Selasa, 22 Mei 2012

Headlines:

Militer AS Takkan Kebagian Mainkan Taliban

E-mail Cetak PDF

WASHINGTON (Berita SuaraMedia) – Jika para prajurit AS ingin mengalahkan Taliban, maka mereka harus melakukannya di kehidupan nyata, bukan dalam permainan.

Pengecer game besar, GameStop mengatakan bahwa pihaknya tidak akan menjual Medal of Honor buatan EA di toko-tokonya yang ada di pangkalan militer karena itu memungkinkan pemain menjadi Taliban.

"Hal itu tidak menghormati para pria dan wanita berseragam militer kita di masa lalu dan di masa kini," kata perusahaan tersebut sebagaimana dilaporkan IndustryGamers.

Permainan itu sendiri belum dijual hingga bulan depan, tapi sudah banyak mendatangkan kritikan karena fitur memainkan Taliban.

"Saya tak habis pikir bagaimana bisa menembaki karakter prajurit yang dibuat berdasarkan (prajurit) Amerika sesungguhnya dianggap sebagai hiburan sementara setiap hari orang-orang mempertaruhkan nyawa untuk negara ini," kata Meredith, ibu dari Letnan Ken Ballard, prajurit yang tewas di Irak pada 2004 kepada San Jose Mercury News.

"Bagaimana mungkin mereka bilang tidak apa-apa jika ada yang memainkan Taliban? Orang-orang duduk di rumah, minum bir lalu menembaki prajurit Amerika, mungkin mereka meleset lalu mulai lagi dari awal. Ken tidak pernah punya kesempatan mulai dari awal," katanya.

Medal of Honor dirilis pada tanggal 12 Oktober mendatang. Selain kritikan, banyak pembeli yang sudah mengantre. EA menyebut permainan itu memiliki narasi yang kuat, efek visual yang realistis, dan fitur multi-pemain untuk membuat perusahaan tersebut mendapatkan kembali era kejayaan yang dulu pernah dinikmatinya.

Dengan berlatar belakang Afghanistan dan pilihan untuk memainkan kubu mana pun, para pemain seperti Fernando Angeles tidak sabar lagi memainkannya. "Menyenangkan membunuh orang-orang," kata bocah 13 tahun yang jemarinya sudah gatal memainkan Medal of Honor dan berdiri di luar toko GameStop di San Jose. "Saya bisa berkeliling dan merasa seperti prajurit. Saya pernah main jadi penjahat sebelumnya, tapi yang ini lebih baik karena dibuat berdasarkan kenyataan. Saya tak mau menyakiti (prajurit) Amerika lainnya, tapi saya harus memenangkan permainan."

Ia menambahkan, "Selain itu, ini kan cuma game. Tidak benar-benar menyakiti siapa pun."

"Saat kita berusaha mencari cara menjalani sisa hidup, lalu tiba-tiba seseorang muncul dengan game ini," kata Meredith, yang mengetahui perihal permainan itu setelah dihubungi Fox News. "Saya ingin para pembuat game ini menatap mata saya dan mengatakan bagaimana bisa ini disebut hiburan."

EA justru semakin memanaskan situasi saat juru bicaranya, Jeff Brown, pekan lalu berkata, "Menurut saya, semua (keributan) ini adalah perbuatan orang-orang yang tidak pernah main video game dalam 20 tahun terakhir. Ini tidak mengejutkan bagi pemain mana pun. Dalam permainan konflik semacam ini, harus ada yang jadi orang jahat."

Menteri Pertahanan Inggris Liam Fox sebelumnya melarang penjualan Medal of Honor karena memungkinkan pemain Taliban membunuh prajurit Inggris.

EA mengeluarkan bantahan. Seorang juru bicara EA mengatakan kepada surat kabar Inggris, Telegraph, "Permainan ini tidak memungkinkan pemain membunuh prajurit Inggris. Tidak ada prajurit Inggris dalam game ini."

Juru bicara wanita EA, Amanda Taggart, mengatakan kepada agensi berita Sunday Times di Inggris, "Kami memberikan kesempatan kepada para pemain untuk memerankan kedua kubu. Kita sudah melakukan ini sejak tujuh tahun, jika ada yang jadi polisi, harus ada yang jadi perampok. Dalam Medal of Honor multiplayer, harus ada yang jadi Taliban.

Yang membuat kesal Meredith adalah sejumlah komentar para gamer di internet yang mengecamnya karena mempermasalahkan hal itu. "Ibu yang bodoh," kata salah satunya. "Kami tetap akan membeli game ini, jadi biarkan saja dia," kata yang lainnya.

Sejumlah blogger lain membahas ketegangan antara hak konstitusional untuk memainkan permainan menembak apa pun yang disukai dan dampak menyakitkan permainan macam itu terhadap sejumlah orang.

"Saya bisa mengerti jika Meredith mungkin tidak ingin memainkan game yang berlatar belakang perang yang merenggut nyawa putranya," tulis seseorang di situs komunitas pecinta game, Destructoid. "Tapi, tentu saja dia tak perlu memainkannya. Putranya memilih jadi tentara dan mempertaruhkan nyawa di garis depan, sama seperti orang dewasa lain yang bisa memutuskan permainan apa yang mereka suka." (dn/nr/msn) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon