"Jangkauan rezim Iran tidak berhenti di Timur Tengah, namun sudah mendunia dan mencapai Afrika serta Amerika Latin," kata Ayalon dalam sebuah pernyataan pers di hadapan para diplomat dan jurnalis di sebuah lembaga penelitian yang berbasis di Yerusalem.
"Di Amerika Latin, sebagian besar negara bukan hanya mengetahui ancaman penyusupan Iran di kawasan tersebut, namun mereka juga meresahkannya," kata Ayalon seperti dikutip oleh Efe.
Ayalon juga memperingatkan mengenai implikasi dan "bahaya terhadap keamanan dan perdamaian dunia" yang ditimbulkan oleh "rezim fanatik" di Teheran.
Dalam sebuah pernyataan, Kementerian Luar Negeri Venezuela membantah pernyataan Ayalon dan mengatakan bahwa ucapan tersebut adalah sebuah agresi baru terhadap rakyat Venezuela.
"Ini adalah sebuah bukti tambahan dari perilaku kasar, turut campur dan agresif terhadap rakyat dan pemerintahan pasifik seperti Venezuela," kata pihak Kementerian.
"Pemerintah Israel tidak punya moral, mereka membicarakan mengenai "pos jaga" di negara-negara Amerika Latin, padahal Israel adalah pemasok utama – setelah AS – senjata, bantuan teknis dan pasukan bayaran untuk perang dan kebijakan penghancur di negara tetangga Kolombia," tambah pihak Kementerian.
Venezuela mengatakan bahwa pihaknya memang memiliki hubungan kerjasama yang akrab dengan Iran untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan menciptakan perdamaian di sebuah dunia multikutub, yang merupakan sebuah manifestasi penciptaan dialog antar peradaban yang benar dan layak dipuji.
Dalam kesempatan lain, Presiden Venezuela, Hugo Chavez, memerintahkan peningkatan jumlah pasukan AS di sepanjang perbatasan Kolombia dan Venezuela. Hal itu dilakukan pasca pembukaan kembali tiga perbatasan setelah mengalami penutupan selama dua hari.
"Pelintasan menuju negara bagian Tachira, Venezuela, telah dibuka kembali," kata direktur bea cukai regional Kolombia, Edgar Alvarado, dalam sebuah wawancara via telepon dari kota perbatasan timur laut, Cucuta. Titik-titik masuk yang, menurut keterangan Alvarado, ditutup pada tanggal 2 November lalu adalah jalan masuk dari ekspor Kolombia kepada Venezuela yang mencatatkan nilai $6,1 miliar tahun lalu.
Hubungan diplomatik dan perdagangan antara dua negara tetangga di Amerika Selatan tersebut memburuk tahun ini setelah Presiden Kolombia, Alvaro Uribe, mengatakan bahwa sebuah kelompok gerilyawan kiri telah mendapatkan senjata yang aslinya dijual kepada pemerintah Venezuela. Sebaliknya, Venezuela mengkritik rencana Kolombia yang memperkenankan militer AS untuk mempergunakan tujuh basis militernya. Chavez kemudian bersumpah untuk mengakhiri impor barang dari Kolombia.
"Kami mengambil seluruh tindakan yang diperlukan, yaitu peningkatan unit (pasukan) di sepanjang area perbatasan," kata Chavez pada tengah malam melalui siaran televisi pemerintah. Wakil Presiden Venezuela, Ramon Carrizalez, sebelumnya mengatakan bahwa perbatasan tidak pernah ditutup.
Ekspor Kolombia kepada Venezuela, yang merupakan mitra dagang terbesar kedua, merosot 50 persen pada bulan September jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada bulan yang sama tahun sebelumnya, demikian disampaikan oleh badan statistik Kolombia minggu lalu.
Ketegangan juga meningkat setelah sekelompok pemain sepak bola, termasuk 9 orang warga Kolombia, ditemukan tewas di Tachira bulan lalu. Para pejabat Kolombia menyerukan agar hasil investigasi kasus tersebut dirilis kepada publik.
Menteri Luar Negei Kolombia, Jaime Bermudez, mengatakan bahwa tatanan masyarakat di Venezuela amat penting bagi penduduk Kolombia yang melintasi perbatasan, ia mengatakan bahwa tudingan bahwa para pemain bola tersebut memiliki hubungan dengan kelompok bersenjata bukanlah sebuah pembenar atas pembunuhan tersebut. (dn/xh/eu/bb) www.suaramedia.com














