Selasa, 22 Mei 2012

Headlines:

Gelar Konferensi Kesehatan, Obama Dengarkan suaranya Sendiri

E-mail Cetak PDF

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Pada awal konferensi tunjangan kesehatan AS yang banyak digembar-gemborkan dan dihelat pada hari Kamis waktu setempat, Presiden Barack Obama berjanji untuk "mendengar". Tapi, ternyata yang dimaksudkan Obama adalah mendengarkan suaranya sendiri.

Ketika konferensi yang ditayangkan di televisi tersebut usai, Obama telah berbicara selama 119 menit, sembilan menit lebih lama dibandingkan dengan 110 menit yang dialokasikan untuk 17 orang perwakilan Partai Republik. 21 orang anggota dewan dari Partai Demokrat hanya berbicara selama 114 menit. Jika seluruhnya dijumlahkan, maka ada 233 menit. Demikian menurut data "jam bicara" dari para ajudan partai oposisi pemerintah.

Sejak awal, tidak ada yang menyetujui apapun, tidak peduli berapa banyaknya waktu yang dimanfaatkan kedua kubu. Ketika Senator Mitch McConnell, pemimpin Senat Republikan, marah dan mengatakan bahwa kubu Demokrat telah mendominasi, 52 menit berbanding 24 untuk Republikan, Obama langsung angkat bicara dan membantah hal itu.

"Saya rasa hal itu tidaklah benar," kata Obama.

Namun, kemudian ia mengedipkan mata dan berujar: "Anda benar, ada ketidakseimbangan pernyataan pembuka, karena – saya presidennya." Setengah isi ruangan konferensi tertawa. "Saya tidak menghitung waktu bicara saya dalam membagi waktu secara adil (untuk masing-masing kubu)."

Kedua kubu berhadap-hadapan di ruangan samping Blair House (guest house presiden AS). Para anggota Kongres dikelompokkan berdasarkan partai asal, mereka didudukkan berhadapan di sebuah ruangan luas. Dalam ajang pembicaraan yang berlangsung selama enam jam tersebut, tampaknya tidak ada hal yang diperbaiki dan tidak ada perdamaian antara kedua kubu.

Bahkan, pemimpin partai mayoritas Senat, Harry Reid, dan juru bicara dewan, Nancy Pelosi, tampak begitu acuhnya dan tidak memandang Senator Lamar Alexander dari Tennessee yang menyampaikan pernyataan pembuka untuk Partai Republik Setiap kali sorotan kamera mengarah pada kedua orang tersebut, mereka hanya menatap lurus tanpa ekspresi.

Dalam ajang tersebut, Obama, seorang mantan profesor hukum, bersikap layaknya seorang profesor. Dia mendengarkan dengan seksama, sesekali kepalanya dianggukkan dan dagunya dinaikkan. Obama memicingkan mata dan memperhatikan ucapan pembicara. Obama acapkali bekedip dan menulis catatan di sebuah buku kecil ketika perwakilan partai oposisi tengah berbicara. Obama meletakkan kepala di atas telapak tangannya dan betul-betul memperhatikan sang pembicara.

Namun, setiap kali seorang anggota partai oposisi hendak menginterupsi presiden atau anggota Demokrat, Obama tampak agak frustrasi dan mencoba mempejelas siapa yang memegang kendali dalam diskusi tersebut.

"Biarkan saya menyelesaikan kata-kata saya, Lamar," kata Obama memotong pidato pembuka senator tersebut. "Tidak, tidak, biarkan saya – dan ini adalah contoh dimana kita harus meluruskan fakta," kata Obama ketika Alexander berupaya memperjelas poin bahasannya.

Perselisihan mengenai reformasi tunjangan kesehatan langsung mengemuka ketika Senator John McCain, yang kalah dari bama dalam pemilihan presiden tahun 2008 lalu, menceramahi sang presiden mengenai cara-cara menghasilkan rancangan undang-undang senat melalui pintu belakang.

