Selasa, 22 Mei 2012

Headlines:

Kejanggalan Obama Dan Pengumuman Penting Perang Afghanistan

E-mail Cetak PDF
WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Di tahun 2007, Presiden George W. Bush berdiri di depan rak penuh buku untuk menginformasikan pada bangsa Amerika bahwa ia akan mengirim pasukan tambahan ke Irak.

Tadi malam waktu setempat, Presiden Obama dikelilingi oleh kadet-kadet West Point.

Obama pergi ke Akademi Militer AS untuk mengumumkan keputusan militer paling penting dalam kepresidenannya sejauh ini. Ia akan mengirim 30.000 tentara tambahan ke Afghanistan dan menyiapkan kerangka waktu untuk penarikan yang dimulai bulan Juli 2011. Seperti para pendahulunya, Obama mengambil sebuah langkah yang akan menguntungkannya.

Namun, apa yang tampak janggal dari penampilan langsung Obama di televisi pada Selasa malam itu adalah sikapnya yang menahan diri. Ia berdiri di atas panggung, sendirian, tidak ditemani oleh para jenderal dengan medali yang berkilauan, dan berpidato di hadapan para kadet yang duduk dalam barisan kursi yang rapi. Di akhir pidatonya, Obama turun dari panggung dan menjabat tangan para kadet, namun ia tidak berada di tengah kerumunan itu terlalu lama.

Pidatonya menenangkan, begitu juga dengan sikapnya. Obama mungkin adalah presiden di era televisi yang dapat membuat West Point tampak seperti wisuda kelulusan di Yale.

"Kemudian, di awal 2003, diambil keputusan untuk melakukan perang kedua di Irak. Perdebatan tentang perang Irak ini telah banyak diketahui dan tak perlu diulangi sini," ujar Obama, sebelum mengulangi beberapa kritik utama mengenai cara pemerintahan Bush menangani Irak. "Hari ini, setelah besarnya biaya yang kita keluarkan, kita akan mengakhiri perang Irak secara bertanggung jawab."

Presiden seringkali menggunakan Ruang Oval atau sebuah sesi bersama Kongres untuk pengumuman-pengumuman besar, namun beberapa pidato memerlukan lokasi yang lebih kreatif. Seringkali, kepandaian bersandiwara kepresidenan digunakan untuk menjawab kritik.

Bush, yang dituduh terburu-buru melakukan perang di Irak dan secara prematur mengklaim kemenangan, memproyeksikan kebijaksanaan dan refleksi jangka panjang tentang tahun 2007 dengan berdiri di depan rak buku Gedung Putih yang penuh dengan buku-buku tebal.

Obama, yang selama ini mendapat serangan dari Republikan, memilih akademi militer elit itu untuk menandai semangat tempurnya dan penghormatannya kepada militer.

Ia adalah presiden pertama yang menyelimuti dirinya dengan kemegahan dan patriotisme dari sebuah lokasi militer. Presiden Bill Clinton berbicara di West Point pada tahun 1993. Dan Bush berkunjung ke sana beberapa kali dalam masa jabatannya, termasuk untuk sebuah pidato kelulusan tahun 2002 di mana ia membahas perang melawan terorisme.

Sebagai seorang kandidat, Bush menyampaikan pidato kebijakan luar negerinya yang pertama pada tahun 1999 di kampus militer Citadel, South Carolina.

Obama juga bukan presiden pertama yang mewarisi – dan meneruskan – perang pendahulunya, namun retorikanya lebih menurun daripada presiden-presiden masa perang sebelumnya.

"Di masa krisis ekonomi ini, terlalu banyak teman dan tetangga kita yang kehilangan pekerjaan dan kesulitan melunasi tagihan, dan terlalu banyak rakyat Amerika yang khawatir pada masa depan anak-anak kita," ujarnya. "Sementara itu, kompetisi dalam perekonomian global telah semakin tajam. Karena itu kita tidak dapat mengabaikan ongkos yang harus kita bayar untuk perang-perang ini."

Dalam pidatonya di State of Union tahun 1995, Presiden Lyndon B. Johnson mengatakan hal yang sebaliknya, "Namun kita tidak boleh membiarkan mereka yang menembaki kita Vietnam untuk merebut keinginan dan tujuan semua rakyat Amerika. Bangsa ini cukup hebat, masyarakatnya cukup sehat, rakyatnya cukup kuat, untuk meraih tujuan kita di dunia sembari membangun masyarakat yang luar biasa di dalam negeri."

Semua presiden mengatakan bahwa perang mereka tidak akan berkepanjangan, mereka hanya menyampaikannya secara berbeda. Obama mengatakan bahwa komitmen pasukan Amerika tidak akan terbatas "karena bangsa yang paling menarik untuk saya bangun adalah bangsa kita."

Presiden Johnson menjanjikan dalam pidatonya tentang Teluk Tonkin tahun 1964, "Respon kita, untuk saat ini, akan terbatas dan sesuai. Kita bangsa Amerika tahu, meskipun yang lain tampaknya lupa, resiko dari menyebarnya konflik. Kami tidak mau perang ini meluas." (rin/nyt) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon