Perang melawan al-Qaeda membuat sebagian tahanan memiliki latar belakang yang malang seperti Khadr. Ayahnya memindahkan Khadr sekeluarga ke Afghanistan ketika ia masih berusia 10 tahun. Ibu dan saudara perempuannya mengatakan bahwa peristiwa 11 September adalah sebuah peristiwa yang pantas diterima AS, dan saudara laki-lakinya mengatakan bahwa dirinya menjadi aset CIA setelah ditangkap di Afghanistan.
Latar belakang tersebut meyakinkan para petinggi PBB, para pengacara hak asasi manusia, dan sejumlah kuasa hukum mengatakan bahwa Khadr, yang merupakan warga negara Kanada seharusnya menjalani rehabilitasi, bukan proses hukum. Hal itu sejalan dengan praktik internasional dalam konflik-konflik lainnya.
"Menurut PBB, anak itu seharusnya tidak dituntut dengan tuduhan kejahatan perang," kata Radhika Coomaraswamy, perwakilan khusus PBB untuk masalah anak-anak dan konflik bersenjata, setelah bertemu denga para pejabat pemerintah AS pada bulan Oktober.
Namun para pejabat AS mengatakan bahwa mereka mempersiapkan persidangan di Teluk Guantanamo pada bulan Juli mendatang dan mendudukkan Khadr di hadapan juri yang terdiri dari para petinggi militer dengan tuduhan kejahatan perang, termasuk pembunuhan. Jaksa Agung AS, Eric H. Holder Jr., mengatakan bahwa proses persidangan terhadap Khadr adalah salah satu dari enam kasus yang dilimpahkan kepada komisi persidangan militer, bukannya pengadilan negara.
Awalnya, keputusan Holder tersebut hanya mendapatkan sedikit perhatian, kalah dengan hingar bingar pengumuman persidangan terhadap Khalid Sheik Mohammed dan empat orang lainnya yang dituding sebagai konspirator serangan 11 September 2001 yang akan dihelat di New York.
Namun kasus Khadr bisa jadi kembali menjadi pusat perhatian dalam perdebatan seputar keputusan penahanan dan tuntutan hukum pemerintahan AS.
Tampaknya, sudah semakin jelas apa yang akan menimpa Khadr. Bulan lalu, Mahkamah Agung Kanada mencapai keputusan bulat untuk tidak lagi mendesak pemerintah Kanada agar berusaha memulangkan Khadr. Kini, kasus Khadr mungkin akan menjadi persidangan komisi militer secara penuh yang pertama kali terjadi dalam masa pemerintahan Presiden Obama.
Pada bulan Januari 2009, Pengadilan Federal Kanada memutuskan bahwa Perdana Menteri Stephen Harper harus menekan AS agar Khadr dapat dipulangkan ke Kanada.
"Penolakan Kanada untuk memulangkan Khadr melanggar prinsip dasar keadilan dan juga melanggar hak-hak Khadr," kata hakim James OReilly dalam putusan pengadilan setebal 43 halaman.
"Untuk meinimalisir dampak pelanggaran tersebut, Kanada harus segera medesak pemerintah AS untuk memulangkan Khadr."
Pemerintahan Konservatif Kanada menolak putusan pengadilan tersebut. Pemerintah Kanada berulangkali menekankan bahwa pihaknya tidak bisa campur tangan dalam proses hukum AS yang tengah berjalan.
Menurut Pentagon, setelah serangan AS pada bulan Juli 2002 terhadap sebuah kamp al-Qaeda, Khadr melemparkan sebuah granat yang menewaskan seorang prajurit AS, Sersan Christopher Speer, dan melukai beberapa orang lainnya.
Tim kuasa hukum Khadr mengatakan bahwa Khadr masih belia dan seharusnya diperlakukan layaknya korban. (dn/nbc/cbc) www.suaramedia.com
- Mantan Blackwater Buka Kedok Penipuan Terhadap Pemerintah
- Biden: Ancaman Terbesar AS Bukan Afghanistan, Tapi Pakistan
- Teknik Lacak DNA Penjahat Kepolisian AS Menuai Kritikan
- Serial Kartun MTV Dirudung Masalah Akibat Bendera Meksiko
- Sang Raja Babi Tukang Kritik Perang Irak Akhirnya Meninggal














