Pada hari Minggu (17 Januari 2010), dalam sebuah acara TV mingguan, Chavez mengolok-olok pasukan militer AS yang dikirim ke Haiti sebagai "pasukan yang dipersenjatai seperti tentara mau perang".
"Saya baca bahwa 3000 tentara berdatangan, para marinir dipersenjatai seperti tentara yang akan berperang. Disana, senjata tidak kurang-kurang. Ya ampun. Dokter, obat-obatan, bahan bakar, rumah sakit di tanah lapang, itulah yang seharusnya dikirim oleh AS," kata Chavez.
"Yang paling penting, Anda tidak melihat mereka di jalanan. Apakah mereka mengangkati mayat-mayat? ... Apakah mereka mencari korban yang terluka? Anda tidak melihat semua itu. Saya belum melihat mereka. Dimana mereka?" lanjut Chavez.
"Mereka mengokupasi Haiti secara terselubung", tandas Chavez.
Pentagon menyatakan bahwa 10.000 pasukan AS dikirim ke Haiti guna membantu para korban gempa yang menghantam Hiti pada Selasa (12 Januari 2010). Pada hari Jumat (15 Januari 2010), para penerjun payung dari Divisi Airborn ke-28 mengendalikan bandara utama di ibukota Haiti, Port-au-Prince.
Chavez bukan orang pertama yang melontarkan kritik terhadap kehadiran pasukan AS di haiti. Pada hari Sabtu (16 Januari 2010), Presiden Nikaragua, Daniel Ortega menyatakan keprihatinanya terhadap kehadiran pasukan AS di negara Karibia tersebut.
Di masa lalu, AS telah banyak menuai tuduhan bahwa negara itu turut campur dalam urusan dalam negeri Haiti. Militer AS berperan dalam perginya mantan Presiden Jean-Bertrand Aristide keluar negeri sebelum masa pemerintahannya yang kedua kali berakhir pada awal 2004. Aristide menyebut kepergiannya sebagai sebuah penculikan.
Meski berkomentar pedas, Chavez menyatakan bahwa ia tak bermaksud menyurutkan upaya kemanusiaan yang diambil oleh AS. Ia hanya bermaksud mempertanyakan apa perlunya mengirim sedemikian banyak pasukan.
Chavez berjanji bahwa Venezuela akan mengirim bensin sebanyak yang diperlukan untuk transportasi dan produksi listrik di Haiti. Caracas telah mengirim beberapa pesawat beserta para dokter, bantuan, dan beberapa tentara ke Haiti. Disamping itu, sebuah misi Rusia-Venezuela akan diberangkatkan ke Haiti pada hari Senin.
Gempa berskala 7,0 yang terjadi di Haiti diperkirakan telah menewaskan sekitar 200.000 orang dan memusnahkan kediaman 1,5 juta orang. Sejauh ini, 70.000 mayat telah diangkat dari reruntuhan.
Pengkhotbah evangelis AS Pat Robertson menyebut gempa tersebut sebagai kesalahan rakyat Haiti sendiri, mengatakan bahwa negara itu "membuat perjanjian dengan iblis" pada pembentukannya.
"Sesuatu terjadi dahulu kala di Haiti, dan orang-orang mungkin tidak ingin membicarakannya," ujar Robertson dalam acara miliknya The 700 Club di Christian Broadcasting Network.
"Rakyat Haiti dulu dijajah Perancis. Kemudian mereka bersatu dan membuat perjanjian dengan iblis," ujar mantan kandidat presiden berusia 80 tahun itu.
"Mereka mengatakan, Kami akan melayanimu jika kau membebaskan kami dari Perancis.Kisah nyata. Lalu, sang ibkis berkata, Baiklah kita sepakat," ujar televangelis itu.
Robertson membandingkan Haiti dengan tetangganya, Republik Dominika, yang berada dalam satu pulau, Hispanola.
"Republik Dominika adalah negara yang makmur, sehat, penuh dengan resor wisata. Sedangkan Haiti sangat miskin. Mereka perlu kembali pada Tuhan dan keluar dari tragedi ini. Saya merasa optimis sesuatu yang baik akan datang," ujarnya.
Dijajah selama berabad-abad oleh Spanyol lalu Perancis, Haiti memperoleh kemerdekaan di tahun 1804 melalui revolusi yang dipimpin oleh kaum budak, menjadi negara pertama di benua Amerika yang dipimpin oleh bangsa keturunan Afrika. (es/pv/rts) www.suaramedia.com














