Selasa, 22 Mei 2012

Headlines:

Perang Irak Yang Sebenarnya Akan Dimulai

E-mail Cetak PDF

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Ada risiko nyata bahwa klaim Presiden Obama dalam pidatonya di Ruang Oval bahwa "misi tempur Amerika telah berakhir" di Irak akan sama dengan kesalahan penilaian Presiden Bush bahwa "misi telah tercapai" di bulan Mei 2003.

Tentu, jatuhnya korban AS di Irak tidak akan berhenti, meskipun jumlahnya akan terus menurun. Sisa 50,000 tentara Amerika yang tetap di Irak kini melatih dan mendukung pasukan dalam negeri Irak. Pasukan AS akan melakukan misi bersama unit-unit Irak yang mereka latih. Pasukan Operasi Khusus Amerika akan melanjutkan perburuan mereka akan musuh yang mendatangkan malapetaka dengan bom mobil. Bentrokan senjata tidak akan bisa terhindarkan.

Dua skenario terburuk mengintai di cakrawala Irak. Yang pertama adalah terulangnya perang sipil, lainnya adalah kembali ke diktator militer.

Berlarutnya ketidakmampuan politisi Irak untuk membentuk pemerintahan, enam bulan setelah pemilu, membuat cemas semua orang tentang pemeliharaan perdamaian di Irak. Kebuntuan itu memiliki akar yang mengalir lebih dalam daripada ego dan ambisi. Politik Irak adalah permainan zero-sum: perolehan suatu komunitas dianggap sebagai kekalahan bagi komunitas lainnya. Negosiasi untuk membentuk pemerintahan baru berputar pada isu siapa mendapatkan apa.

Nuri Al Maliki, perdana menteri incumbent, kalah dalam pemilu Maret dari koalisi pimpinan mantan perdana menteri Ayad Allawi. Namun, Maliki bertekad untuk merebut kekuasaan. Dia adalah pemimpin berkemampuan dengan gaya polisi tangguh yang tampaknya dihormati oleh rakyat Irak. Tapi, baik dalam pemilu maupun negosiasi dia tidak bisa menjangkau Sunni dan Kurdi dengan meyakinkan.

Contohnya, AS mendesak parlemen Irak untuk meloloskan sebuah legislasi yang akan menjamin setiap masyarakat Irak mendapat bagian dari kekayaan minyak negara mereka. Tapi dalam dialog beberapa minggu lalu, salah satu penasihat anggaran utama Maliki menepis kemungkinan kesepakatan tersebut. Semua pendapatan minyak, ujarnya, harus dan akan mengalir ke pemerintah pusat, untuk disalurkan sesuai dengan apa yang mereka pikir cocok. Tidakkah kelompok Sunni akan melihat ini sebagai pengkhianatan dari janji yang telah diberikan? "Kaum Sunni tidak punya pemimpin," ujarnya. Dan Kurdi? "Mereka akan puas dengan apa pun yang mereka peroleh." Maliki, ujarnya, adalah satu-satunya pemimpin Irak yang ingin memerintah seluruh Irak. Yang lainnya hanya mau menguasai sebagian. Allawi berhutang dukungan dan aliansi terutama pada kaum Sunni, tambahnya.

Itu adalah wawasan yang membuka mata ke dalam kemenangan Syiah. Setelah beberapa generasi ketika mayoritas Syiah ditindas oleh minoritas Sunni, intervensi AS menyerahkan kekuasaan ke tangan Syiah. Sekarang Syiah berniat untuk menikmati hadiah itu. Maliki tidak menunjukkan kecenderungan untuk menjadi seperti Nelson Mandela.

Sudah ada tanda-tanda menyenangkan bahwa milisi Sunni akan kembali mengelompok. Jika Maliki menelantarkan legislasi minyak yang dulu dijanjikannya, banyak orang Sunni yang akan memandangnya sebagai bukti ketidaktertarikan Maliki dalam meninggalkan politik zero-sum untuk rekonsiliasi nyata. Jika perselisihan yang menghancurkan keduanya itu pecah lagi, seperti yang terjadi di tahun 2003, akankah pasukan Amerika mampu menjauhkan diri dari pembantaian yang akan terjadi dalam setiap konflik? Sulit untuk melihat bagaimana caranya. Pasukan Amerika akan melihat kepasifan sebagai pengkhianatan terhadap cita-cita mereka. Seorang komandan militer AS di Irak mengatakan bahwa militer Israel tidak pernah memulihkan prestisenya dari tuduhan bahwa ketika menginvasi Libanon, mereka hanya berdiam diri sementara milisi Phalangis Kristen Libanon membantai ratusan wanita dan anak-anak Palestina di kamp pengungsi Sabra dan Shatila di bulan September 1982.

Apa Obama menyadari risiko ini? Apa yang terjadi di Irak mulai akhir tahun 2003 bukan pemberontakan. Kelompok-kelompok seperti Al Qaeda menambah pembunuhan, tapi konfliknya sendiri adalah perang sipil.

Obama berargumen bahwa penarikan pasukan AS dari pertempuran membuka lembaran baru dalam hubungan Amerika dengan negara tersebut. Pemerintah berharap bahwa awal dari penarikan AS akan memfokuskan pikiran politisi Irak dan memaksa mereka untuk menyetujui sebuah pemerintahan baru, satu kesatuan nasional, seperti yang didesakkan oleh Wakil Presiden Biden dalam setiap kunjungannya. Tapi klaim Obama bahwa Amerika telah membuka lembaran baru mengabaikan realita yang lebih penting. Irak belum membuka halaman baru, baik pada dekade terakhir yang berlumuran darah atau bertahun-tahun di bawah kediktatoran yang mendahuluinya.

Sekarang, Sunni dan Kurdi melihat kehadiran Amerika sebagai satu-satunya penjamin tempat mereka dalam tatanan baru yang didominasi oleh Syiah. (rin/nw) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon