Obama berbincang dengan Bush melalui telepon sebelum pidato dari Ruang Oval pada Selasa malam tersebut. Gedung Putih tidak mengungkapkan apa yang diperbincangkan keduanya.
Saat bersiap mengakhiri misi tempur AS di Irak, Obama berbicara dengan Bush melalui telepon.
Para ajudannya mengatakan bahwa Obama menelepon dari atas pesawat kepresidenan Air Force One pada hari Selasa saat ia terbang dari Fort Bliss di Texas untuk berbicara kepada para prajurit AS.
Deputi penasihat keamanan nasional, Ben Rhodes, mengatakan telepon Obama dan Bush tersebut berlangsung beberapa menit. Tapi, dirinya maupun yang lain tidak mengetahui apa yang dibicarakan.
Dalam pidato tersebut, Obama mengatakan meski sudah banyak diketahui bahwa keduanya tidak setuju dengan perang, tidak ada yang bisa meragukan dukungan yang diberikan Bush untuk para prajurit AS, kecintaannya terhadap AS , dan komitmennya terhadap keamanan negara.
Obama mengatakan ada patriot yang mendukung perang dan ada juga patriot yang menentang peperangan.
Peperangan yang tak kunjung diakhiri dalam sejarah blunder politik Amerika mencapai titik akhir pada hari Selasa waktu setempat dengan lima kata dari Presiden Barack Obama, "Operation Iraqi Freedom (Operasi ‘Pembebasan’ Irak) telah usai."
Pernyataan yang diucapkan secara langsung dan disiarkan lima stasiun televisi itu menandai diakhirinya invasi AS setelah lebih dari tujuh tahun perang.
Obama memuji para prajurit AS dengan sebutan "baja di dalam bahtera negara kita," mengatakan, "Kami sudah memenuhi tanggung jawab, sekarang waktunya kita membalik halaman."
Penghentian misi perang membuat AS hanya menyisakan sekitar 50.000 orang prajurit di Irak, menyusut dari masa-masa puncak yang mencapai lebih dari 150.000 orang. Prajurit yang tersisa dijadwalkan menarik diri pada akhir tahun 2011.
Dua tahun lalu, saat masih menjadi kandidat presiden, Barack Obama mengkritik rivalnya, John McCain karena menawarkan perubahan "palsu"dengan menyatakan, "Anda bisa memulaskan lipstik di bibir seekor babi, karena babi tetap babi." Dalam pidatonya Selasa malam mengenai perang Irak, Obama mencoba memulaskan lipstik terhadap sebuah bencana bernama perang Irak. Ia akan berusaha menyedot racun politik dari keterlibatan Amerika di Irak dengan memperlihatkan kemenangan yang lebih bernuansa di negara tersebut.
Obama telah berhasil menghilangkan aspek politik dari konflik Irak dengan cara tetap berpegang pada rencana keluar yang mirip dengan pendahulunya, menggunakan Wapres Biden sebagai wajah kebijakan AS di Baghdad, dan secara bersamaan menarik prajurit berseragam, meski pada saat bersamaan menambah jumlah kontraktor swasta, Obama telah berhasil memenangkan narasi resmi invasi AS di Irak.
Namun, saat kekerasan di Irak terus meningkat dan dalam dua bulan terakhir mencatatkan kematian lebih dari 500 warga sipil, tampaknya "Operasi Fajar Baru" yang dijadikan pengganti Operasi "Pembebasan" Irak bisa menjadi contoh kemenangan retorika di atas kenyataan.
Masih ada 50.000 orang prajurit Amerika yang ada di Irak, jumlah itu nyaris setengah jumlah pasukan Inggris di negara tersebut. Meski mereka tidak menjalankan misi tempur, mereka sepenuhnya mampu melakukan itu jika diminta Irak.
Perlu diingat bahwa seharusnya tidak ada prajurit AS yang tetap tinggal di dalam kota-kota Irak sejak bulan Juni lalu, tapi, ternyata mereka masih menjalankan misi di Mosul dan mungkin saja di berbagai kota lain. Batas penarikan pada tahun 2011 juga tidak bisa dengan mudah dinegosiasikan ulang, khususnya jika para pemimpin Irak mendengarkan tuntutan dari perwira tinggi militer.
Peningkatan jumlah kontraktor swasta untuk menjaga kedutaan terbesar AS di muka bumi dan konsulatnya di Kirkuk dan Mosul dengan 7.000 personel yang diperlengkapi dengan kendaraan antiranjau (MRAP) dan helikopter Blackhawk merupakan permainan politik yang pandai. Privatisasi perang Irak menyingkirkan perdebatan seputar penarikan pulang pasukan, mungkin memberikan kemenangan bagi Obama dalam hal kebijakan luar negeri. Tapi, perlu diingat juga bahwa itu bukan jaminan kemenangan sesungguhnya, seperti di Afghanistan yang terus menelan nyawa prajurit Amerika.
Ironisnya, invasi AS tersebut dimulai Bush dengan menggunakan dalih "senjata pemusnah massal" (yang tidak pernah ditemukan) dan kemudian berubah haluan dengan alasan mendirikan demokrasi di Irak. Tapi, saat kendaraan-kendaraan perang AS beriringan keluar dari Irak menuju ke Kuwait dengan "oleh-oleh"bekas-bekas pelajaran selama tujuh tahun melawan bom rakitan (IED), sama sekali tidak ada pemerintahan demokratis di Baghdad yang mengantar kepergian mereka. (dn/st/ts/gd) www.suaramedia.com














