Obama telah diperingatkan mengenai ancaman udara dengan tingkat tinggi sebelum hari Natal dalam sebuah briefing dengan lembaga intelijen AS, demikian disebutkan oleh majalah berita AS, Newsweek, pada hari Jumat.
Presiden AS tersebut mendapatkan informasi rahasia dalam sebuah pesan tertulis yang diber judul "Ancaman Penting Dalam Negeri", pesan itu disampaikan tiga hari menjelang perayaan Natal, demikian kata seorang pejabat AS yang tidak menyebutkan namanya seperti dikutip oleh Newsweek.
Pejabat berpangkat tinggi tersebut tidak bersedia menjabarkan rincian lebih lanjut mengenai dokumen tersbut.
Sementara itu, seorang sumber pemerintahan lainn kabarnya telah mengatakan kepada para wartawan pada akhir bulan Desember 2009. Ia mengatakan bahwa pemerintah AS memiliki "potongan-potongan" data rahasia yang , jika disatukan, akan dapat mencegah serangan tersebut atau setidaknya dapat dipergunakan untuk mengetahui lebih banyak mengenai sang penyerang serta memastikan bahwa sang penumpang tidak dimasukkan dalam daftar larangan terbang.
Pada tanggal 25 Desember, warga negara Nigeria, Umar Farouk Abdulumtallab, mampu menaiki pesawat penumpang Delta Airlies sebelum pihak berwenang menangkapnya karena sebuah upaya untuk meledakkan bom yang disembunyikan di pakaian dalamnya ketika pesawat melintasi Detroit.
Peristiwa tersebut membuat simpul keamanan dan pemeriksaan diperketat,diusulkan pula mengenai pemindai seluruh tubuh di bandara-bandara AS setelah pihak berwenang memperingatkan mengenai "plot yang lebih besar" dari Al-Qaeda untuk mengancam keamanan nasional AS.
Pada hari Sabtu, Obama, yang sebelumnya telah memerintahkan serangan udara di Yaman, menuding Al-Qaeda telah "mempersenjatai dan melatih" Abdulmutallab untuk "meledakkan" pesawat penumpang teresbut.
Dalam sebuah pidato yang dialamatkan kepada seluruh rakyat AS dari lokasi berlibur Obama di Hawaii, presiden kulit hitam pertama AS tersebut berjanji untuk "membuat Al-Qaeda mempertanggungjawabkan serangan tersebut."
"AS tengah berada dalam perang dengan sebuah jaringan yang menyebarkan kekerasan dan kebencian," kata Obama.
"Kami tahu bahwa dia (Abdulmutallab) telah pergi ke Yaman, sebuah negara yang berkutat dengan kemiskinan dan pemberontakan mematikan," kata Obama, merujuk kepada pria 23 tahun putra bankir Nigeria tersebut.
"Tampaknya dia telah bergabung dengan sebuah kelompok yang berhubungan dengan Al-Qaeda, dan kelompok Al-Qaeda tersebut melatihnya, mempersenjatai dia dengan bahan peledak dan mengarahkannya untuk menyerang pesawat yang menuju ke Amerika," tambah Obama.
Para kritikus meyakini bahwa kebijakan keamanan yang baru bertujuan untuk membesar-besarkan ancaman Al-Qaeda guna membenarkan intervensi AS di kawasan Timur Tengah.
Washington menuding Al-Qaeda di Yaman, lebih dari delapan tahun setelah AS memimpin invasi kontroversial di Afghanistan, yang kabarnya diarahkan untuk membasmi kelompok tersebut dan menangkap pemimpin utama gerilyawan, termasuk Osama bin Laden.
Menurut data yang dikeluarkan oleh PBB, penduduk sipil Afghanistan menjadi korban utama dalam perang tersebut. (dn/pv) www.suaramedia.com














