Kepada para wartawan dalam sebuah pernyataan gabungan, Obama dan Hu setuju bahwa republik Islam Iran harus memberikan jaminan kepada komunitas internasional bahwa program nuklirnya memang murni bertujuan damai dan transparan.
"Pada titik ini, kedua negara kami (dan kekuatan global lainnya) bersatu," kata Obama.
"Iran telah diberikan kesempatan untuk mempresentasikan dan mendemonstrasikan bahwa nuklirnya bertujuan damai, namun (Iran) tidak mampu memanfaatkan peluang ini, jadi memang akan ada konsekuensi (yang harus ditanggung)," tambah Obama.
China dan AS adalah dua dari enam negara kuat dunia yang melakukan negosiasi untuk mengakhiri keberlangsungan program nuklir Iran.
Badan pengawas nuklir PBB pada hari Senin meminta Iran untuk memberikan informasi lebih lengkap mengenai tujuan dari situs nuklir yang dirahasiakan dan mengindikasikan bahwa republik Islam tersebut mungkin saja menyembunyikan keberadaan fasilitas nukllir lainnya.
Kedua negara setuju untuk bekerjasama, mulai dari isu perubahan iklim hingga isu Korea Utara. Obama sendiri menjanjikan hubungan yang positif dan lebih menyeluruh dengan Beijing.
Kedua pemimpin juga mengatakan bahwa mereka akan bekerjasama untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan antara kedua negara setelah pembicaraan tersebut, yang menjadi pusat perhatian dari kunjungan Obama ke negara raksasa Asia tersebut.
Dalam pernyataan yang disampaikan di hadapan pers, Obama mengatakan bahwa kedua negara – yang merupakan dua negara utama "penyumbang" emisi gas rumah kaca terbesar – telah setuju untuk bekerjasama untuk mendapatkan hasil akhir yang baik dalam konferensi perubahan iklim PBB yang akan diselenggarakan di Kopenhagen pada bulan depan.
Harapan tampaknya semakin memudar dalam pernyataan mengenai cara untuk memerangi pemanasan global, menyusul pesimisme dalam konferensi Asia-Pasifik di singapura, dimana para pejabat mengatakan bahwa tidaklah realistis untuk mengharapkan para pemimpin dunia menyetujui kesepakatan yang bersifat mengikat di ibukota Denmark tersebut.
Namun Obama tampaknya mengisyaraktan bahwa masih ada kemungkinan untuk mencapai kesepakatan.
Mengenai masalah perdagangan, Hu mengatakan kepada para wartawan bahwa kedua kubu akan terus menjalin komunikasi untuk menyelesaikan perselisihan dalam bidang ekonomi dan perdagangan.
Dalam beberapa bulan terakhir, Washington telah membuat geram China dengan menerapkan tarif terhadap ban-ban buatan China, serta penerapan pajak terhadap sejumlah produk baja. Beijing membalas langkah tersebut dengan meluncurkan pemeriksaan domestik terhadap mobil dan daging ayam impor dari AS.
Perdagangan memang tampaknya menjadi agenda utama, menyusul aksi balas membalas antara kedua negara dalam beberapa bulan terakhir yang telah memantik tudingan bernada marah dari China. China menuding AS telah melakukan proteksionisme.
Mengenai masalah Tibet, sebuah isu yang sensitif bagi Beijing, Obama berkata, meski AS mengakui kedaulatan China di wilayah tersebut, AS juga berharap agar terjadi proses dialog antara perwakilan Dalai Lama dengan pemerintah China.
Obama kemudian berkunjung ke Kota Terlarang dan bertemu dengan juru bicara parlemen, wu Bangguo, sebelum menghadiri jamuan makan malam mewah dengan Presiden Hu. (dn/af/ay) www.suaramedia.com
Click Video












