Selasa, 22 Mei 2012

Headlines:

Sakit, Mantan Tentara AS Ancam Bunuh Obama

E-mail Cetak PDF

SAVANNAH, GEORGIA (Berita SuaraMedia) – Seorang mantan tentara dituduh menuntut perawatan mental ketika ia mengambil sandera di Rumah Sakit Angkatan Darat Georgia, yang kemudian mengatakan kepada penyelidik bahwa ia merencanakan untuk membunuh Presiden Barack Obama dan mantan Presiden Bill Clinton, jaksa federal mengatakan dalam dokumen pengadilan.

Tuntutan federal diajukan di Pengadilan Distrik AS di Savannah mengidentifikasi tertuduh pria bersenjata sebagai Robert Anthony Quinones berusia 29 tahun. Angkatan Darat mengatakan bahwa ia mengambil tiga pekerja rumah sakit sebagai sandera pada Senin waktu stempat dalam sebuah dua jam kebuntuan di Rumah Sakit Komunitas Angkatan Darat Winn di Fort Stewart, 40 mil barat daya Savannah. Pejabat Angkatan Darat mengatakan bahwa pria bersenjata tersebut menyerah dan tidak ada yang terluka.

Jaksa federal menuntut Quinones dengan penculikan dan penyerangan dengan senjata mematikan dalam hubungannya dengan kebuntuan penyanderaan rumah sakit. Ia juga didakwa dengan membuat ancaman untuk membunuh Obama dan Clinton.

Ibu Quinones, Janet Gladwell, mengatakan bahwa ia tidak mengetahui sama sekali anak laki-lakinya telah keluar dari rumah di pagi hari dan pergi ke rumah sakit. Ia mengatakan bahwa ia secara medis divonis dari beberaoa bulan lalu karena ia menderita kelainan stress pasca truama.

"Alasan ia di rumah sakit tersebut pada malam sebelumnya adalah untuk mendapatkan pengobatan," Galdwell mengatakan pada kantor berita Associated Press. "Ia telah didiagnosa sakit dan ini adalah sebuah tangisan keputusasaan untuk meminta bantuan."

Ibu Quinones mengatakan bahwa anaknya didiagnosa setelah bertugas 15 bulan tur di Irak pada tahun 2006 dan 2007 dengan seorang brigade Angkatan Darat yang bermarkas di Fort Lewis, Wash. Ia mengatakan bahwa ia pindah ke Hinesville, di dekat Frot Stewart, untuk tinggal bersama dengannya setalah pemecatannya.

Gladwell menolak untuk menceritakan sejarah anaknya degnan rinci. Ia mengatakan bahwa ia belum mendapatkan seorang pengacara.

Namun Galdwell terdengar terkejut mendengar jaksa penuntut telah mendakwa anaknya dengan ancaman membunuh Obama dan Clinton.

"Saya tidak tahu apa-apa mengenai hal itu," ia mengatakan. "Hal itu benar-benar di luar  batas baginya."

Dokumen pengadilan mengatakan bahwa Quinones mengatakan kepada FBI, agen rahasia dan penyelidik Angkatan Darat setelah penangkapannya bahwa sebagai bagian dari rencana pembunuhan, ia telah mempelajari protokol agen rahasia, teknik penembakan jitu, dan cara-cara untuk menyamarkan dirinya sendiri dan menggunakan senjata.

Para penyelidik mengatakan bahwa sebuah pencarian di rumah tersangka ternyata sedikitnya 15 senjata, termasuk senapan kekuatan tinggi dengan jangkauan, begitu juga dengan buku-buku dan DVD protokol Dinas Rahasia, teknik penembak jitu Israel, Osama Bin Laden dan pengebom Oklahoma Timothy McVeigh.

Sebuah kesaksian tertulis oleh agen FBI dan Dinas Rahasia yang mewawancarai Quinones, mengajukan di pengadilan, mengatakan bahwa tersangka ditanya apakah ia akan membunuh Obama dan Clinton akan diberi kesempatan.

"Ya, dalam skala 1 sampai 10 tentang menjadi serius, saya mengukur 10," Quinones menanggapi, menurut kesaksian tertulis tersebut.

Dokumen pengadilan mengatakan bahwa Quinones dipecat dari Angkatan Darat pada Februari dan bekerja sbeuah pekerjaan sipil di Fort Stewart. Tidak detil yang lain tentang layanan militernya atau kepegawaian telah segera tersedia. Ia tinggal di Hinesville, sebuah kota yang bertetangga dengan pos tersebut. Sebuah nomer telepon untuknya diputuskan. Hal ini tidak dengan segera diketahui jika ia memiliki seorang pengacara atau di mana ia ditahan.

Brigjen Jeffery Phillips, seorang senior komando Frot Stewart, mengatakan bahwa mantan tentara tersebut mengatakan para sandera yang ia butuhkan membantu untuk masalah mental "menghubungkan, saya cukup yakin, pada pada tugas lamanya."

Tersangka tersebut berjalan menuju ruang gawat darurat membawa dua pistol tangan, Phillips mengatakan. Ia mengambil seorang sandera medis dan menuju ke sayap gedung perawatan tingkah laku di lantai tiga.

Seorang perawat psikiatris mendekati pria tersebut untuk berbicara dan kemudian perawat tersebut di bawa juga sebagai sandera dengan seorang tekhnisi yang menolak untuk memperbolehkan pria bersenjata tersebut melewati sebuah pintu yang dikunci ke daerah pasien.

Phillips mengatakan bahwa perawat tersebut, dapat mulai menenangkan pria bersenjata tersebut sebelum penyelidik Angkatan Darat terlatih dalam negosiaasi tiba dan merayunya untuk menjatuhkan senjatanya dan mnyerah.

Karena tersangka adalah seorang penduduk sipil dan kebuntuan tersebut melibatkan sandera pada sebuah instansi federal, FBI diminta membantu dengan penyelidikannya. (ppt/msn) www.suaramedia.com

Computer

75.000 Virus Serang Ekstensen exe.
Angka 32% dimana komputer mengunakan antivirus...More »

Berita Gadget Terkini

AndrenoCam, Video Recorder Yang Bisa Jadi Alat Pengintai
Adapaun bandrol dari perangkat gadget ini hanya...More »

Otomotif Terbaru

Vertigo 5 Spirit, Sebuah Karya Seni Indah Dari Bumi Belgia
Namun Gillet belum mengumumkan berapa kecepatan...More »

Follow Us

Follow Us Digg Twitter Facebook StumbleUpon