Walikota setempat menyerukan kepada Perdana Menteri baru Jepang, Yukio Hatoyama, untuk mengakhiri beban dan pengalaman pahit Okinawa.
Pada tahun 2006, Jepang dan AS setuju untuk merelokasi markas Futenma dari sebuah wilayah perkotaan ke lahan baru, namun proses pemilihan perdana menteri Jepang kembali menghidupkan tentangan terhadap hal tersebut.
Unjuk rasa tersebut dilakukan menjelang kunjungan Presiden Barack Obama pada minggu ini.
Wartawan BBC, Roland Buerk, yang berada di ibukota Jepang, Tokyo, mengatakan bahwa ketegangan yang terjadi seputar relokasi pangkalan tersebut mengarah pada memburuknya hubungan antara pemerintah baru Jepang dengan sekutu kunci negara matahari terbit tersebut.
Menteri Luar Negeri Jepang, Katsuya Okada memperingatkan bahwa hal tersebut tampaknya tidak akan selesai sebelum Obama tiba di Jepang pada hari Jumat.
Pemerintahan baru Jepang telah menunjukkan determinasi untuk memiliki jenjang hubungan yang baru dengan AS, bukan seperti majikan dan pengikut.
Para pengorganisir protes mengklaim bahwa ada 21.000 orang yang turut ambil bagian dalam unjuk rasa tersebut.
Kepada para pengunjuk rasa, walikota Ginowan, Yoichi Iha, berkata: "Saya mendesak Perdana Menteri Hatoyama untuk menyampaikan kepada Presiden Obama bahwa Okinawa sama sekali tidak memerlukan kehadiran pangkalan AS."
Salah seorang pengunjuk rasa, Yoshiko Yonamine, mengatakan kepada AFP: "Orang-orang Okinawa memberikan suara kepada pemerintah baru, dan berpikir bahwa mungkin pemerintah batu ini akan mengenyahkan pangkalan AS dari pulau ini. Saya tidak ingin pemerintahan baru ini mengkhianati kami semua."
Pangkalan tersebut terletak di pusat kota yang sibuk, warga sekitar mengeluhkan mengenai polusi udara, polusi suara dan kejahatan. Kedua pemerintahan menyepakati pada tahun 2006 untuk memindakan pangkalan tersebut ke Camp Schwab, yang terletak di pantai Okinawa.
Namun, koresponden BBC mengatakan bahwa juga ada gelombang tentangan terhadap lokasi baru yang diusulkan tersebut, karena kemungkinan kerusakan yang mungkin terjadi terhadap terumbu karang.
Okinawa ditempati oleh setengah dari 47.000 pasukan AS yang berada di Jepang.
Hatoyama, yang proses terpililhnya pada bulan Agustus silam mengakhiri dominasi kubu konservatif selama lebih dari setengah abad, menyarankan agar pangkalan militer tersebut dipindahkan keluar dari pulau tersebut, atau bahkan keluar dari tanah Jepang.
AS bersikeras menginginkan Jepang agar menghormati kesepakatan tahun 2006 untuk pindah menuju area pinggir pantai.
Dalam kesepakatan tersebut, Jepang diharuskan untuk mendanai penggantian pangkalan tersebut, ditambah dengan pengiriman 8.000 orang pasukan marinir AS ke Guam pada tahun 2014 mendatang.
Bulan Oktober silam, pemerintah baru Jepang menunjukkan tanda-tanda tunduk kepada tekanan dari para pejabat tinggi militer AS dan mengatakan bahwa pihaknya tetap mempertahankan pangkalan militer AS di Okinawa.
Langkah tersebut mempersempit ketegangan antara dua negara tersebut menjelang kedatangan Presiden Obama.
Pemerintahan Perdana Menteri Yukio Hartoyama telah mengisyaratkan bahwa pihaknya akan menerapkan perubahan terhadap kesepakatan tahun 2006 yang akan mengalihkan 47.000 orang pasukan AS di Jepang, termasuk memindahkan 8.000 orang marinir ke Guam.
Menteri Pertahanan AS, Robert Gates, yang datang mengunjungi Tokyo bulan lalu, menegaskan bahwa Futenma harus direlokasi dan tetap berada di pulau tersebut, ia menyebut pilihan-pilihan lain sebagai hal yang "tidak dapat dilakukan."
Laksamana Mike Mullen semakin menambahkan tekanan. Dalam pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Katsuya Okada dan para pejabat lain, Mullen mendesak Jepang untuk menyelesaikan isu tersebut dalam waktu singkat.
Setelah bertemu dengan Mullen, Okada mengatakan bahwa memindahkan Futenma keluar dari Okinawa "bukanlah sebuah pilihan", meski jelas merupakan hal yang sulit untuk menyelesaikan permasalahan lokasi pangkalan baru sebelum kedatangan Obama pada tanggal 12-13 November mendatang.
"Mempergunakan gagasan lain bukanlah keinginan dari warga Okinawa," katanya. (dn/bc/ms) www.suaramedia.com














