"Saya telah memerintahkan pasukan bersenjata untuk melakukan segala upaya untuk menyelamatkan gubernur Caqueta dan orang-orang lainnya yang diculik oleh para bandit," kata Uribe kepada para wartawan pada hari Selasa waktu setempat.
Sebuah unit pasukan pemberontak revolusioner sayap kiri (FARC), kelompok pemberontak tertua di kawasan Amerika Latin, menculik Luis Francisco Cuellar pada hari Senin lalu dari kediamannya.
"Kami harus mengerahkan kekuatan militer penuh, ditambah dengan operasi penyelamatan dari kepolisian," kata Uribe. Dia menambahkan, "Kami tidak akan kalah dengan para teroris."
Kelompok pemberontak tersebut melemparkan granat di kediaman Cuellar di Florencia, ibukota dari provinsi Caqueta. Mereka juga sempat terlibat baku tembak dengan pasukan keamanan Kolombia sebelum menculik gubernur tersebut dan melarikan diri dari lokasi kejadian. Satu orang penjaga tewas dalam baku tembak tersebut.
Para pemberontak menyamar dengan mengenakan seragam yang serupa dengan seragam polisi.
Kepada stasiun televisi Caracol, sekretaris provinsi, Edilberto Ramoneldo, mengatakan, "Gubernur berada di bawah ancaman, oleh karena itu, beliau meminta perlindungan ekstra."
Sementara itu, pelaksana jabatan gubernur Caqueta, Patricia Vega, mengatakan kepada radio setempat bahwa Luis Cuellar telah dipastikan terbunuh.
Cuellar mulai menjabat sebagai gubernur pada bulan Januari 2008. Provinsi Caqueta adalah lokasi perundingan perdamaian antara FARC dan pemerintah Presiden Kolombia terdahulu, Andres Patrana, yang berkuasa dari tahun 1998 hingga 2002. Perundingan tersebut berujung pada kegagalan.
Uribe menolak melakukan dialog politik dengan FARC, yang diperkirakan memiliki 7.000 orang anggota.
Tahun lalu, sejumlah tawanan kelas atas FARC, termasuk politisi berdarah Perancis-Kolombia, Ingrid Betancourt dan tiga orang warga negara Amerika, diselamatkan dari lokasi penyekapan di tengah hutan.
Peristiwa pembunuhan gubernur tersebut berpotensi semakin memanaskan hubungan antara Kolombia dan negara tetangganya, Venezuela. Presiden Alvaro Uribe dari Kolombia menuding Venezuela telah memberikan tempat berlindung bagi kelompok pemberontak Kolombia.
Beberapa waktu lalu, Presiden Chavez membantah bahwa pemerintahan sosialisnya telah melindungi para gerilyawan penganut Marxisme. Ia memperingatkan militer Kolombia agar tidak mengirimkan prajurit untuk melintasi perbatasan kedua negara.
"Kalian akan menyesal," kata Chavez memperingatkan Kolombia. "Kami bukan negara yang tidak memiliki senjata."
Chavez menuding Kolombia telah dengan sengaja memberikan ijin kepada AS untuk mempergunakan pangkalan militernya untuk mempersiapkan kemungkinan serangan terhadap Venezuela.
Baik AS maupun Kolombia kompak membantah tudingan tersebut, keduanya mengatakan bahwa kehadiran kekuatan militer AS di Kolombia hanya untuk misi tunggal, yaitu memberikan dukungan kepada Kolombia untuk memerangi para pengedar obat-obatan terlarang dan gerakan pemberontak. (dn/pv/mc/re) www.suaramedia.com