"John, bisa saya bicara.." potong Obama.

"Tolong biarkan saya selesai dulu," kata McCain sebelum melanjutkan ucapannya. Menutup peluang interupsi.

"Masing-masing dari kita sama-sama menjanjikan perubahan di Washington dalam kampanye kepresidenan," kata McCain. "Bahkan, sudah delapan kali Anda (Obama) mengatakan bahwa negosiasi terkait reformasi tunjangan kesehatan akan disiarkan kamera C-SPAN (Cable Satellite Public Affairs Network). Saya merasa lega bahwa setelah satu tahun berlalu, (negosiasi) itu dilakukan. Sayangnya, undang-undang ini tidak dihasilkan dengan cara seperti itu, undang-undang ini dihasilkan di balik pintu tertutup."

Obama yang tampak gusar langsung membolak-balik halaman buku di hadapannya pada saat McCain berbicara. Ketika McCain selesai, Obama melontarkan serangan balik terhadap mantan rivalnya tersebut.

"Dengarkan ini John, karena kita tidak lagi berkampanye. Pemilihan (presiden) sudah usai," kata Obama sambil menatap delegasi Republikan Arizona tersebut.

"Saya mengingat hal itu setiap harinya," jawab McCain seraya tersenyum kecil. Ia menambahkan bahwa apapun faktanya, "rakyat Amerika peduli apa yang kita lakukan dan bagaimana kita melakukannya."

Obama tidak tersenyum dan melanjutkan kata-katanya. "Kita bisa berdebat mengenai proses atau kita berdebat mengenai cara membantu rakyat Amerika pada titik ini. Dan saya rasa hal terakhirlah yang akan lebih mereka pedulikan."

Presiden Obama juga menyerang Eric Cantor, perwakilan Republik dari Virginia, yang duduk di belakang tumpukan kertas setinggi hampir satu meter, salinan legislasi yang dikeluarkan oleh Senat.

"Biar saya tebak, (kertas) itu berisi rancangan undang-undang kesehatan setebal 2.400 halaman," kata Obama, dengan nada suara penuh sindiran. "Ketika kita melakukan hal ini, kita akan mendapati 2.400 halaman, dan lain-lain. Anda tahu, sebenarnya tunjangan kesehatan amatlah rumit. Kita bisa saja berpura-pura bahwa hal itu tidak rumit, tapi memang itu kenyataannya."

Pembicaraan tersebut seringkali berujung pada pembacaan detail kecil yang membosankan ketika hadirin berpendapat mengenai rincian cara kerja rancangan undang-undang Senat. Namun, masing-masing kubu tampak terkunci dengan posisi yang berseberangan. Kubu Republik tahu benar bahwa setelah pembicaraan tersebut, delegasi Demokrat dari Senat berharap bahwa mereka dapat meloloskan rancangan undang-undang tersebut dengan suara mayoritas, mengambil jalan pintas terhadap aturan yang sudah sejak lama ada dan mengharuskan setidaknya 60 anggota dari kedua majelis AS (House of Representatives dan Senat).

Bahkan sebelum konferensi dimulai, ketika Obama berjalan menuju guest house, ia menegaskan bahwa dirinya tidak masalah jika hanya menjalankan strategi tunggal Demokrat.

Ketika ditanya oleh wartawan mengenai rencana cadangan atau rencana B Obama, sambil tersenyum, presiden AS tersebut berkata: "Saya selalu punya rencana."

Sedari awal, Obama sudah tahu bahwa mencapai kata kompromi adalah hal yang sulit, meski ia menginginkan adanya diskusi sebenarnya, bukan hanya bertukar pandangan mengenai jurang perbedaan yang memisahkan kedua kubu.

"Saya rasa perbedaan itu tidak bisa dijembatani," kata Obama berterus terang. (dn/wt) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon