"Kami tahu tentang klaim Iran tersebut," ujar juru bicara departemen, Philip Crowley, pada hari Selasa. "Saya tidak memiliki informasi tentang hal itu."
"Saya tidak akan mengatakan hal lainnya," ujarnya.
Shahram Amiri, seorang peneliti di Universitas Malek Ashtar, hilang di kota Madinah, Arab Saudi, saat menunaikan ibadah umroh awal tahun ini.
Ia adalah satu di antara beberapa warga negara Iran yang menurut Teheran ditahan secara ilegal oleh pemerintah AS.
Pada hari Selasa, Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki menuduh AS menculik peneliti itu.
"Berdasarkan data yang kami miliki, Amerika berperan dalam penculikan Shahram Amiri," ujar Mottaki.
"Karena itu kami berharap pemerintah AS mengembalikannya," tambahnya.
Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri Ramin Mehman Parast mengatakan bahwa pemerintah Riyadh telah mengirim Amiri ke AS.
Mehman Parast mengatakan bahwa 11 warga negara Iran saat ini ditahan di penjara-penjara AS, "Shahram Amiri adalah salah satu dari para tahanan itu."
Awal Desember ini AS mengungkapkan bahwa Amir Hossein Ardebili, warga Iran yang menghilang di Georgia dua tahun lalu, ditahan di sebuah penjara di Philadelphia.
Pemerintah Georgia, menyerahkannya pada pemerintah AS di tahun 2008.
Amiri menghilang beberapa bulan sebelum pengungkapan fasilitas pengayaan uranium di dekat kota Qom, yang oleh AS dan sekutunya dituduh telah dibangun dengan diam-diam oleh Iran.
Kronologi waktunya membuat para pakar mempertanyakan kemungkinan Amiri telah memberikan informasi kepada Barat tentang fasilitas itu atau tentang bagian lain dari program nuklir Iran.
Penemuan fasilitas itu adalah sebuah kudeta bagi intelijen Barat. Iran membantah telah mencoba menyembunyikan situs tersebut, bersikukuh bahwa belum diperlukan untuk mendeklarasikannya kepada IAEA.
Pejabat AS mengatakan bahwa berbagai sarana intelijen, terutama satelit mata-mata, digunakan untuk mengungkapkan situs Qom dan fungsinya, namun mereka tidak menspesifikasi apakah sumber-sumber intelijen mereka mencakup warga negara Iran yang berada di darat.
Tak banyak yang diketahui tentang Amiri dan nasibnya masih menjadi setelah lebih dari empat bulan.
Iran telah meminta informasi kepada Arab Saudi mengenai keberadaannya namun belum mendapat jawaban. Kerabat Amiri telah beberapa kali berunjuk rasa di luar kedutaan besar Arab Saudi di Teheran untuk meminta informasi.
"Rakyat Iran mungkin khawatir bahwa Amerika terlibat dalam penculikannya," ujar Meir Javendanfar, analis kelahiran Iran yang bekerja pada wadah pemikir Timur Tengah, Meepas. Ia mengangkat kemungkinan Amiri bersedia memberikan informasi kepada Barat, terlepas dari klaim Iran bahwa ia ditahan di Saudi.
"Ada kemungkinan ia dibawa pergi dengan menggunakan limosin, dan bukan dengan dihempaskan ke bagian belakang mobil," ujar Javendanfar.
Koran Arab, Asharq Al Awsat, yang dimiliki oleh seorang pengusaha Saudi, melaporkan minggu lalu bahwa Mottaki membuat keluhan resmi kepada sekjen PBB Ban Ki-moon tentang hilangnya Amiri dan beberapa warga negara Iran lainnya, beberapa dari mereka ditakutkan telah memberikan informasi nuklir kepada Barat. (rin/pv/ny) www.suaramedia.com














