Sebuah dokumen setebal sembilan halaman, ditulis oleh anggota kawakan dari Ordo Salib Suci, mencatat runtutan tuduhan khusus pelecehan selama bertahun-tahun di Montreal’s College Notre Dame. Dokumen tersebut berisi daftar nama puluhan anggota persaudaraan Salib Suci dari berbagai institusi.
Dokumen tersebut juga memperlihatkan para penjahat pelaku pelecehan di sekolah privat yang bernaung di bawah ordo itu didiamkan dan tidak dilaporkan ke pihak yang berwajib. Sebaliknya, mereka justru tetap diperkenankan tinggal dan menjadi pengajar atau staf pendukung.
Dalam dokumen itu, disebutkan bahwa setidaknya dalam satu kasus, sekolah itu membayar $250.000 demi membungkam sebuah keluarga yang mengeluh karena para pelaku pelecehan tidak dipolisikan.
Wilson Kennedy, seorang mantan anggota ordo religius tersebut, dalam wawancara eksklusif dengan Radio-Canada menyatakan bahwa saat dirinya masih tergabung dalam kelompok itu, ia pernah menyampaikan masalah yang bersangkutan kepada seorang pejabat Vatikan.
"Roma telah diberitahu dan pemimpin keagamaan menanyai saya untuk mengklarifikasi beberapa kasus," kata Kennedy.
Ia mengatakan memang ada "budaya diam" yang dikembangkan untuk melindungi tersangka pelecehan.
"Anda melindungi sebuah kelompok. Salahkah itu? Ya, itu salah," kata Kennedy.
Ordo Salib Suci bertanggung jawab atas perawatan dan pendidikan ribuan warga Quebec selama bertahun-tahun. Lembaga tersebut mengoperasikan berbagai institusi untuk orang-orang cacat, rumah rehabilitasi narkoba, dan berbagai perguruan tinggi privat di Montreal serta berbagai kawasan di provinsi tersebut.
Tudingan pelecehan di College Notre Dame mulai muncul ke permukaan beberapa tahun yang lalu. Universitas tersebut terletak tepat di sebeerang jalan dari bangunan St. Joseph Oratory, yang juga dibangun oleh Ordo Salib Suci.
Sebuah keluarga melayangkan gugatan hukum terhadap ordo tersebut dan membentuk sebuah kelompok pendukung.
Ordo itu mengatakan pihaknya tidak bersedia memberikan komentar karena kasus itu masih ditangani pengadilan, tapi mereka memberikan pernyataan yang menyebut bahwa pihaknya "mengecam keras" segala bentuk kesalahan.
Juni lalu, sebuah kelompok korban pelecehan seksual mengatakan bahwa pemimpin Katolik tertinggi di Kanada tidak pantas menerima promosi ke Vatikan karena cara penanganannya terhadap skandal pelecehan seksual gereja.
France Bédard, pendiri kelompok itu, mengatakan bahwa Kardinal Marc Ouellet berulang kali menolak meminta maaf atas kejahatan yang dilakukan di dalam gereja, dan juga ratusan orang yang hancur kehidupannya.
Paus Benediktus menunjuk sang kardinal menjadi uskup yang bertugas memberikan nasihat kepada paus untuk pemilihan uskup-uskup.
Bédard, kepala l’Association des Victimes de Prêtres, sebuah kelompok yang membantu para korban pelecehan seksual para pastor di Quebec, mengatakan bahwa pengangkatan Ouellet tidak pantas.
"Ada banyak kehidupan yang sepenuhnya hancur, dan itulah yang saya pertanyakan selama bertahun-tahun, agar Kardinal Ouellet memperbaiki kerusakan yang telah ditimbulkan para pastor pedofil," kata Bédard.
"Promosi yang mungkin ia dapatkan betul-betul tidak pantas. Dia selalu bersikap diam terhadap para korban."
Komentar tersebut disampaikan Bédard di luar ruang persidangan Kota Quebec setelah kemunculan seorang pastor yang memiliki kelainan pedofilia.
Keuskupan Agusng Quebec tidak menjawab panggilan telepon yang meminta keterangan terkait pernyataan Bédard. (dn/cbc) www.suaramedia.com
- Bin Laden Manfaatkan Masalah Iklim Untuk Gali Dukungan
- Kenakan Celana Pendek, Keluarga Penerima Medali Ditolak AS
- Rayu Israel, Obama Siapkan Imbalan Persenjataan Canggih
- NY Times: Kode Rahasia Virus Iran Tinggalkan Jejak Israel
- "Kegagalan Perang Vietnam Kesalahan Kita Sendiri"














