Pada hari Senin (30/8), American Civil Liberties Union dan Center for Constitutional Rights mengajukan gugatan hukum yang memprotes perintah untuk melaksanakan hukuman mati, termasuk yang ditandatangani oleh Presiden Barack Obama terhadap Anwar Al Awlaki, seorang ulama kelahiran Amerika yang diidentifikasi Gedung Putih sebagai pemimpin Al Qaeda.
Al Awlaki lahir di New Mexico dan menghabiskan waktu bertahun-tahun di Virginia, sebelum kemudian pindah ke Yaman, di mana dia tinggal saat ini.
AS baru-baru ini menuduhnya terkait dengan seorang pemuda Nigeria yang menurut Washington telah dilatih oleh militan Al Qaeda di Yaman dan gagal meledakkan sebuah pesawat tujuan AS pada hari Natal tahun lalu. Otoritas AS juga mengatakan bahwa Al Awlaki ada hubungannya dengan mayor militer AS yang membunuh 13 prajurit di Fort Hood, Texas, tahun lalu.
Washington telah memberikan wewenang pada CIA untuk membunuh sang ulama.
"Sebuah program yang memberi wewenang untuk membunuh seorang warga negara AS, tanpa pengawasan yudisial, proses jatuh tempo atau standar yang diungkapkan adalah tidak konstitusional dan bukan Amerika," ujar Anthony Romero, direktur eksekutif ACLU.
Dalam mengambil tindakan itu ACLU mewakili Nasser Al Awlaki, ayah sang ulama.
Mengutip dugaan keberadaan militer, angkatan udara AS dikatakan telah melakukan beberapa serangan atas Yaman dan menewaskan puluhan warga sipil. Amnesty International menuduh AS melanggar hukum internasional dengan melakukan serangan tersebut, menggunakan bom curah dalam rudal jelajah di Yaman, menewaskan 55 orang yang kebanyakan adalah warga sipil, di Al Ma’jalah, provinsi Abyan.
Pada bulan Juli, Al Awlaki dilaporkan telah membuat suram masa depan upaya Obama untuk membangun kekuatan militer di Yaman.
"Jika George W. Bush dikenang sebagai presiden yang membuat Amerika terjebak di Afghanistan dan Irak, tampaknya Obama ingin dikenang sebagai presiden yang membuat Amerika terjebak di Yaman," ujarnya seperti dikutip oleh Associated Press dalam sebuah rekaman audio.
Anggota Kongres AS Dennis Kucinich juga mempersembahkan sebuah rancangan undang-undang yang melarang pembunuhan ekstrajudisial atas warga Amerika yang dicurigai bekerjasama dengan kelompok teroris dalam respon langsung terhadap perintah Gedung Putih."
Sementara itu, Yaman mengatakan bahwa ancaman Al Qaeda di negaranya telah dibesar-besarkan, bersikukuh bahwa merupakan tugas Sana’a untuk memerangi militan.
"Outlet media Barat membesar-besarkan ukuran Al Qaeda dan bahaya yang dihadirkannya terhadap stabilitas dan keamanan Yaman," bunyi sebuah laporan dari kantor berita Saba.
"Yaman bersikukuh bahwa memerangi terorisme di Yaman tetap menjadi tanggung jawab otoritas keamanan Yaman," ujar seorang pejabat Sana’a.
"Pasukan Yaman, dengan dukungan dari kawan dan saudara, mampu memikul tanggung jawab penuh mereka dalam memberantas unsur-unsur Al Qaeda," tambahnya. (rin/pv) www.suaramedia.com















