Saat AS melakukan perang melawan teror terhadap ekstremis, negara itu juga menjadi tempat persembunyian bagi individu-individu dengan surat perintah penahanan di Kuba, Venezuela, dan Bolivia. Banyak di antara mereka yang kini hidup dengan bebas di AS, bekerja sebagai mata-mata CIA dan organisasi-organisasi lain yang disponsori AS, berharap dapat menggulingkan para pemimpin Amerika Latin yang tidak populer dengan AS.
Pada tahun 1976, Luis Posada Carriles dan Orlando Bosch meledakkan pesawat Kuba, menewaskan 73 orang yang ada di dalam pesawat. Baik Posada maupun Bosch mengakui kesalahan mereka, namun telah menjalani sisa hidup mereka dengan tinggal di AS.
Mantan presiden Bolivia, Gonzalo Sanchez de Lozada, yang menghadapi tuduhan terkait penindasan pemerintah terhadap sebuah protes di bulan Februari 2003 yang menewaskan 30 orang, terbang ke AS di tahun yang sama dan otoritas Amerika selalu menolak untuk mengekstradisi dirinya.
"Pemerintah AS merasa perlu untuk bersekutu dengan orang-orang yang memegang kekuasaan, dan seringkali orang-orang itu adalah diktator," ujar Dave Kane dari Kantor Kekhawatiran Global MaryKnoll.
Alasan untuk mendukung pemimpin-pemimpin tertentu seringkali merupakan persoalan ekonomi. Sanchez de Lozada berpengaruh dalam mengatur pengiriman gas alami Bolivia ke AS.
"Ketika ia ada di sini pada tahun 1990an, ia merupakan contoh dari apa yang seharusnya dilakukan seorang presiden dalam memodernisasi ekonomi dan gas alam."
Dalam kasus-kasus lain, mereka yang disimpan mungkin tahu terlalu banyak. School of the Americans, yang dijalankan oleh militer AS di Georgia, telah lama dikenal sebagai tempat pelatihan untuk para tentara dan pemimpin Amerika Latin.
"Dalam kasus Posada Carriles, ia memiliki sejarah panjang bekerja dengan CIA yang telah terdokumentasi dengan baik. Dalam kasus itu, AS tidak mau ada masalah dengannya karena banyak informasi yang bisa bocor," ujar Kane. (rin/rt) www.suaramedia.com
- Bangun Bendungan Kontroversial, Brazil Dihadang "Bapak Avatar"
- Pakistan Bantah Kisah Senjata Nuklir New York Times
- Obama: Nuklir Al-Qaeda Adalah Ancaman Terbesar AS
- Dukung Palestina, Mahasiswa AS Dirikan Tembok Israel Di Kampus
- Obama: Kemenangan Militer Saja Tak Cukup Untuk Afghanistan














