Wesley Wark, seorang profesor dari Munk Centre of International Studies di Universitas Toronto, mengatakan bahwa wacana mengenai Ken Taylor, duta besar Kanada untuk Iran pada periode antara tahun 1977 dan 1980, mengumpulkan data intelijen untuk mempersiapkan penggerebekan komando AS untuk membebaskan puluhan orang tahanan AS, dapat membahayakan hubungan diplomatik Kanada saat ini.
"Para staf kedutaan mungkin akan berada pada situasi yang serupa dengan para staf kedutaan Kanada di Moskow pada saat pecah Perang Dingin," kata Wark. "Segalanya akan menjadi jauh lebih rumit."
Pernyataan Wark tersebut dilontarkan menyusul beredarnya buku baru yang menyebutkan bahwa Taylor adalah kepala cabang CIA secara de facto setelah kedutaan AS diambil alih oleh para mahasiswa Iran pada tanggal 4 November 1979.
Diantara orang-orang yang menjadi tawanan waktu itu, ada nama sejumlah diplomat papan atas AS dan empat orang agen CIA yang ditempatkan di Teheran. Penangkapan tersebut membuat Jimmy Carter, presiden AS kala itu, tidak memiliki kemampuan diplomatik maupun intelijen.
Dalam buku baru yang berjudul "Our Man in Tehran" yang ditulis oleh pakar sejarah Robert Wright tersebut disebutkan bahwa Taylor mengumpulkan data intelijen berdasarkan sebuah kesepakatan rahasia antara pemerintah Kanada dan AS.
Wright mengatakan bahwa Carter telah menyampaikan permintaan pribadi kepada Joe Clark, perdana menteri Kanada waktu itu, agar memerintahkan Taylor menjadi mata-mata AS untuk mempersiapkan kemungkinan operasi penyergapan yang diberi nama sandi Operation Eagle Claw (Operasi Cakar Elang). Operasi tersebut bertujuan utama untuk menyelamatkan para sandera.
Flora MacDonald, yang menjabat sebagai menteri luar negeri Kanada pada waktu itu, mengatakan bahwa pemerintahan Clark, yang kala itu tengah berada di tengah-tengah masa kampanye pemilu, menyatakan kesediaan untuk membantu Amerika dengan segala cara yang berada dalam batas kemampuan Kanada.
"Kami (pemerintah Kanada dan AS) dulunya adalah sekutu yang amat dekat," kata MacDonald dalam sebuah wawancara dengan Canwest News Service. "Namun kami melakukan hal yang amat membahayakan."
Ia mengatakan bahwa keputusan untuk menyembunyikan enam orng staf kedutaan AS yang mampu meloloskan diri dari penangkapan pada saat terjadi revolusi dan menyelundupkan mereka keluar dari Iran dengan disamarkan sebagai kru film asal Kanada, dilakukan begitu saja tanpa berpikir dua kali.
MacDonald mengatakan bahwa Taylor memang sudah terlibat dalam misi rahasia tersebut, Taylor mengepalai operasi penyelamatan yang di kemudian hari dikenal dengan sebutan "Canadian Caper", jadi mengumpulkan data intelijen yang lebih terperinci adalah sebuah hal yang wajar baginya.
Duta besar Kanada, bersama dengan seorang agen CIA yang menyebut diri dengan nama samaran Bob, yang dikirimkan ke Teheran setelah terjadi penyanderaan, merumuskan sebuah rencana terperinci untuk melakukan sebuah operasi rumit yang mengharuskan komando militer bergerak dari gurun, menuju kota, kemudian kembali lagi.
Taylor, bersama dengan Jim Edward, kepala keamanan di kedutaan besar Kanada, dan juga Bob, mengukur dan memperkirakan lokasi yang berpotensi dijadikan sebagai tempat pendaratan helikopter. Mereka juga mengatur penempatan sejumlah truk di lokasi rahasia.
"Saya siap melakukan apa yang mereka perintahkan," kata Taylor kepada Canwest News Service pada hari Minggu waktu setempat.
30 tahun lalu, Taylor dinyatakan sebagai pahlawan dalam krisis tersebut.
"Saya melakukan hal itu dalam kerangka operasi diplomatik Kanada yang biasa dilakukan."
