Selasa, 22 Mei 2012

Headlines:

Kasus Tahanan Termuda Guantanamo Sulut Perdebatan AS

E-mail Cetak PDF

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Omar Khadr, tahanan termuda di penjara Teluk Guantanamo Kuba, baru berusia 15 tahun ketika ditahan dengan tudingan melemparkan granat yang menewaskan seorang staf medis pasukan AS di Afghanistan. Kini, lebih dari tujuh tahun kemudian, Khadr membuat pemerintahan Obama terseret dalam perdebatan sengit berkenaan dengan layak tidaknya menyidangkan seorang anak.

Perang melawan al-Qaeda membuat sebagian tahanan memiliki latar belakang yang malang seperti Khadr. Ayahnya memindahkan Khadr sekeluarga ke Afghanistan ketika ia masih berusia 10 tahun. Ibu dan saudara perempuannya mengatakan bahwa peristiwa 11 September adalah sebuah peristiwa yang pantas diterima AS, dan saudara laki-lakinya mengatakan bahwa dirinya menjadi aset CIA setelah ditangkap di Afghanistan.

Latar belakang tersebut meyakinkan para petinggi PBB, para pengacara hak asasi manusia, dan sejumlah kuasa hukum mengatakan bahwa Khadr, yang merupakan warga negara Kanada seharusnya menjalani rehabilitasi, bukan proses hukum. Hal itu sejalan dengan praktik internasional dalam konflik-konflik lainnya.

"Menurut PBB, anak itu seharusnya tidak dituntut dengan tuduhan kejahatan perang," kata Radhika Coomaraswamy, perwakilan khusus PBB untuk masalah anak-anak dan konflik bersenjata, setelah bertemu denga para pejabat pemerintah AS pada bulan Oktober.

Namun para pejabat AS mengatakan bahwa mereka mempersiapkan persidangan di Teluk Guantanamo pada bulan Juli mendatang dan mendudukkan Khadr di hadapan juri yang terdiri dari para petinggi militer dengan tuduhan kejahatan perang, termasuk pembunuhan. Jaksa Agung AS, Eric H. Holder Jr., mengatakan bahwa proses persidangan terhadap Khadr adalah salah satu dari enam kasus yang dilimpahkan kepada komisi persidangan militer, bukannya pengadilan negara.

Awalnya, keputusan Holder tersebut hanya mendapatkan sedikit perhatian, kalah dengan hingar bingar pengumuman persidangan terhadap Khalid Sheik Mohammed dan empat orang lainnya yang dituding sebagai konspirator serangan 11 September 2001 yang akan dihelat di New York.

Namun kasus Khadr bisa jadi kembali menjadi pusat perhatian dalam perdebatan seputar keputusan penahanan dan tuntutan hukum pemerintahan AS.

Tampaknya, sudah semakin jelas apa yang akan menimpa Khadr. Bulan lalu, Mahkamah Agung Kanada mencapai keputusan bulat untuk tidak lagi mendesak pemerintah Kanada agar berusaha memulangkan Khadr. Kini, kasus Khadr mungkin akan menjadi persidangan komisi militer secara penuh yang pertama kali terjadi dalam masa pemerintahan Presiden Obama.

Pada bulan Januari 2009, Pengadilan Federal Kanada memutuskan bahwa Perdana Menteri Stephen Harper harus menekan AS agar Khadr dapat dipulangkan ke Kanada.

"Penolakan Kanada untuk memulangkan Khadr melanggar prinsip dasar keadilan dan juga melanggar hak-hak Khadr," kata hakim James OReilly dalam putusan pengadilan setebal 43 halaman.

"Untuk meinimalisir dampak pelanggaran tersebut, Kanada harus segera medesak pemerintah AS untuk memulangkan Khadr."

Pemerintahan Konservatif Kanada menolak putusan pengadilan tersebut. Pemerintah Kanada berulangkali menekankan bahwa pihaknya tidak bisa campur tangan dalam proses hukum AS yang tengah berjalan.

Menurut Pentagon, setelah serangan AS pada bulan Juli 2002 terhadap sebuah kamp al-Qaeda, Khadr melemparkan sebuah granat yang menewaskan seorang prajurit AS, Sersan Christopher Speer, dan melukai beberapa orang lainnya.

Tim kuasa hukum Khadr mengatakan bahwa Khadr masih belia dan seharusnya diperlakukan layaknya korban. (dn/nbc/cbc) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon