"Kami berada di Haiti selama kami dibutuhkan," ujar Kolonel Angkatan Darat AS Gregory Kane, direktur Pasukan Gabungan AS untuk operasi Haiti.
Ditanya seberapa lama misi mereka akan berlangsung, Kane menjawab, "Porsi militer dari operasi ini, jika kau mengikuti tren sejarah, mungkin 45 hingga 50 hari. Kemudian kau akan melihat penurunan, dan kau mungkin akan melihat agensi-agensi lain, aktivitas lain, baik internasional maupun AS, untuk maju dan mengambil lebih banyak peran."
Namun Kane menambahkan bahwa keputusan untuk menarik pasukan akan menjadi sebuah kebijakan dari pemerintah AS.
Hal ini sementara Perdana Menteri Haiti, Jean-Max Bellerive sebelumnya telah mengumumkan bahwa akan membutuhkan waktu setidaknya 10 tahun untuk membangun kembali negara yang hancur akibat gempa itu.
Pada tanggal 12 Januari, sebuah gempa mematikan mengguncang ibukota Port-au-Prince, menewaskan kurang lebih 212.000 penduduk dan membuat lebih dari satu juta lainnya kehilangan tempat tinggal.
AS telah mengirim 20.000 tentara ke Haiti untuk mengambil alih komando distribusi bantuan kemanusiaan.
Pentagon juga telah mengirim salah satu pesawat pengangkutnya yang terbesar ke Haiti, bersama dengan kapal selam angkatan laut dan penjaga pantai.
Militer AS telah mengurangi kehadirannya di Haiti dalam beberapa minggu terakhir, saat tim-tim yang dilatih untuk menangani situasi pasca gempa meninggalkan negara itu.
Pada hari Sabtu, terdapat sekitar 17.000 personel militer yang ditempatkan di Haiti atau di pantainya, turun dari 22.000 di awal-awal pengiriman. Pada hari Jumat, USS Normandy dan Underwood meninggalkan perairan Haiti.
Kehadiran militer AS memicu kemarahan beberapa negara Amerika Latin, seperti Nikaragua, Venezuela, Bolivia, Kuba, dan Ekuador.
Dalam kritik terbaru minggu lalu, Presiden Ekudor, Rafael Correa, menyebut imperialisme bantuan telah tiba di Port-au-Prince.
"Dalam bantuan ini, juga terdapat banyak imperialisme, imperialisme sumbangan, sumbang dulu, namun pulih dengan cara-cara militer melalui organisasi-organisasi non-pemerintah," ujar Correa.
Sebelumnya, Presiden Nikaragua Daniel Ortega, Presiden Venezuela Hugo Chavez, dan Presiden Bolivia Evo Morales juga menuduh AS berusaha menduduki negara tersebut.
Di masa lalu, Washington telah dituduh ikut campur dalam urusan internal Haiti dalam banyak kesempatan. Militer AS memainkan peran dalam kepergian mantan Presiden Jean-Bertrand Aristide sebelum periode kedua kepemimpinannya berakhir di awal 2004. Kepergian Aristide digambarkan sebagai penculikan.
Haiti diduduki oleh Marinir AS selama hampir 20 tahun, sejak 1915 hingga 1934. Mantan presiden Clinton mengirim pasukan militer ke Haiti di tahun 1994.
Beberapa waktu lalu, menteri Perancis yang bertanggung jawab terhadap bantuan kemanusiaan meminta PBB mengklarifikasi peran AS di tengah klaim bahwa pembangunan militernya menghalangi upaya pemberian bantuan.
Alain Joyandet mengakui bahwa ia telah terlibat dalam perselisihan dengan seorang komandan AS di menara kontrol bandara mengenai rencana penerbangan untuk pesawat evakuasi Perancis.
"Ini tentang membantu Haiti, bukan menduduki Haiti," ujar Joyandet.
Yayasan amal Medecin Sans Frontieres di Jenewa mendukung seruan Joyandet, mengatakan bahwa ratusan nyawa berada dalam risiko saat pesawat yang membawa pasokan medis penting ditolak oleh pengendali lalu lintas udara Amerika.
Namun komandan AS bersikukuh bahwa fokus pasukannya ada pada kerja kemanusiaan dan telah sepakat untuk memprioritaskan kedatangan bantuan di bandara daripada penerbangan militer, setelah adanya intervensi dari PBB.
Ketegangan diplomatik itu terjadi di tengah rasa frustrasi bahwa ratusan ton bantuan masih belum mencapai Haiti. Yayasan-yayasan amal melaporkan bahwa kekerasan juga memburuk saat penduduk haiti yang putus asa menyelesaikan masalah dengan tangan mereka sendiri.
Angka kematian kini diperkirakan mencapai 200.000 jiwa lebih. Sekitar tiga juta warga Haiti – sepertiga dari populasi keseluruhan – terkena dampak gempa bumi itu dan dua juta lainnya membutuhkan bantuan makanan.
Sementara makanan dan air secara bertahap tiba di kamp-kamp temporer di seluruh kota, kerusuhan terjadi di area-area lain di mana pasokan masih belum datang.
Haiti diduduki oleh AS antara tahun 1915 hingga 1935, dan sensitivitas historis serta perpecahan dengan negara-negara lain atas upaya bantuan yang diberikan membuat Amerika waspada akan perannya dalam operasi itu.
Komandan militer AS telah berulangkali menekankan bahwa mereka tidak memasuki negara itu sebagai pasukan pendudukan.
Pasukan AS di Port-au-Prince mengatakan bahwa mereka diperintahkan untuk merahasiakan tentang bagaimana mereka membawa senapan penyerang M4 mereka.
Seorang sersan penerjun mengatakan bahwa mereka diperintahkan untuk menggunakan "kekuatan mematikan" jika mereka melihat kehidupan seseorang dalam bahaya, namun hanya sebagai "pilihan terakhir". (rin/id/afp/tg) www.suaramedia.com
- Bikin Contekan Di Tangan, Sarah Palin Diberondong Ejekan
- Sindikat Pemalsu Kupon Beraksi Di Tengah Penderitaan Haiti
- Proyek Gila Pentagon Kembangkan Monster Militer Abadi
- Clinton: Al-Qaeda Lebih Berbahaya Dibanding Nuklir Iran
- "Parlemen AS Gunakan Isu Teroris Untuk Sepakbola Politik"














