"Bagian barat Pakistan, wilayah tanpa hukum, adalah pusat dari masalah yag mengancam negara kita," kata utusan khusus AS untuk Afghanistan dan Pakistan, Richard Holbrooke di hadapan Komite Hubungan Luar Negeri Senat AS pada hari Rabu waktu setempat.
Mereka punya hubungan langsung dengan Taliban, hanya saja mereka berada di Pakistan. Kami telah mencapai perkembangan di Pakistan dalam satu setengah tahun terakhir," katanya menanggapi pertanyaan mengenai peranan Pakistan dalam situasi di Afghanistan.
"Tapi, yang menjadi sebagian besar fokus adalah Afghanistan sehingga kita tidak menyadari pergerakan di Pakistan, melintasi perbatasan, baik secara ekonomi, politik, dan strategis.
"Peranan Pakistan dalam rekonsiliasi di Afghanistan untuk saat ini cukup ambigu dan kabur," kata Holbrooke. "Sebuah hal yang perlu kita pelajari lebih lanjut."
"Tapi, ada lima gerakan pemberontakan besar di negara mereka, yakni Taliban Afghanistan, Taliban Pakistan, yang merupakan pelatih pengebom Times Square, LeT, yang bertanggung jawab atas peledakan Mumbai, jaringan Haqqani, Al Qaeda dan beberapa kelompok lainnya.
"Jadi, keadaan amatlah rumit dan unik bagi Pakistan," katanya.
Ketua panel Demokrat Senat AS, John Kerry, dan pemimpin Republlikan Richard Lugar meragukan peperangan di Afghanistan.
Kerry mengatakan masih belum jelas apakah pemerintah AS puya strategi yang solid untuk meraih kemenangan, Lugar menyatakan kurangnya kejelasan mengenai tujuan-tujuan AS dalam perang Afghanistan.
Holbrooke mengatakan bahwa apa yang ada di hadapan tetap meragukan. "Tidak ada elemen-elemen pergerakan yang signifikan di kawasan tersebut, saya masih belum melihat keadaan yang berhasil dibalikkan ke arap mana pun," kata Holbrooke.
Ia mengatakan, dirinya dan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton akan berkunjung ke Afghanistan minggu depan untuk menghadiri sebuah konferensi internasional. Presiden Hamid Karzai diharapkan menegaskan komitmen memperkuat aturan hukum, memerangi korupsi, dan membangun ekonomi dalam konferensi tersebut.
Sementara itu, dari Departemen Luar Negeri, juru bicara Phillip Crowley mengatakan AS mengevaluasi jumlah kelompok di Pakistan, termasuk jaringan Haqqani, dan memasukkannya dalam daftar organisasi teroris, tapi hal itu masih belum diputuskan.
Sementara itu, menteri luar negeri Pakistan dan India bertemu untuk membangkitkan kembali pembicaraan damai yang rusak akibat serangan Mumbai, meski tidak ada yang mengharapkan ada terobosan baru mengingat diskusi tiada henti antara kedua rival tersebut.
Sesaat setelah tiba di Islamabad pada hari Rabu, Menteri Luar Negeri India S.M Krishna mengatakan dirinya akan menekan Pakistan terkait perkembangan penyelidiakn kasus serangan Mumbai yang menewaskan 196 orang.
Pernyataan Krishna disampaikan menyusul komentar dari Menteri Dalam Negeri G.K. Pillai yang dimuat surat kabar Indian Express. Dalam komentarnya, ia menuding badan intelijen Pakistan, ISI, ada di belakang serangan Mumbai.
Pernyataan dari pejabat India tersebut mencerminkan ketidakpercayaan antara dua negara bersenjata nuklir yang bertetangga tersebut. Pakistan dan India telah tiga kali berperang sejak merdeka dari kekuasaan Inggris pada 1947.
Namun, kedua kubu mendapat tekanan dari Amerika Serikat agar mengurangi ketegangan karena perseteruan keduanya sering berdampak di Afghanistan dan mempersulit upaya menghadirka perdamaian di sana.
Dialog antara Krishna dan Menlu Pakistan Shah Mehmood Qureshi mengambil format baru yang menggantikan proses perdamaian tahun 2004, yang dihentikan India setelah terjadi serangan Mumbai.
India menuding Lashkar-e-Taiba mendalangi serangan Mumbai, sementar Pakistan ingin cepat menyelesaikan masalah dengan India tekait Kashmir. (dn/sf/re) www.suaramedia.com














