Dalam laporan tahun 2011 yang disampaikan kepada kongres minggu lalu, komisi peninjau ulang kebijakan keamanan dan ekonomi AS - China mengatakan bahwa ada banyak bukti kuat yang mengindikasikan keterlibatan pemerintah China dalam kegiatan mata-mata cyber tersebut.
Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Qin Gang, mengatakan bahwa laporan tersebut hanyalah sebuah pemelintiran fakta yang ditujukan untuk menyerang China.
"Laporan ini benar-benar mengabaikan fakta, penuh bias dan mengandung motif tersembunyi," kata Qin dalam sebuah pernyataan singkat yang dipajang di situs Kementerian Luar Negeri China, tidak sampai satu minggu setelah Presiden Barack Obama merampungkan kunjungan resmi pertamanya ke China.
"Kami menyarankan kepada komisi semacam ini untuk tidak selalu memandang buruk China, dan tidak lagi mencampuri kebijakan internal China dan merusak hubungan China dan AS," tambahnya.
Pemerintah China membantah tudingan-tudingan tersebut.
Komisi AS yang memiliki 12 orang anggota tersebut didirikan pada tahun 2000 untuk menganalisis implikasi dari perdagangan dengan China yang terus tumbuh.
Beijing telah mulai memperluas kekhawatiran keamanan nasional terhadap kemungkinan bentrokan di Selat Taiwan, serta berbagai permasalahan di sekitar perbatasannya, demikian disebutkan dalam laporan setebal 367 halaman tersebut.
China merupakan negara yang paling agresif dalam melancarkan kegiatan spionase terhadap AS, kegiatan mata-mata tersebut difokuskan pada pengumpulan data dan cara untuk membantu perkembangan ekonomi dan modernisasi militer, tambah laporan tersebut.
Harian Independent Inggris beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa pemerintah China berada di bawah tekanan untuk menjawab tudingan bahwa pihaknya telah menjalankan jaringan besar mata-mata dunia maya yang meretas data-data rahasia yang tersimpan dalam komputer di 104 negara dan memonitor korespondensi yang dikirimkan oleh Dalai Lama.
Para peneliti di Inggris dan Kanada mengungkapkan keberadaan jaringan GhostNet yang bertugas mengumpulkan informasi dari pemerintah dan organisasi-organisasi swasta. Sejumlah peneliti mengatakan bahwa meski tidak ada bukti meyakinkan mengenai keterlibatan pemerintah China, namun banyak pihak lain yang secara langsung menuding pemerintah China.
Para pakar mengatakan bahwa besarnya jaringan tersebut benar-benar mengejutkan. Para peneliti mengatakan bahwa jaringan tersebut telah memata-matai isi komputer milik pemerintah-pemerintah di Eropa dan Asia Selatan, mempergunakan perangkat lunak yang canggih, jaringan tersebut mampu menyalakan fungsi kamera dan perekam suara dari sebuah komputer yang telah diretas, membuat mereka dapat melihat dan mendengar apa saja yang terjadi di sebuah ruangan.
Sekitar 1.300 unit komputer ditemukan telah berhasil dibobol. Komputer-komputer tersebut adalah milik kementerian luar negeri Iran, Bangladesh, Latvia, Indonesia, Filipina, Brunei, Barbados, dan Bhutan. Sistem komputer yang telah dibobol juga ditemukan di kedutaan besar India, Korea Selatan, Indonesia, Rumania, Thailand, Taiwan dan Pakistan.
Bukti yang paling banyak ditemukan adalah pada komputer-komputer yang dipergunakan oleh kantor Dalai Lama dan pemerintah Tibet yang terasing, yang berada di kota Dharamsala, Himalaya.
Kantor Dalai Lama awalnya mengontak para peneliti untuk membantu mereka di tengah kekhawatiran mengenai komputer-komputer mereka. Setelah memeriksa komputer-komputer tersebut, para peneliti menemukan bukti dari sebuah jaringan mata-mata yang lebih luas.
Pada tahun 2007, Inggris menuding China telah melakukan tindak mata-mata cyber terhadap perusahaan-perusahaan dan bank-bank besar. (dn/rt/ip) www.suaramedia.com














