Namun, dengan semakin memburuknya iklim ekonomi AS, yang terlihat dari banyaknya jumlah lulusan universitas yang tidak mampu mendapatkan pekerjaan, bahkan hingga menembus rekor, maka pria 24 tahun yang menyandang gelar master komunikasi tersebut agaknya tidak memiliki banyak pilihan.
Oleh karena itu, Lawrence memilih untuk mendaftarkan diri dan akan segera menjalani pelatihan dasar kemiliteran, dan mungkin saja ia akan langsung menuju ke Afghanistan.
"Saya tidak bisa berbohong. Jika saya berada di tempat lain dan mampu mendapatkan penghasilan sebanyak enam digit, maka kemungkinan besar saya tidak akan memilih jalan ini," kata Lawrence, yang ayahnya merupakan seorang perwira militer. "Saya rasa ada banyak orang yang akan menyampaikan hal yang serupa. Namun, ketika Anda mendapatkan sebuah peluang, terkadang Anda harus menyambarnya dan menjalaninya."
Meski menjalani dua perang di luar negeri, ditambah dengan sikap publik AS yang semakin ragu dengan peperangan, tahun 2009 adalah sebuah tahun yang betul-betul banyak mendatangkan gelombang pendaftar baru bagi militer AS. Dalam tahun fiskal yang berakhir pada tanggal 30 September lalu, Departemen Pertahanan AS mampu memenuhi seluruh tujuannya untuk pertama kalinya sejak tahun 1973, dan mampu menghadirkan sekitar 169.000 orang anggota baru yang aktif.
Tren tersebut terus terjadi hingga bulan Oktober dan November, bahkan masih menunjukkan peningkatan kala Gedung Putih mempredebatkan mengenai jumlah pasukan tambahan yang akan dikirimkan ke Afghanistan. Pada hari Selasa lalu, Presiden Barack Obama mengumumkan bahwa angka yang ia pilih adalah 30.000 orang.
Meski ada sejumlah faktor pendorong yang mempengaruhi anggota-anggota baru tersebut untuk menjatuhkan pilihan kepada karir kemiliteran, situasi ekonomi AS – tidak diragukan lagi – memang menjadi faktor pendorong terbesar dalam mendatangkan gelombang pendaftar baru.
Tingginya angka pengangguran dan resesi global telah betul-betul merubah iklim perekrutan anggota militer AS, dan hal itu sama-sama diketahui oleh para pejabat Pentagon dan para anggota baru.
"Saya ingin mengatakan bahwa (banjir anggota baru militer AS) merupakan hasil kerja keras dari para prajurit saya yang menyampaikan pesan militer kepada publik," kata Kapten Joseph M. Miller, komandan perusahaan perekrutan Potomac, yang pernah dua kali menjalani misi di Irak. "Namun, saya juga harus mengakui bahwa situasi ekonomi (AS) memang membantu. Sebagian besar para pendaftar baru berasal dari kalangan alumnus universitas."
Di pusat perekrutan Arlington, tempat dimana Lawrence mendaftarkan diri, ada banyak spanduk yang memberitahukan bahwa masa tugas selama dua tahin atau lebih akan mendapatkan imbalan hingga $50.000.
Meningkatnya angka pengangguran pada tahun lalu membuat jumlah anggota baru militer bertambah 70.045 orang, angka tersebut lebih tinggi 5.000 orang dibandingkan dengan target jumlah anggota baru militer yang dicanangkan sebelumnya, masih ditambah dengan 23.684 tentara cadangan. Gelombang pendaftar baru tersebut juga mampu melampaui tujuan peningkatan kualitas sumber daya manusia, menarik perhatian para lulusan SMU, universitas dan bahkan jenjang pascasarjana.
Kim sungjae adalah salah satu anggota baru yang yang memiliki kualifikasi tinggi. Pria kelahiran Korea Selatan berusia 26 tahun tersebut pindah ke AS sekitar 10 tahun lalu, ia mendapatkan gelar master akuntansi. Namun, musim semi lalu ia dilanda kekhawatiran mengenai lapangan kerja dan penghidupan di AS.
"Saya adalah seorang siswa internasional, namun saya tidak mampu menemukan pekerjaan, terutama dengan krisis keuangan ini," kata Kim.
Berkat program militer nasional, yang menarget orang-orang asing yang memiliki kemampuan medis atau bahasa tertentu, Kim, yang mampu berbicara dalam bahasa Korea, dapat bergabung dengan militer AS. Pada bulan September lalu, ia menjadi warga negara AS.
Insentif ekonomi untuk bergabung dengan milier cukup jelas, khususnya dalam masa kemerosotan ekonomi. Menurut Bill Carr, asisten menteri pertahanan untuk kebijakan personel militer, rata-rata bonus berkisar pada angka $14.000, diatas angka $9.000-$10.000 yang dikeluarkan oleh Departemen Pertahanan untuk biaya iklan dan tunjangan prajurit. Dari seluruh unit militer, angkatan darat AS memiliki pengeluaran yang paling besar, terkadang dua kali lipat dari angka rata-rata.
Akan tetapi, sejumlah pengamat mengkhawatirkan adanya peningkatan masalah dalam negeri dan juga operasi militer di luar negeri.
"AS adalah negara bangkrut – sistem pendidikan mengalami penurunan, keadaan ekonomi semrawut, tingkat kemiskinan dan tunawisma terus bertambah – akan tetapi kita terus membangun kekuatan di Afghanistan, mengirimkan puluhan ribu anak-anak muda yang mengalami tekanan ekonomi ke sana (Afghanistan) dengan biaya jutaan dollar per orang," tulis Bob Herbert pada harian New York Times edisi Selasa, pasca pengumuman tambahan pasukan Afghanistan dari Presiden Obama. (dn/tn) www.suaramedia.com














