Selasa, 22 Mei 2012

Headlines:

Bantuan Preman Afpak Bawa Obama Dalam Dilema

E-mail Cetak PDF
WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Ketika Presiden Barack Obama mulai menjabat, ia mempersiapkan sebuah tinjauan kebijakan antar-agen mengenai kebijakan AS di Afghanistan dan Pakistan. Rekomendasi yang bersumber dari tinjauan tersebut disampaikan dalam sebuah dokumen pemerintah.

Dokumen tersebut merefleksikan opini dari kelompok-kelompok berbeda di Washington, namun dokumen tersebut masih kurang konsisten dan memperlihatkan berbagai kebijakan yang bertentangan, hal tersebut memicu terjadinya kekacauan, bukannya memperjelas perdebatan mengenai kebijakan pemerintah. Setelah dokumen tersebut dirilis, kebijakan AS di kawasan tersebut semakin berantakan.

Meski telah melakukan sejumlah kunjungan melalui utusan khusus AS, Richard Holbrooke ke wilayah tersebut, ditambah dengan diskusi dengan para pemimpin Afghanistan dan Pakistan, tidak ada perkembangan berarti yang terjadi dalam perang AS melawan Taliban di Afghanistan.

Sebaliknya, gerakan Taliban justru menjadi semakin agresif dan berada dalam kondisi yang lebih prima saat ini, dibandingkan dengan bulan Maret silam, ketika dokumen tersebut dirilis. Di sisi lain, Pakistan telah memulai operasi "anti-teror" secara agresif.

Memburuknya keadaan di Afghanistan juga telah diketahui oleh komandan AS di medan tempur Afghanistan, Jenderal Stanley McChrystal, yang pada bulan Agustus silam membeberkan pandangannya, yang cenderung mengkritik pemerintah, kepada Washington Post. Menurut Analisisnya, AS segera memerlukan tambahan 40.000 orang pasukan di Afghanistan untuk menghalau Taliban. Laporan tersebut kini tengah dipertimbangkan oleh Obama.

Isu Afghanistan telah menjadi sumber kekacauan sehubungan dengan keberadaan kebijakan AS yang bertentangan. Untuk meredakan situasi, langkah pertama yang harus diambil Presiden Obama adalah menyederhanakan argumen dan menanyakan kepada diri sendiri, apakah tujuan utama AS di Afghanistan. Apakah membangun negara, atau memenangkan pertarungan melawan Al-Qaeda.

Masing-masing pilihan memiliki pendekatan yang berbeda, dan jika dicampuradukkan, maka akan menimbulkan kebingungan dan membuat mustahil kemungkinan tercapainya strategi yang sukses. Oleh karena itu, Presiden Obama harus menemukan jawaban atas sejumlah pertanyaan dasar sebelum dapat tercapai jalur yang jelas untuk masalah Afghanistan.

Masalah Obama bermula dengan publikasi dokumen yang mengandung tujuan-tujuan yang saling bertentangan. Misalnya, rekomendasi pertama adalah menghancurkan jaringan mussuh-musuh AS di Afghanistan dan Pakistan. Hal tersebut dapat diartikan upaya melancarkan serangan terhadap Taliban. Akan tetapi, dalam konteks Afghanistan, dimana pemerintah dan kekuatan militer negara tersebut lemah, maka AS sejauh ini mengandalkan bantuan dari orang-orang kuat pribumi atau para preman.

Kebijakan semacam itu bukannya menjadi jalan keluar, namun merupakan permasalahan utama. Kekuatan para preman mengalir dari perdagangan obat-obatan terlarang, dan sudut pandang dan kepentingan mereka tidak bisa disejajarkan dengan pemerintah.

Jika para preman dipergunakan untuk membantu pemerintah, maka hubungan yang terjalin antara orang-orang itu dengan pemerintah akan menjadi hubungan majikan dan kendaraan. Situasi semacam itu semakin memperlemah negara dengan merusak proses dan memberikan informasi kepada para penduduk bahwa masalah mereka dapat diselesaikan dengan memelihara preman.

Misalnya saja, Ahmed Wali Karzai, saudara laki-laki Presiden Hamid Karzai, adalah penguasa Kandahar. Dia adalah orang kuat di sebelah selatan Afghanistan yang dijadikan gantungan AS untuk mengendalikan kawasan tersebut dan memastikan proses transit bahan bakar dan pasokan untuk para prajurit AS.

Hal serupa terjadi di kawasan Tajik dam Uzbek, pemerintah AS dan Afghanistan bergantung pada orang-orang yang terlibat dalam perdagangan obat-obatan terlarang.

Jika AS harus bergantung pada orang-orang semacam itu, maka kemungkinan besar AS tidak akan dapat meraih tujuan kedua dalam dokumen tersebut, yakni mempromosikan sebuah pemerintahan Afghanistan yang lebih cakap, dapat diterima dan efktif. Tidak ada negara yang dapat dibangun dan menjadi kuat jika batu bata yang dipergunakan untuk membangunnya adalah para kriminal.

Tidak heran bahwa tujuan tersebut tampak tidak mungkin. Hal itu menjadi semakin sulit ketika diketahui bahwa tentara nasional Afghanistan berisikan para pengikut kriminal. Hal yang sama terjadi pada perekrutan anggota polisi Afghanistan.

Dengan pilihan itu, maka Afghanistan akan diawasi oleh militer di darat, dan pesawat tanpa awak AS di udara. Namun, AS diharuskan untuk bekerjasama dengan para preman di daratan Afghanistan.

Oleh karena itu, proposal Jenderal McChrystal untuk mendatangkan lebih banyak pasukan adalah hal yang salah, dan semakin meningkatnya intensitas peperangan akan menambah jumlah kekalahan AS dan memperkuat perlawanan gerilya. Lebih lanjut lagi, tekanan yang diakibatkan oleh pasukan tambahan AS akan mendorong perang Afghanistan untuk memasuki wilayah Baluchistan dan lebih jauh menusuk ke dalam wilayah Pakistan.

Obama juga terancam gagal dalam pemilihan tahun 2012 jika terpuruk dalam konflik Afghanistan ditambah dengan meningkatnya jumlah tentara AS yang berjatuhan. (dn/dn) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon