Selasa, 22 Mei 2012

Headlines:

Sang Raja Babi Tukang Kritik Perang Irak Akhirnya Meninggal

E-mail Cetak PDF

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Anggota kongres AS John Murtha, yang meninggal pada hari Senin karena komplikasi dari operasi kantung empedu pada usia 77 tahun, adalah seorang kritikus tajam perang Irak meski merupakan mantan marinir pro-militer.

Presiden Barack Obama memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang saat ia memimpin penghormatan untuk seorang anggota kongres yang pengaruhnya dalam persoalan kebijakan domestik dan luar negeri  terbentang lebih dari tiga dekade.

Demokrat konservatif dari Pennsylvania itu meninggal dengan tenang di sebuah rumah sakit Arlington, Virginia, bersama keluarganya di sisinya.

Murtha berperan dalam penggulingan AS terhadap diktator Panama Manuel Noriega, dalam serangkaian peristiwa yang menyebabkan Ferdinand Marcos melarikan diri dari Filipina, dan dalam mendanai pasokan senjata CIA untuk militan Islam anti-Soviet di Afghanistan.

Ketua House Appropriations Subcommittee on Defense, Murtha dikenal oleh beberapa kritikus sebagai "Raja Babi" karena mengarahkan dua miliar dolar uang para pembayar pajak ke distriknya selama 18 tahun terakhir.

Pada tahun 2002 Murtha mendukung invasi AS ke Irak dalam beberapa bulan namun kemudian memicu badai pada bulan November 2005 ketika ia mengatakan waktunya telah tiba bagi pasukan AS untuk meninggalkan Irak.

Tahun 2006, Murtha juga mengeluarkan  tuduhan pedas bahwa tentara AS membunuh warga sipil tak bersenjata di Haditha, Irak dan bahwa militer AS berusaha menutupinya.

Murtha, yang pertama kali terpilih menjadi anggota Kongres pada bulan Februari 1974, meninggal akibat komplikasi dari operasi pengangkatan kantung empedu.

Ia adalah veteran perang Vietnam pertama yang terpilih menjadi anggota Kongres.

"Reputasi keras Jack dibawa dari marinir ke Kongres, di mana ia menjadi suara yang dihormati untuk isu-isu keamanan nasional," ujar Obama.

Menteri Pertahanan Robert Gates juga memberikan penghormatan pada mendiang.

"Saya akan selalu mengenang dan berterima kasih atas upaya-upaya pribadi Murtha dalam perlawanan Afghan terhadap Soviet, upaya yang membantu mengakhiri Perang Dingin," ujar Gates.

Komandan utama militer AS Admiral Mike Mullen juga memujinya dengan mengatakan bahwa tentara AS dan keluarga mereka tidak memiliki juara sehebat Murtha.

"Tidak ada yang memahami kebutuhan militer modern kami lebih baik dari Murtha," ujar Mullen. "Dan tidak ada yang mempersoalkan kebutuhan itu sekuat dirinya."

Di tahun 1980an, Murtha bekerjasama dengan anggota Kongres dari Texas Charlie Wilson dalam Defense Appropriations Subcommittee  untuk diam-diam menyediakan dana bagi CIA memasok senjata ke pejuang-pejuang Afghan.

Pada tahun 1989, presiden George W. Bush mengangkat Murtha sebagai delegasi AS untuk memonitor pemilihan di Panama.

Menyusul menyebarnya tuduhan penipuan, Noriega menggulingkan presiden yang telah terpilih secara konstitusional dan mendeklarasikan partainya sebagai pemenang.

Murtha membantu menyampaikan pesan ke kandidat yang "kalah" dari pemerintahan Bush tentang dukungan untuk intervensi militer AS di bulan Desember 1989 yang menggulingkan Noriega.

Anggota kongres ini menjadi terkenal karena menyalurkan uang pemerintah ke distriknya, Pennsylvania.

Presiden Ronald Reagan menunjuk Murtha dan Senator Dick Lugar sebagai pimpinan delegasi untuk memonitor pemilihan Filipina di tahun 1986. Mereka menyimpulkan bahwa rezim Marcos mencuri pemilihan melalui penipuan dan manipulasi.

Marcos melarikan diri dari negaranya dan Corazon Aquino menjadi presiden setelah delegasi Murtha meyakinkan Reagan untuk menunda sertifikasi pemilu.

Di tahun 1982 dan 1983, juru bicara Kongres Tip ONeill mengirim Murtha ke Beirut untuk menilai keputusan Reagan mengirimkan Marinir AS ke Libanon ketika terjadi perang sipil, dan ia memperingatkan bagaimana rapuhnya mereka sebelum barak-barak mereka diledakkan oleh militan pada bulan Oktober 1983.

Di tahun 1975, Presiden Gerald Ford meminta Murtha bergabung dengan misi pencari fakta kongresional pertama ke Vietnam menyusul penarikan pasukan AS, dan kembali untuk membahas kelalaian Amerika. (rin/me) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon