Senat Komite Hubungan Luar Negeri AS merilis sebuah laporan segera setelah melakukan acara dengar pendapat pada hari Selasa. Laporan tersebut berisi dugaan sementara bahwa pada saat ini terdapat tiga lusin orang Amerika yang berada di Yaman untuk menjalani latihan militer di bawah Al-Qaeda. Dua lusin di antaranya adalah orang Amerika keturunan Somalia yang pernah mendekam di penjara AS. Mereka telah menghilang selama beberapa bulan terakhir dari St. Paul, Minnesota. Diduga, mereka bergabung dengan Al-Shabab, sebuah kelompok yang terkait dengan Al-Qaeda. Selusin orang yang lain adalah orang Amerika yang bepergian ke Yaman setelah menikahi wanita Yaman.
Para petugas anti terorisme AS bersikap waspada. Mereka menduga bahwa Al-Qaeda memperluas usaha rekruitmen mereka sehingga meliputi "pengikut non-tradisional". Perluasan rekruitmen ini ditujukan untuk mendukung operasi Al-Qaeda.
Laporan dari senat tersebut menunjukkan semakin berkembangnya kekhawatiran di AS terhadap sepak terjang Al-Qaeda. Ancaman keamanan terakhir yang dialami oleh AS adalah insiden di Detroit pada hari Natal tahun lalu. Pada saat itu, para penumpang sebuah pesawat jet di bandara di Detroit meringkus seorang pemuda yang mencoba menyelundupkan sebuah bom ke dalam pesawat. Bom tersebut disembunyikan di bawah pakaian dalamnya. Untungnya, bom tersebut gagal meledak. Pemuda tersebut, Umar Farouk Abdulmutallab (23 tahun), lantas dikenai dakwaan percobaan pembunuhan dengan menggunakan senjata pemusnah massal oleh dewan juri di pengadilan federal Michigan.
Para petugas anti terorisme AS merasa terkejut ketika mengetahui bahwa Abdulmuttalab ternyata adalah putera seorang bankir terkemuka di Nigeria dan ia memiliki visa untuk memasuki AS. Kenyataan itu menunjukkan bahwa ancaman keamanan sedang berubah wujud.
Laporan senat tersebut menunjukkan bahwa Al-Qaeda berupaya merekruit warga negara Amerika dan warga negara Yaman, Somalia, dan di dalam AS
Sebagai bentuk dukungan AS terhadap pemerintahan Yaman dalam menghadapi kelompok Al-Qaeda, AS meningkatkan bantuan ekonomi dan militernya untuk negara konflik tersebut.
Di tahun fiskal 2010, bantuan keamanan dan pembangunan untuk Yaman diperkirakan akan naik menjadi 63 juta dolar dari total 40.3 juta dolar di tahun fiskal 2009, ujar Darby Holladay, juru bicara Departemen Luar Negeri.
"Jumlah ini mewakili 56% peningkatan dari tahun fiskal 2009 dan 225% peningkatan dari tahun fiskal 2008," ujarnya.
"Bantuan pembangunan diberikan untuk mengatasi beberapa kondisi yang dieksploitasi oleh para teroris untuk rekrutmen."
Holladay mengatakan bahwa dana tersebut tidak termasuk dana kontraterorisme 1206, yang diprogram tahun ini.
"Belum ada kepastian penggunaan dana ini di tahun 2010. Di tahun 2009, Yaman mendapat bantuan dan peralatan senilai 67 juta dolar melalui dana 1206 untuk mendukung program kontraterorisnya dan pasukan penjaga perbatasannya."
Holladay menambahkan,"AS dan Yaman telah dan akan terus mengintensifkan kerjasama dalam kontraterorisme untuk mengatasi peningkatan ancaman terhadap AQAP (Al Qaeda di Semenanjung Arab)."
Pentagon, melalui dana 1206, telah membantu Yaman sejak tahun 2006 untuk melatih dan melengkapi pasukannya, termasuk memberikan mereka radio, suku cadang helikopter, truk dan perahu patroli, menurut Byan Whitman, juru bicara.
Di tahun 2006, dana itu hanya berjumlah 4.6 juta dolar.
Berdasarkan tren yang tengah berlangsung, bantuan militer semacam itu tampaknya akan meningkat dalam tahun mendatang. (es/st/sm) www.suaramedia.com
- Perusahaan Militer AS Cabut Senjata Yesus Dari Pentagon
- Chavez: Senjata Tektonik AS Penyebab Gempa Haiti
- Letakkan "Bom" Di Kepala, Yahudi Bikin Panik Penerbangan AS
- Kebebasan Internet, Doktrin Baru Hillary Clinton
- Tak Miliki Google Pribadi, Militer AS Gagal Lacak Terorisme














