Posisi Brazil saat ini sebagai seorang pemilih dalam Dewan Keamanan PBB telah memicu kunjungan mendatang dari Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton dan diplomat lainnya, William Burns, ke Brasilia, mencari dukungan untuk inisiatif AS dalam memberlakukan sanksi terhadap Iran.
"Jelas, Brazil adalah kekuatan baru dengan pengaruh yang semakin tumbuh di kawasan dan di dunia, dan kami percaya bahwa bersama dengan pengaruh datang tanggung jawab, dan kami akan berbicara pada Brazil mengenai langkah ke depan dengan Iran," Washington Post mengutip juru bicara Departemen Luar Negeri, P.J. Crowley.
Iran dan Brazil memiliki hubungan yang baik satu sama lain dan Presiden Brazil, Luiz Inacio Lula da Silva telah mendukung upaya Iran untuk mengembangkan program nuklir yang ditujukan untuk kepentingan damai.
Pada bulan Februari 2010, utusan Brazil untuk PBB mengatakan pada AS dan Perancis bahwa negaranya tidak akan setuju dengan sanksi keras terhadap Iran ketika Brazil akan meningkatkan perdagangan dengan Republik Islam tersebut.
"Negosiasi harus dilanjutkan. Jika sanksi diterapkan, itu mungkin akan memblokir jalur negosiasi," ujar Duta Besar Maria Viotti kepada Bloomberg.
Hubungan dekat Iran dengan Brazil, negara terbesar kelima di dunia, telah menyebabkan kekhawatiran besar bagi AS.
AS dan negara-negara Barat lainnya berusaha untuk menerapkan paket sanksi keempat bagi Teheran. Mereka menuduh Iran memiliki niat militer di balik kedok program nuklirnya.
Teheran telah berulangkali membantah tuduhan tersebut, mengatakan bahwa aktivitas nuklirnya bersifat damai dan berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Seruan Clinton baru-baru ini untuk sanksi yang lebih keras bagi Iran juga ditentang oleh China setelah Beijing berpendapat bahwa upaya diplomatik masih dapat dilakukan.
"Kami percaya masih ada ruang diplomatik untuk isu nuklir Iran," ujar Qin. (rin/pv) www.suaramedia.com














