Tighe Barry, pengunjuk rasa Code Pink, yang hadir dalam rapat dengar pendapat Komite Angkatan Bersenjata Senat yang membahas mengenai tindak tanduk kontraktor militer di Afghanistan, mengatakan bahwa dalam sesi rehat, seorang personel Blackwater menghampirinya dan melontarkan ancaman.
"Para pembunuh ini memang tidak perlu dipekerjakan," kata Tighe Barry. "Saya mendapatkan ancaman dari pria-pria ini. Ia mengatakan bahwa saya akan dibunuh, seperti itulah cara mereka bereaksi, seperti itulah cara kerja mereka."
Setelah melakukan investigasi selama enam bulan, Komite Angkatan Bersenjata Senat mengungkapkan bahwa perusahaan Blackwater memang sarat dengan masalah.
Dalam rapat dengar pendapat tersebut, para kontraktor keamanan mendapatkan sorotan menyusul banyaknya pelanggaran yang mereka lakukan. Minum-minum ketika tengah bertugas, bersalah karena membagi-bagikan senapan AK-47 kepada para kontraktor yang tidak seharusnya menenteng senjata, dan lalai karena tidak memeriksa riwayat seseorang sebelum mempekerjakannya sebagai tentara bayaran.
"Ini adalah pertanyaan apakah pihak pengontrak sudah keliru atau sudah menggila," kata Ben Nelson dari komite tersebut setelah rapat dengar pendapat.
Pertemuan tersebut menggariskan bahwa tindakan para kontraktor telah merusak kepentingan nasional AS di Afghanistan.
"Mereka terus saja membunuhi warga sipil. Saya yakin bahwa ada sejumlah penduduk Afghanistan yang kemudian memutuskan untuk mengangkat senjata," kata ketua komite tersebut, Senator Carl Levin.
Para anggota dewan yakin bahwa para kontraktor harus diawasi dengan ketat untuk mencegah terulangnya kesalahan-kesalahan serius.
Namun, pelanggaran yang dilakukan Blackwater telah berlangsung selama bertahun-tahun, dan reputasi buruk perusahaan tersebut sudah menjadi rahasia umum di mata penduduk AS.
"Perusahaan itulah yang melakukan kejahatan-kejahatan ini, mereka kita pekerjakan di Irak untuk melakukan pengamanan," kata Rob Macgarrah, seorang warga Washington.
Pada saat rapat dengar pendapat terus berlangsung, Blackwater masih tetap aktif di Afghanistan. Perusahaan yang telah membantai 17 warga Irak pada tahun 2007 kini dipercayai untuk melatih tentara nasional Afghanistan.
Sebelumnya, sebuah komisi penyelidikan Senat menuding Angkatan Darat AS sengaja menutup mata ketika ada anak perusahaan Blackwater yang mempekerjakan para pecandu obat-obatan terlarang untuk membantu melatih pasukan Afghanistan dan mengumumkan "senjata untuk semua" meski para personel kontraktor keamanan tersebut tidak punya wewenang untuk menenteng senjata.
Temuan perwakilan Demokrat dari Komite Pengawas Militer Senat AS tersebut memperlihatkan sebuah gambaran meresahkan mengenai pelanggaran hukum yang turut andil dalam peristiwa ditembak matinya dua orang penduduk sipil Afghanistan pada bulan Mei 2009. Kejadian itu semakin mengobarkan sentimen anti Barat di kawasan tersebut.
"Blackwater beroperasi di Afghanistan tanpa mendapatkan pengawasan dan hampir tidak mengindahkan aturan yang seharusnya diikuti perusahaan tersebut," kata Senator Carl Levin, ketua komite tersebut.
"Satu kali saja personel kontraktor keamanan melakukan tindakan yang tidak bertanggung jawab, maka hal itu dapat menghancurkan misi dan membahayakan pasukan AS," tambah Levin. (dn/rt/sm) www.suaramedia.com
- Julukan Oleh Organisasi Amerika Bikin Chavez Murka
- AS Pulangkan Ribuan "Cinderamata Perang" Curian Ke Irak
- AS Cari Cara Rayu Brazil Perkuat Gerakan Anti-Iran
- Gelar Konferensi Kesehatan, Obama Dengarkan suaranya Sendiri
- Tarik Anggota Baru, Pemberontak Kolombia Gelar "Guerilla Idol"
- Sisihkan AS - Kanada, Amerika Latin Dirikan Blok Internasional Baru
- Gates : Keengganan Eropa Ancam Kelangsungan Aliansi NATO
- Pecandu Narkoba Penyebab Kebijakan "Cacat" Blackwater
- Ambil Alih Pengawas Barat, Kanada Sebut Tindakan Karzai Meresahkan
- Membingungkan, Kebijakan Gay Obama Ditentang Militer AS














