"Ancaman nuklir Iran adalah sebuah ancaman nyata bagi AS, namun bahaya yang ditimbulkan Al-Qaeda jauh lebih besar," demikian kata Menteri Luar Negeri AS tersebut pada hari Minggu.
"Jika menyebut nama negara, jelas bahwa negara berkekuatan nuklir seperti Korea Utara atau Iran merupakan ancaman nyata," kata Clinton dalam program "State of the Union" CNN. Clinton menegaskan bahwa Iran masih belum memiliki senjata nuklir.
"Namun, saya rasa sebagian besar diantara kita yakin bahwa ancaman yang lebih besar adalah jaringan non pemerintahan yang beroperasi secara lintas negara," kata Clinton, merujuk pada Al-Qaeda dan kelompok-kelompok semacamnya.
Clinton merasa khawatir mengenai derajat "konektivitas" Al-Qaeda. Clinton juga memperingatkan bahwa pola rencana serangan para pengikut Osama bin Laden semakin canggih dari hari ke hari.
Meski Al-Qaeda tidak menjadi semakin kuat, dan mengalami "penurunan" di Afghanistan dan Pakistan, Clinton memperingatkan bahwa gerakan tersebut semakin berkembang, "menjadi lebih kreatif, lebih fleksibel, dan lebih gesit."
"Patut disayangkan, mereka adalah kelompok yang sangat memegang komitmen, cerdas, dan mereka selalu mencari celah dan kelemahan kita. Oleh karena itu, kita harus tetap waspada."
"Jika para teroris ini sampai mendapatkan senjata pemusnah massal, maka hal itu akan menjadi mimpi terburuk bagi kita," kata Clinton.
Hillary Clinton mengatakan bahwa semakin besarnya kemungkinan Iran untuk mendapatkan senjata nuklir merupakan hal yang dapat diperdebatkan, namun istri Bill Clinton tersebut juga mengatakan bahwa Teheran juga sengaja menunda-nunda tawaran dari komunitas internasional. Padahal, menurut Clinton, tawaran tersebut adalah "tawaran yang sangat masuk akal."
AS sendiri masih belum mengesampingkan kemungkinan dilakukannya serangan militer terhadap Iran.
Wawancara Hillary Clinton tersebut dilakukan sebelum Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad memerintahkan kepala badan atom Iran untuk memulai proses pengayaan uranium dalam derajat pengayaan yang lebih tinggi pada hari Minggu.
Iran mengatakan bahwa ada ribuan orang pasien pasca operasi, yang tengah membutuhkan perawatan dengan obat-obatan nuklir, yang akan menderita jika produksi dalam negeri mengering karena reaktor penelitian di Teheran kehabisan bahan bakar.
Ahmadinejad menyalahkan negara-negara kuat dunia menyusul terjadinya kebuntuan dalam kesepakatan nuklir PBB. Namun, presiden Iran tersebut tidak menutup kemungkinan dilakukannya negosiasi lebih lanjut mengenai proposal tersebut.
"Kami masih membuka kemungkinan dilakukannya negosiasi dalam hal tersebut," kata Ahmadinejad.
Ahmadinejad juga bersikukuh menginginkan negara-negara kekuatan dunia menerima pertukaran uranium Iran yang telah diperkaya dalam tingkat rendah (LEU) dengan uranium yang telah diperkaya 20 persen yang diperlukan untuk menggerakkan reaktor nuklir Teheran guna menghasilkan isotop medis.
Tanggal 4 Februari lalu, Clinton mengadakan pertemuan terpisah dengan menteri luar negeri Inggris dan Jerman, ia juga menerima laporan kunjungan dari utusan Timur Tengah AS.
Clinton berusaha meyakinkan para sekutu Eropanya dan melakukan koordinasi dalam upaya melakukan negosiasi langsung dengan Iran. Clinton juga membahas mengenai tindak tanduk Iran karena pada saat yang bersamaan, Iran mengumumkan keberhasilan peluncuran produksi dalam negeri pertama ke orbit dengan menggunakan peluru kendali jarak jauh Iran.
"Presiden Obama telah menegaskan niatan untuk mendukung diplomasi langsung dengan Iran. Tapi, jika Teheran tidak menaati Dewan Keamanan PBB dan mandat IAEA, maka ada konsekuensi yang harus mereka tanggung," kata Clinton di hadapan Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier. (dn/mo/wp) www.suaramedia.com
- Tak Dapat Mengeja ABC, Balita Di-Waterboarding Tentara AS
- Sudah Merindukan Saya? Iklan Raksasa Bush Gemparkan AS
- Bikin Contekan Di Tangan, Sarah Palin Diberondong Ejekan
- Sindikat Pemalsu Kupon Beraksi Di Tengah Penderitaan Haiti
- Proyek Gila Pentagon Kembangkan Monster Militer Abadi














