Enam buah benda koleksi museum, mulai dari prasasti batu Sumeria hingga sebuah senapan AK-47 bergambar Saddam Hussein, diserahkan kepada Irak. Prosesi penyerahan dilakukan dalam sebuah upacara yang digelar di kedutaan pada hari Kamis waktu setempat.
"Sebagai warga Irak, kami terus berupaya untuk memulangkan setiap warisan budaya bersejarah ini ke tempat asalnya," kata Samir Sumaidaie, duta besar Irak untuk Washington, dalam upacara tersebut.
Duta besar Irak tersebut mengatakan bahwa Museum Irak kehilangan 15.000 benda karena penjarahan yang terjadi akibat runtuhnya hukum dan tatanan negara menyusul invasi pimpinan AS. Setengah dari jumlah tersebut sudah diketemukan dan dikembalikan "karena rajinnya sekutu kami", kata Sumaidaie.
Diantara benda-benda yang dikembalikan, ada sebuah koin Irak yang kira-kira berasal dari tahun 250 Masehi, pada era penjajahan Romawi. Koin tersebut ditinggalkan di sebuah museum di Houston oleh seorang pria yang mengaku pernah bertugas sebagai seorang kontraktor keamanan di Irak.
Di antara benda-benda curian tersebut, ada pula sepasang anting neo-Assyria dari abad ke-8 Sebelum Masehi yang diambil dari Museum Baghdad dan nyaris dilelang di Christies, New York, serta sebuah fondasi kerucut Babilonia dari tanah liat, dan sebuah prasasti dari tahun 2.100 Sebelum Masehi, yang diperoleh di sebuah bandara di Chicago.
Seorang prajurit AS membawa pulang AK-47 tersebut untuk cinderamata, dan senjata tersebut dipamerkan di Fort Lewis, sebelah barat laut Washington. Mendiang Saddam Hussein seringkali memberikan senjata-senjata seperti itu kepada para loyalis Partai Baath.
Duta besar Irak tersebut mengucapkan terima kasih kepada imigrasi dan bea cukai AS. Sang duta besar mengatakan bahwa kedua lembaga tersebut "telah mencurahkan banyak waktu dan upaya untuk melakukan identifikasi, investigasi, penyitaan dan pengembalian warisan budaya, seni dan benda antik Irak."
Pencurian dan penjarahan benda purbakala dari museum terjadi di Irak meski berdasarkan hukum internasional, AS sebagai penjajah berkewajiban untuk melindungi situs-situs kebudayaan.
Pada tahun 2003, jurnal "Archaeology" mendokumentasikan penjarahan-penjarahan di Irak. Wartawan Roger Altwood melaporkan bahwa ada 30 papan perunggu yang aslinya tergantung di gerbang menuju kota Balawat dicuri dari museum, beserta sejumlah tablet dengan tulisan kuno dan 20 buku berharga.
Meski Irak dilanda kerugian dan penjarahan berkelanjutan, beberapa orang jurnalis justru mengatakan bahwa permasalahan yang ada telah dilebih-lebihkan, mereka bahkan mengklaim arkeolog Irak bertangung jawab atas pencurian benda-benda yng hilang dan bahkan mengklaim jika para arkelolog Irak bertanggung jawab atas pencurian benda-benda kuno yang hilang
Kampanye penyangkalan dan pengaburan informasi tersebut semakin memperparah kerusakan terhadap warisan budaya Irak. Bukan hanya mengalihkan perhatian dari keharusan melacak artefak yang dijual, namun juga dipergunakan untuk mendiskreditkan para arkeolog Irak dan mengalihkan kendali sejarah Irak dari tangan mereka.
BBC ada di garis depan dalam upaya-upaya tersebut. Dalam tayangan dokumenter tanggal 9 Juni 2003, sejarawan seni dan arsitektur, Dan Cruikshank, menyampaikan sejumlah klaim yang tidak terbukti kebenarannya. Cruikshank mengatakan bahwa Museum Baghdad merupakan sebuah target militer, ia juga mengatakan bahwa pencurian tersebut dilakukan "orang dalam".
Klaim Cruikshank langsung disambut oleh koresponden Guardian, David Aaronovitch, yang menyatakan bahaw para staf Museum Baghdad adalah "bagian dari rezim fasis". Aaronovitch mendapatkan hujan cemoohan dari kalangan wartawan dan akademisi dunia karena mempercayai cerita-cerita palsu terkait penjarahan Irak.
Dalam kolom bulan April tahun yang sama, Aaronovitch menuliskan bahwa jika artefak jarahan Irak dipajang di museum Barat yang menurutnya sudah dipenuhi benda-benda dari seluruh penjuru dunia.
Dalam artikel tertanggal 10 Juni, Aaronovitch menuding Dr. Dony George dari Museum Baghdad dan para arkeolog internasional telah "memalsukan" foto 100.000 benda jarahan berharga yang diambil dengan sepengetahuan Amerika, atau oleh orang-orang Amerika sendiri. "Masalahnya, semua itu omong kosong. Itu hal yang tidak benar, hanya karangan" tulisnya. Ia justru memuji program Cruikshank sebagai "program luar biasa" yang mengungkapkan "kebohongan" penjarahan Irak.
Sejumlah aspek dalam program tersebut dianggap sebagai contoh jurnalisme yang buruk dan dibumbui keinginan untuk mendramatisasi. Dengan mengenakan jaket tempur dan kafiyeh, Cruikshank disorot di tangga masuk museum, ia mengklaim bahwa berkeliling kota Baghdad terlalu berbahaya. Ia mencoba mengesankan bahwa dirinya adalah seorang reporter pemberani yang memasuki kota penuh ancaman, sebuah hal yang terbantahkan ketika juga tampak kerumunan warga Irak yang tersenyum dan melambai ke kamera ketika Cruikshank berlagak sedang menelusuri kota Baghdad.
Cruikshank tampaknya mendapatkan bantuan dari otoritas AS. Bukan hal yang mengejutkan, karena apa yang ia ceritakan memang persis sama dengan cerita versi AS. (dn/mo/ws) www.suaramedia.com