Akan tetapi, pada titik inilah Wark tidak sependapat. Dia mengatakan bahwa jika Taylor pada hakikatnya melakukan operasi spionase untuk AS melalui kedutaan Kanada, maka hal itu tidak diperkirakan dan melampaui sebuah operasi "reguler".
Wark mengatakan bahwa para agen intelijen telah sejak lama beroperasi di luar negeri dengan mendapatkan "perlindungan resmi", dan bagi Kanada, menawarkan bantuan merupakan hal yang wajar. Dia mengatakan bahwa hal tersebut sesuai dengan tukar menukar data intelijen yang telah sejak lama dilakukan kedua negara, dan setelah para staf kedutaan AS ditangkap, mereka menjadi putus asa untuk dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.
Wright mengatakan bahwa cara penyampaian perintah pengumpulan data intelijen tersebut membuatnya mustahil untuk disebut sebagai jaringan spionase Amerika. Menurutnya, Taylor bekerja untuk sebuah operasi pemerintah Kanada yang kemudian membagi data intelijen yang diperoleh dengan pemerintah AS.
"Resiko strategis yang diambil amat tinggi," kata Wright. "Saya rasa hal itu hanya terjadi sekali seumur hidup, sebuah situasi yang amat tidak biasa."
Wark sependapat bahwa keberadaan seorang diplomat Kanada yang memberikan informasi untuk sebuah operasi militer merupakan hal yang tidak umum.
Ia mengatakan bahwa kekhawatiran terbesarnya adalah pukulan balik terhadap upaya Kanada di Iran.
Wark mengetengahkan bahwa peranan Kanada untuk membantu AS dapat dikompromikan jika para pejabat Iran bisa diyakinkan bahwa kedutaan besar Kanada bukanlah sarang mata-mata.
Istilah "sarang mata-mata" adalah nama julukan untuk kedutaan AS yang disematkan oleh para mahasiswa Iran yang menyerbu kedutaan tersebut pada tahun 1979.
Wark mengatakan bahwa skenario terburuk yang mungkin terjadi adalah gangguan terhadap para pejabat Kanada dan keengganan untuk bekerja sama. "Hal tersebut bisa berujung pada banyak hal, mulai dari negosiasi perdagangan hingga pembicaraan pelucutan senjata nuklir," katanya.
Hubungan antara Kanada dan Iran menjadi tegang sejak tahun 2003, ketika wartawan foto berdarah Kanada – Iran, Zahra Kazemi, tewas di dalam penjara Iran.
Tahun lalu, delegasi Kanada turut melakukan aksi walk out pada saat Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad berpidato di PBB.
Wark mengatakan bahwa riak-riak dari peristiwa penyanderaan tersebut masih tetap ada. Hingga tiga puluh tahun berselang, AS masih tidak memiliki kedutaan di Teheran, membuat Kanada menjadi objek pertanyaan para pejabat Iran yang sudah mewaspadai negara-negara Barat.
Seperti yang disebutkan Taylor, "tidak ada negara yang terus mengawasi Tel Aviv, Washington, London dan Moskow, seperti Iran."
Taylor mengatakan bahwa pengumpulan informasi tersebut dilakukan sendiri olehnya dengan bantuan para staf, dan hal itu membuat mereka semua berada dalam bahaya, namun ia mengatakan bahwa semua orang telah siap.
"Segalanya akan berantakan jika Iran memergoki kami melakukan operasi intelijen di dalam kedutaan besar Kanada, hal itu bisa menjadi sebuah bencana."
Tahanan AS yang tersisa pada akhirnya dibebaskan, 444 hari berselang setelah mereka ditawan, 20 menit setelah Presiden Ronald Reagan menjabat. (dn/vs) www.suaramedia.com
- Makin Jauh, AS Makin Bergulat Dengan Isu Afghanistan
- CIA: Al-Qaeda Siapkan Senjata Kimia Untuk Serang AS
- Dana Pentagon Tak Tersentuh Kebijakan Pembekuan Obama
- Hamburkan Uang Pelatihan, Departemen AS Menuai Hujatan
- Tolak Siarkan Pidato Chavez, Televisi Venezuela Dipenggal














