukan reformasi dan akan kembali pada cara pandang lama."
Menteri Luar Negeri Jerman yang baru, Guido Weterwelle, sedianya akan tiba di Washington pada hari Kamis untuk berbicara dengan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton. (dn/af) www.suaramedia.com














