Berdasarkan rencana tersebut, AS akan meledakkan target-target lokasi al-Qaeda yang ada dalam database intelijen AS, demikian tertuang dalam buku yang ditulis wartawan investigasi AS, Bob Woodward.
"Sejumlah lokasi mungkin sudah tidak lagi akurat, tapi tidak perlu ada yang dikhawatirkan berdasarkan rencana itu, bagi siapa saja yang mungkin tinggal di sana sekarang. Rencana itu menyerukan serangan brital terhadap setidaknya 150 kamp atau lebih," kata Woodward.
Sebelumnya, berdasarkan laporan-laporan media AS, sebagian besar kamp-kamp tersebut terletak di kawasan suku Pakistan dan juga di Afghanistan.
Woodward mengatakan, rencana tersebut terendus ketika Presiden George W. Bush menyamakan serangan Mumbai dengan peristiwa 11 September 2001 di AS.
Pengungkapan dalam buku tersebut muncul dengan berlatar belakang peringatan keras dari Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton yang menyebut bahwa akan ada konsekuensi serius jika kembali terjadi serangan sejenis dengan 9/11 dan akhirnya terlacak perancangan serangan dari Pakistan.
Rencana tersebut dirumuskan sebelum kepresidenan Obama, mundur ke zaman Gedung Putih di bawah kepemimpinan Bush. Tapi, sejumlah elemen kebijakan yang bertujuan menghapuskan tempat perlindungan gerilyawan di Pakistan, tampak sejalan dengan tindakan pemerintah saat ini yang melakukan pengeboman melalui pesawat tanpa awak di Pakistan, yang jauh melampaui pendekatan Bush dalam hal frekuensi dan intensitas serangan.
Menurut Woodward, Bush tidak melihat banyak perbedaan antara 9/11 dengan 26/11 (serangan Mumbai). Yang menjadi landasan kepemimpinan Bush adalah tidak ada toleransi untuk "teroris" dan pendukung mereka, dan ia amat bangga dengan doktrin garis keras tersebut.
Meski rencana-rencana serangan terhadap Pakistan awalnya dihubungkan dengan jenis serangan 9/11 terhadap AS, hal itu berkembang setelah 26/11, saat Bush meminta para ajudannya menyusun rencana cadangan untuk berhadapan dengan Pakistan.
Ia memanggil tim keamanan nasionalnya ke Ruang Oval dan memberitahu para penasihatnya, "Kalian rumuskan rencana dan lakukan apa yang harus kalian lakukan untuk menghentikan perang antara Pakistan dengan India."
Perintah itu menyiratkan bahwa AS akan melakukan pengeboman demi menghentikan India melakukan serangan balasan terhadap Pakistan, yang bisa berujung pada peperangan habis-habisan.
"Ini seperti 9/11) yang dikatakan (Bush)," tulis Woodward. "Militer Amerika Serikat tidak memiliki rencana ‘perang’ untuk menginvasi Pakistan. AS justru memiliki dan terus menjalankan rencana yang paling sensitif dan rahasia dari semua satuan militer, yang disebut para perwira militer sebagai rencana ‘balas dendam’ jika terjadi serangan yang mirip dengan 9/11."
Bahkan, seperti itulah kemarahan di dalam pemerintahan AS mengenai pendekatan bermuka dua Pakistan sehingga rencana tersebut menyerukan pendekatan tanpa batasan.
Lalu, bagaimana bisa Pakistan lolos dari amukan kebijakan tanpa toleransi AS? Menurut Woodward, dalam 48 jam pertama serangan, intelijen CIA tidak menunjukkan hubungan langsung terhadap ISI (intelijen Pakistan). Bush sendiri yang menelepon Perdana Menteri Manmohan Singh dan memberitahunya bahwa pemerintahan baru Pakistan tidak terlibat dalam serangan tersebut.
Tapi, CIA kemudian menerima data intelijen yang menyebut bahwa ISI terlibat langsung dalam pelatihan serangan Mumbai, tulis Woodward pada bagian catatan kaki. Kepala ISI Ahmed Shuja Pasha kemudian terbang ke Washington dan mengakui bahwa setidaknya ada dua orang mantan perwira Pakistan yang merencanakan serangan Mumbai memiliki keterkaitan dengan ISI. "Tapi, itu bukan operasi resmi ISI. Itu operasi kejahatan lepas."
Buku Woodward yang tebalnya mencapai 417 halaman menawarkan sudut pandang lain terhadap perubahan kebijakan AfPak Obama yang memiliki persentase Pak (Pakistan) lebih tinggi dibandingkan Af (Afghanistan).
Dalam wawancara dengan ABC, Woodward menjelaskan bagaimana Obama diberitahu mengenai masalah mendalam dalam hubungan antara AS dan Pakistan saat ia mendapatkan pengarahan intelijen pertamanya. Woodward menyamakan hal itu dengan "mandi air dingin" bagi seorang presiden yang baru masuk kantor dua hari setelah menang dalam pemilihan presiden tahun 2008.
"Bayangkan, baru merasa senang setelah terpilih Selasa dan dua hari kemudian masuk (kantor), diberitahu semua rahasia dan salah satu rahasianya adalah Pakistan," tulis Woodward. "Kita menyerang tempat-tempat perlindungan di Pakistan dengan operasi rahasia, tapi Pakistan hidup dalam kebohongan, dan hal ini menjadi tema di sepanjang kepemimpinan Obama: ‘Bagaimana mendapatkan kendali di Pakistan?’"
Sesaat kemudian, dalam sebuah pertemuan di Ruang Oval dengan Presiden Pakistan Asif Ali Zardari, Obama secara terang-terangan mengatakan bahwa Pakistan harus menyudahi obsesinya mengenai India. "Kami tidak melarang Anda khawatir terhadap India," kata Obama kepada Zardari. "Tapi, kami tidak ingin mempersenjatai (Pakistan) melawan India, jadi saya ingin memperjelas mengenai hal itu."
Zardari menjawan, "Kami tengah berusaha mengubah pandangan dunia kami, tapi hal itu tidak akan terjadi dalam semalam." (dn/ie/toi) www.suaramedia.com














