Umar Farouk Abdulmutallah, 23, pertama kali tampil di hadapan pengadilan AS pada hari Jumat waktu setempat di kota Detroit, untuk mendengarkan enam tuntutan yang dilayangkan kepadanya atas upaya peledakan bahan peledak yang dijahit di pakaian dalamnya ketika berada di atas pesawat trans atlantik Northwest Airlines.
Pemuda berusia 23 tahun tersebut tetap tidak banyak mengeluarkan kata-kata dalam kemunculan singkatnya di pengadilan Detroit tersebut, dimana Mark Randon, seorang hakim AS, memasukkan pernyataan tidak bersalah atas nama Abdulmutallab.
Koresponden Al Jazeera, Tom Ackerman, mengatakan bahwa hal tersebut mungkin mengharuskan pemerintah untuk menyediakan bukti yang diperlukan atau bernegosiasi dengan sang terdakwa agar memasukkan pembelaan yang lain.
"Semestinya ada banyak saksi mata, sehingga pemerintah tidak harus bergantung pada pembelaan dari dia (Abdulmutallab).
Ackerman mengatakan bahwa Abdulmutallab dituntut atas upaya pembunuhan 290 orang penumpang yang menaiki pesawat tersebut.
"Namun tuduhan tersebut bukan tuduhan dengan ancaman hukuman terpanjang. Yang paling serius dari keenam tuduhan tersebut adalah upaya penggunaan senjata pemusnah massal," katanya.
Ackerman menambahkan bahwa Abdulmutallab bisa ditahan tanpa batas waktu karena dianggap memasuki wilayah AS tanpa ijin.
Dia menambahkan bahwa ada sekitar 100 orang penduduk Detroit – yang memiliki salah satu komunitas Arab terbesar di luar Timur Tengah – menggelar unjuk rasa di luar gedung pengadilan untuk memprotes pemerintah AS dan Al-Qaeda, yang menurut mereka telah mencoreng citra semua orang Muslim.
Abdulmutallab, yang diduga memiliki keterkaitan dengan Al-Qaeda, kabarnya gagal memicu bahan peledak di sebuah perbangan dari Amsterdam menuju Detroit, dan hal tersebut membuat banyak pihak bersiaga.
Hal itu khususnya membuat AS menerapkan sistem pemindaian baru dan pemeriksaan keamanan yang lebih keras di bandara-bandara udaranya. Ada puluhan nama yang telah ditambahkan ke dalam daftar larangan.
Presiden AS Barack Obama pada hari Kamis waktu setempat memerintahkan pemeriksaan menyeluruh terhadap kegagalan dinas intelijen AS, namun ia mengatakan bahwa pada akhirnya dirinya juga turut bertanggung jawab.
Obama mengatakan bahwa badan intelijen AS memiliki informasi yang diperlukan untuk mencegah upaya peledakan, namun gagal menghubungkan dan memahami potongan-potongan data yang ada.
Dalam pemeriksaan tersebut, juga termasuk penyebaran laporan intelijen dalam waktu yang lebih cepat, ditambah dengan analisis yang lebih mendalam terhadap data intelijen yang ada dan pemeriksaan serta pengawasan terhadap penumpang pesawat.
Namun, ia memperingatkan "Tentu saja, tidak ada solusi yang benar-benar mudah."
Gedung Putih juga merilis laporan pada hari Kamis waktu setempat. Laporan tersebut membahas bagaimana warga Nigeria tersebut mampu menembus barikade pengawasan aparat keamanan dan menaiki pesawat tersebut dengan membawa bahan peledak.
Rangkuman setebal enam halaman yang diserahkan kepada Obama tersebut menyatakan bahwa para pejabat dinas intelijen AS telah menerima potongan-potongan data intelijen pada awal bulan Oktober untuk mengidentifikasi pemuda Nigeria berusia 23 tahun tersebut sebagai anggota Al-Qaeda dan melarangnya menaiki pesawat.
Namun, para agen tersebut tidak meningkatkan fokus terhadap ancaman dan tidak menyatukan potongan-potongan data yang diperlukan untuk membongkar skema tersebut, demikian tertulis dalam laporan tersebut.
Obama mengatakan bahwa kejadian tersebut bukan merupakan kesalahan orang per orang atau organisasi, namun sebuah kegagalan sistem dari seluruh organisasi dan agen rahasia.
"Saya tidak terlalu suka menimpakan kesalahan dan mengoreksi kesalahan tersebut untuk membuat kita lebih aman. Pada akhirnya, segalanya bermuara pada diri saya," tambah Obama.
"Sebagai seorang presiden, saya memiliki tanggung jawab untuk melindungi negara dan rakyat kita. Ketika terjadi kegagalan sistem, hal itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya." (dn/aj) www.suaramedia.com
- Caracas: Provokasi AS Untuk Pancing Venezuela
- Incar Popularitas, Penantang Obama Bergabung Dengan Fox News
- Frustasi, Ketua Senat Demokrat Sindir "Kulit Terang" Obama
- Clinton: Perbatasan Dan Yerusalem, Kunci Perdamaian Timur Tengah
- Mullen: AS Takkan Kirimkan Pasukan Ke Yaman














